Nasib Petirtaan Merjosari Kota Malang  

Restu Respati dan Ahmad Rofi Uddin berada di situs Petirtaan Merjosari. (Foto : JJM)

Oleh : Restu Respati*

Terakota.id—Ada sebuah patirtaan Merjosari berada di Dusun Gandul, Kelurahan Merjosari, Kecamatan Lowokwaru, Kota Malang. Kami menyebutnya “Patirtaan Merjosari” lantaran berada di Kelurahan Merjosari. Keberadaan Patirtaan Merjosari pernah Jelajah Jejak Malang (JJM) laporkan ke Dinas Pariwisata dan Kebudayaan Kota Malang. Laporan ditembuskan ke Balai Pelestarian Cagar Budaya Jawa Timur dan Balai Arkeologi Yogyakarta pada Juni 2017.

Berdasarkan dari laporan itu, Dinas Pariwisata dan Kebudayaan Kota Malang, Balai Pelestarian Cagar Budaya Jawa Timur dan Balai Arkeologi Yogyakarta meninjau dan meneliti Patirtaan Merjosari. Penelitian dilakukan pada tahun yang sama. Hasil tinjauan dan penelitian arkeologis Balai Pelestarian Cagar Budaya Jawa Timur dan Balai Arkeologi Yogyakarta mengeluarkan rekomendasi untuk penanganan lebih lanjut terhadap situs.

Beberapa hal yang perlu dilakukan segera dan mendapat perhatian, antara lain perlu diberi batas atau pagar di sekeliling Petirtaan. Juga perlu dilakukan pembersihan lokasi tempat objek petirtaan. Serta perlu dilakukan kajian lanjutan.

Sebuah proyek pengerjaan jalan di sekitar situs Petirtaan Merjosari dikhawatirkan merusak situs. (Foto : Restu Respati).

Dua tahun telah berlalu dan belum ada penanganan sedikit pun. Sampai pada akhirnya pada 30 November 2019, Ahmad Rofi Uddin siswa kelas XII IPS SMA Islam Sabilurrosyad Pondok Pesantren Sabilurrosyad Gasek Malang mengunggah foto di Facebook. Foto menunjukkan kondisi Patirtaan Merjosari saat ini.

Kami pun meninjau ke lokasi bersama-sama pada Minggu 1 Desember 2019. Benar, Patirtaan Merjosari dalam kondisi mengkhawatirkan. Saat ini sedang berlangsung pembangunan jalan yang melintas tepat di samping situs menuju ke atas bukit (puthuk).

Pembangunan jalan itu dikhawatirkan menimbulkan longsor dan menutup situs. Apalagi jika tebing tidak kuat menyangga beban di atasnya. Keamanan situs terancam, karena lokasi menjadi terbuka. Sedangkan sampai saat ini belum ada pengamanan. Tak ada pagar.

Patirtaan yang berbentuk terasiring atau berundak bisa rusak. Yoni yang berupa pahatan pada dasar patirtaan dari tanah padas bisa rusak. Yoni seperti itu sangat jarang ditemui. Bata kuno dan artefak berupa yoni, lumpang batu dan batu bundar tersebar di lokasi bisa hilang. Keberadaan sumber mata air bisa mati jika pohon berkurang dan resapan air berkurang.

Untuk itu pihak terkait perlu segera memperhatian dan menanganai lebih lanjut. Terlebih Pemerintah Kota Malang beserta dinas yang membawahinya. Saat ini saja sudah terjadi penggalian tanah padas yang menembus ke yoni. Dikhawatirkan ada tindakan-tindakan lain yang bisa merusak keberadaan situs.

Ada pula kegiatan pengambilan air di patirtaan. Jika tidak ada arahan akan merusak situs. Terlihat ada selang besar yang terdapat di patirtaan.

Sebuah selang terhubung ke situs Petirtaan Merjosari Malang. (Foto : Restu Respati).

Kami sampai saat ini belum mengetahui secara pasti proyek tersebut dikerjakan institusi mana  dan pemanfaatan sebagai apa. Karena tidak ada satu pun papan keterangan yang menjelaskan keberadaan proyek tersebut.

*Koordinator Komunitas Sejarah Jelajah Jejak Malang

Tinggalkan Komentar

Silakan tulis komentar anda
Silakan tulis nama anda di sini