Ilustrasi : Freepik
Iklan terakota

Oleh: Wadji*

Terakota.id–Sarvadharma  samabhav adalah ungkapan populer yang sering diucapkan oleh Mahatma Gandhi yang berarti “rasa hormat yang sama untuk semua agama”. Konsep pluralisme ini digunakan Gandhi untuk memadamkan perpecahan antara Muslim dan Hindu di India. Lebih jauh, bagi Gandhi, tangan yang melayani lebih suci daripada mulut yang berdoa.

Jauh sebelum Gandhi, para utusan Tuhan telah memberikan peringatan keras terhadap praktik kesalihan palsu. Yesus, misalnya, mengecam tindakan orang-orang munafik, sebab kamu sama seperti kuburan yang dilabur putih, yang sebelah luarnya memang bersih tampaknya, tetapi yang sebelah dalamnya penuh tulang-belulang dan pelbagai jenis kotoran (Matius 23:27).

Sumber perpecahan yang bermotif agama biasanya adalah karena tafsiran yang dipaksakan demi meraih keuntungan kelompoknya. Peran negara menjadi penting, yang seharusnya tidak perlu masuk dalam wilayah penafsiran, tetapi justru semestinya menjadi pengayom dan berdiri tegak di tengah, menjamin semua kelompok agama dan keyakinan mendapatkan pelayanan yang sama, tanpa diskriminasi.

Tiga hari sebelum Natal, Presiden Joko Widodo mengumumkan perombakan kabinet yang dipimpinnya. Tiap kali ada warna baru, ada beragam ekspresi yang ditunjukkan oleh masyarakat, ada yang sorak-sorai, mengungkapkan kegembiraan dan pengharapannya, namun tak sedikit yang nyinyir, berpikiran ngeres dan skeptis.

Dalam keterangan persnya setelah Presiden mengumumkan enam menteri barunya, Yaqut Cholil Qoumas menyatakan bahwa agama adalah inspirasi bukan aspirasi. Agama, kata Menteri Agama yang baru ini, sebisa mungkin tidak lagi dijadikan alat politik, baik untuk menentang pemerintah maupun merebut kekuasaan.

Tiap menjelang pemilu, agama selalu menjadi isu yang sangat menarik bagi sebagian politisi. Tuduhan sesat dan penodaan agama menjadi marak menjelang ritual lima tahunan itu. Ironisnya, tak sedikit oknum pemerintahan, termasuk dalam hal ini kementerian agama sendiri, turut bermain memoles isu tersebut.

Dilantiknya Gus Yaqut sebagai Menteri Agama membawa angin baru bagi kehidupan beragama dan perpolitikan tanah air. Akhir-akhir ini agama sudah masuk terlalu jauh dalam wilayah politik praktis, yang tidak lagi digunakan sebagai alat untuk mereformasi peradaban dan sarana memerbaiki akhlak manusia, namun yang terjadi justru sebaliknya, agama sudah cenderung sebagai faktor pemecah-belah bangsa. Menteri Agama juga mengungkapkan pentingnya ukhuwah Islamiyah (persaudaraan umat Islam), ukhuwah wathoniyah (persaudaraan sebangsa), dan ukhuwah insaniyah (persaudaraan sesama manusia)

Masuknya Sandiaga Salahuddin Uno sebagai Menteri Pariwisata dan Ekonomi Kreatif telah melengkapi tahapan rekonsiliasi dan menurunkan ketegangan politik pasca Pilpres 2019 yang aromanya masih menyengat seakan tak pernah pudar. Sebelumnya, Prabowo Subiyanto telah masuk dalam kabinet Jokowi sebagai Menteri Pertahanan. Bersatunya dua pasangan calon presiden dan calon wakil presiden dalam satu barisan, semakin meneguhkan harapan untuk membangun ukhuwah wathoniyah.

Pasca perombakan kabinet, deretan PR yang harus dikerjakan oleh pemerintah memang masih sangat panjang. Ditangkapnya dua menteri oleh Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK) setidaknya telah mengobati keraguan sebagian masyarakat akan keseriusan pemerintahan Joko Widodo dalam memberantas korupsi. Pemberantasan korupsi dan penegakan hukum yang seadil-adilnya adalah harapan seluruh warga bangsa dari satu pemerintahan ke pemerintahan berikutnya.

