Penari Lengger Lanang, Rianto mengaku kerap mendapat pandangan sinis dan diskriminatif atas tarian lintas gender. Ia telah tampil di 30 Negara. (Foto: FIB Unsoed).
Iklan terakota

Terakota.id-Seorang penari Lengger Lanang, Rianto mengaku kerap mendapat pandangan sinis dan diskriminatif atas tarian lintas gender. Padahal Lengger, katanya, memberikan ruang untuk meleburkan dalam sisi femininin dan maskulin dalam dirinya. Atas dedikasinya, ia telah manggung hingga di 30 Negara di lima benua.

“Lengger bukan hanya sebuah produk seni tradisional, tapi sebuah lelaku spiritual. Dan itu, adalah sebuah capaian spiritualitas yang sangat tinggi,” kata Rianto dalam Webinar bertajuk “Lengger Lanang; Dulu, Kini, dan Nanti” yang diselenggarakan Laboratorium Sastra, Seni, dan Budaya (Labsasdaya), Fakultas Ilmu Budaya, Universitas Jenderal Soedirman Purwokerto pada Kamis, 28 Oktober 2021.

Rianto menjelaskan Lengger merupakan seni pertunjukan tradisional yang berangkat dan berkembang dari kalangan masyarakat jelata yang jauh dari hegemoni kekuasaan keraton. Setiap manusia, katanya, memiliki jiwa maskulin dan faminin. Seorang penari Lengger Lanang mampu meleburkan sisi maskulinitasnya ke dalam sisi feminimnya.

“Mengisyaratkan keseimbangan fungsi kehidupan, penyatuan antara alam fisik dan ruh,”  katanya. Untuk mampu meleburkan kedua sisi yang saling bertentangan dalam diri manusia, katanya, tidaklah mudah. Dibutuhkan penjiwaan yang dalam. Rianto berpesan agar masyatakat lebih memahami dan mencintai Lengger, dan jangan menghakimi.

Dosen jurusan Sastra Indonesia Fakultas Ilmu Budaya Unsoed, Lynda mengungkapkan sebagai bagian dari pelestarian Lengger, dibutuhkan rekonstruksi makna Lengger Lanang sebagai salah satu wujud mementaskan Lengger di panggung akademis. “Sebagai tarian lintas gender, Kesenian Lengger banyak mengalami terpaan pandangan diskriminatif dan sisnis khususnya dari sudut pandang agama,” katanya.

Sehingga membawa dampak semakin menyusutnya jumlah penari dan pertunjukan Lengger. Salah satu maestro penari Lengger, almarhum Dariah, pada masa hidupnya adalah sosok yang sangat terdampak atas stigma kurang baik terhadap Lengger Lanang. Ditambah pemerintah kurang memperhatikan nasib dan kesejahteraannya. “Lengger Lanang dekat dengan isu identitas, gender, dan resistensi sosial,” katanya.

Budayawan Banyumas, Yusmanto menjelaskan pertumbuhan dan perkembangan kesenian Lengger di Banyumas dibedakan berdasarkan fase perkembangan masyarakat Jawa. Terbagi dalam lima fase penting, yakni fase prasejarah, fase Hindu-Budha, fase Islam, fase kolonial, dan fase paska kemerdekaan.

“Lengger awalnya adalah tarian rakyat yang berfungsi sebagai sarana ritual persembahan bagi dewi kesuburan yaitu Dewi Pertiwi (Ibu Pertiwi),” katanya.  Usai kemerdekaan, Majelis Permusyawatan Rakyat (MPR) menerbitkan Garis Besar Haluan Negara (GBHN) pada 1971, yang juga memuat klausul kebudayaan nasional yang dimaknai sebagai puncak kebudayaan daerah. Di Banyumas, Lengger dianggap sebagai salah satu pertunjukan rakyat yang dapat mewakili pembentukan kebudayaan nasional.

Sehingga itu, pertunjukan rakyat yang sebelumnya terkubur oleh peristiwa revolusi kemudian dihadirkan kembali. Nama-nama pertunjukan seperti ledhek, tayub, tadhak, ronggeng, dhoger, dan janggrung dihilangkan dan digantikan dengan satu istilah Lengger. Lantaran istilah ledhek, tayub dan tandhak lebih mewakili kultur Jawa, sedangkan  janggrung dan dhoger dianggap sebagai pertunjukan hedonis di pasar-pasar malam. Selain itu, istilah ronggeng dianggap lebih dekat dengan kultur Sunda dan memiliki dosa keturunan berupa trademark prostitusi.

Dariah merupakan sosok Lengger Lanang yang secara total memaknai fitrah tubuhnya dan itu merupakan sebuah perjuangan dan pengorbanan yang luar biasa. Spirit Dariah menjadi landasan semangat para penari Lengger Lanang di masa kini untuk terus menunjukkan konsistensinya memperkenalkan Lengger Lanang bagian dari kekayaan budaya dan identitas Banyumas.

Sementara Dekan FIB Unsoed, Roch Widjatini menjelaskan Lengger Lanang merupakan salah satu wujud komitmen FIB secara aktif, mengenal, mengkaji, melestarikan, dan memanfaatkan potensi Budaya Banyumasan. “Lengger Lanang adalah sebuah produk budaya yang sangat penting untuk dilestarikan,” katanya.

Lengger Lanang merupakan sebuah ekspresi estetis wong Banyumas dalam bentuk tarian cross gender atau cross dressing (lintas gender dan busana). (Foto: FIB Unsoed).

Wakil Dekan bidang akademik FIB, Ely Triasih menyampaikan Fakultas Ilmu Budaya meperkenalkan Lengger Lanang kepada masyarakat internasional melalui mata kuliah internasional Lengger Lanang. Fakuktas Ilmu Budaya, dibantu International Relation Office (IRO) Unsoed berkomunikasi dengan perguruan tinggi di berbagai Negara dan mengundang mahasiswa internasional mengikuti kelas khusus. “Mereka bisa belajar Lengger Lanang baik secara teoritis maupun praktis,” katanya.

Ketua Panitia, Nisa Roiyasa mengatakan Lengger Lanang layak diangkap dalam seminar karena Lengger Lanang merupakan warisan asli Budaya Banyumasan. Sebuah ekspresi estetis wong Banyumas dalam bentuk tarian cross gender atau cross dressing (lintas gender dan busana). “Tarian ini sarat dengan nilai dan menyimpan banyak ruang bagi siapapun untuk melakukan kajian yang lebih mendalam,” ujarnya.

Usai webinar, digelar pertunjukan kolaborasi antar para narasumber. Rianto dan Lynda menari dengan gemulai dan lincah. Dirringi tetabuhan kendang oleh Yusmanto.

 

Tinggalkan Komentar

Silakan tulis komentar anda
Silakan tulis nama anda di sini