Korupsi dan ketidakadilan adalah musuh rohani yang sulit dilenyapkan dari muka bumi. Hampir 3.000 tahun yang lalu, Nabi Yesaya dengan suara lantang menyatakan: Para pemimpinmu adalah pemberontak dan bersekongkol dengan pencuri. Semuanya suka menerima suap  dan mengejar sogok. Mereka tidak membela hak anak-anak yatim, dan perkara janda-janda tidak sampai kepada mereka (Yesaya 1:23).

Yesus Kristus yang lahir di kandang domba bukanlah peristiwa kebetulan. Tuhan ingin menunjukkan kepada manusia tentang pentingnya kesederhanaan. Penderitaan dan ketidakadilan masih melanda sebagian besar penghuni bumi ini. Peristiwa semacam tidak hanya ditunjukkan kepada bangsa Israel pada saat itu, tetapi juga kepada bangsa-bangsa lain di permukaan bumi ini. Sidharta Budha Gautama, sekali pun lahir di dalam kemegahan istana, namun lebih memilih meninggalkan segala kewewahan dan melihat penderitaan rakyat kebanyakan. Nabi Muhammad dibesarkan dalam kondisi yatim-piatu.

Setiap utusan Tuhan memiliki misi mulia sebagai juru damai. Kedatangan para utusan Tuhan, termasuk Yesus tidak membawa ancaman bagi kehidupan politik, sekali pun disalahpahami oleh pemerintah pada saat itu dan ia memeroleh vonis hukuman salib dari penguasa, Pontius Pilatus. Kehadiran utusan Tuhan adalah untuk melepaskan belenggu-belenggu yang menjerat umat manusia dalam kungkungan nafsu dan keserakahan.

Dalam tradisi masyarakat Jawa untuk melepaskan belenggu itu disimbolkan dalam bentuk ruwatan. Kata “ruwat” memiliki makna “lepas”. Ruwatan berarti pelepasan. Dalam semua agama di dunia ini terdapat keyakinan bahwa ada inisiatif dari Yang Maha Kuasa untuk menyelamatkan manusia – yang memang sejak semula adalah penghuni “Taman Eden” – untuk kembali kepada fitratnya. Dalam tradisi ruwatan di Jawa, diceritakan bahwa Dewa Wisnu turun ke bumi sebagai Dalang Kandhabuwana, yang kelak meruwat manusia agar terbebas dari segala macam belenggu.

Dalam agama Hindu, setiap dunia ini mengalami kemerosotan moral, maka Dewa Wisnu akan turun, sebagaimana sabda Sang Krisna: Wahai Arjuna, ketika dharma, kebajikan, dan keadilan mengalami kemerosotan; dan adharma, kebatilan dan ketidakadilan merajalela, maka Aku menjelma. Guna melindungi para bijak, membinasakan mereka yang berbuat batil, dan meneguhkan kembali dharma, kebajikan – Aku menjelma dari masa ke masa (Bhagavat Gita 4:7-8).

Momen Natal bukan hanya sekadar mengenang lahirnya Sang Juru Selamat, namun yang lebih penting adalah menghidupkan spirit Sang Juru Selamat dalam hati sanubari masing-masing. Momentum Natal kita gunakan untuk instropeksi diri dan memulai menanam bibit-bibit kebajikan dari diri kita sendiri, dengan meruwat diri sendiri, melepaskan belenggu ego kita masing-masing, dan bersama-sama membangun negeri ini  dengan semangat kebersamaan. Selamat Natal dan selamat meresuffle diri sendiri.

*Doktor. Dosen Universitas PGRI Kanjuruhan Malang

**Pembaca Terakota.id bisa mengirim tulisan reportase, artikel, foto atau video tentang seni, budaya, sejarah dan perjalanan melalui surel : redaksi@terakota.id. Subjek_Terasiana_Nama_Judul. Tulisan yang menarik akan diterbitkan di kanal terasiana.