Narasi Pernikahan Kiai Ageng Muhammad Besari dengan Putri Kiai Donopuro Setono Ponorogo Sebuah Ironi Cacatnya Produksi Pengetahuan Sejarah

Kiai Ageng Muhammad Besari. (Foto: uinsuka.kmnu.or.id)
Iklan terakota

Oleh: Akhlis Syamsal Qomar*

Terakota.id-Penulis sebagai sejarawan sangat menyadari betapa pentingnya sumber dalam historiografi. Sumber sejarah menjadi penopang sekaligus pondasi penting dalam konstruksi narasi sejarah yang dihasilkan oleh sejarawan. Namun, sayangnya hal tersebut kurang disadari oleh tidak sedikit pegiat sejarah lokal amatir terkhusus-yang mohon maaf-tidak mengenyam pendidikan sejarah atau setidaknya menguasai metodologi sejarah yang sebenarnya bisa dipelajari secara otodidak.

Beberapa komunitas atau kumpulan pegiat sejarah yang penulis jumpai, yang secara berkala mengadakan pertemuan guna membahas apa saja yang bisa dibahas wabil khusus terkait sejarah sebagai menu utama. Seiring berjalannya waktu, penulis menyadari ada yang salah dalam proses produksi pengetahuan mereka, lagi-lagi soal narasi sejarah. Yup, mereka tidak mengindahkan metode sejarah dalam proses produksi pengetahuannya. Padahal, betapa pentingnya metode sejarah dalam kerja-kerja sejarah setali tiga uang dengan prosedur atau tahapan menanam benih padi hingga bisa dihidangkan di meja makan dalam bentuk nasi.

Menurut Kuntowijoyo (2005), dalam penulisan dengan menggunakan metode sejarah ada lima tahapan atau langkah, antara lain: pemilihan topik, pengumpulan sumber (heuristik), kritik sumber atau verifikasi (kritik sejarah, keabsahan sumber), interpretasi (analisis dan sintesis), dan penulisan (historiografi). Pemilihan topik merupakan langkah awal yang dibutuhkan dalam proses penulisan sejarah.

Dalam pemilihan topik dianjurkan mempertimbangkan waktu yang dibutuhkan dalam proses penelitiannya. Pengumpulan sumber (heuristik) adalah suatu proses kegiatan mencari, mengumpulkan atau menemukan sumber- sumber sejarah untuk menunjang keberadaan datadata yang konkret. Sumber sangat menentukan kualitas penulisan sejarah agar menghasilkan karya yang memiliki nilai akurat, autentik dan kredibilitas yang tinggi.

Tahapan selanjutnya setelah pengumpulan sumber-sumber yang dibutuhkan dalam penelitian adalah kritik sejarah untuk meverifikasi keabsahan sumber. kritik sumber merupakan usaha dalam mengolah dan menyaring sumbersumber yang telah dikumpulkan oleh peneliti. Kritik sumber dibagi menjadi dua yaitu kritik intern dan ekstern.

Interpretasi atau penafsiran adalah sebuah proses yang digunakan untuk kepentingan penafsiran fakta- fakta sejarah serta bagaimana proses sistematiak penyusunannya. Pada tahapan ini, peneliti dituntut cermat dengan data yang telah diperolehnya agat tidak terjadi kesalahan dalam penafsiran. Bagi seorang sejarawan yang jujur mestinya akan mencantumkan data dan keterangan dari mana dia mendapatkan data itu, sehingga orang lain dapat melihat sendiri dan menafsirkannya kembali dengan pemahamannya.

Langkah terakhir adalah historiografi yang dapat dimaknai sebagai sebuah rangkaian paparan, penggambaran, presentasi atau sebuah eksplanais penjelasan. Hasil dari adanya historiografi ini yang akan menjelaskan rekonstruksi sejarah yang masih tetap ada walaupun peristiwanya telah lama berlalu. Pada tahapan ini peneliti harus memperhatikan gaya penulisan dan penyajian, agar hasil penulisan sejarah dapat dipercayai oleh pembacanya.

Penulis ingin ketengahkan dalam tulisan ini soal proses pengumpulan sumber. Sumber yang akurat, autentik dan kredibilitas tinggi menjadi harga mati bagi sejarawan professional. Menurut Gottschalk (1975), sumber sejarah menurut wujudnya dapat digolongkan jadi tiga yaitu: sumber tertulis, sumber lisan, dan sumber benda (artefak). Tidak sedikit pegiat sejarah lebih akrab dengan sumber lisan salah satunya tradisi lisan.

Tradisi lisan dimaknai sebagai pesan atau kesaksian yang disampaikan secara turun-temurun dari satu generasi ke generasi berikutnya. Tradisi lisan dalam ilmu sejarah bukan sebagai sumber utama atau primer sebab ia rentan sekali terhadap pengurangan atau penambahan dari penuturnya. Kasus rentannya tradisi lisan terhadap pengurangan atau penambahan dari penuturnya, bukanlah tanpa solusi. Semakin banyak tradisi lisan yang diperoleh, maka penulis sejarah semakin mendapati benang merah dari narasi sejarah yang ada.

Kasus berbeda ketika munculnya narasi baru sejarah tanpa sumber jelas yang bisa dikonfirmasi. Salah satunya, munculnya narasi baru terkait pernikahan Kiai Ageng Muhammad Besari Tegalsari dengan putri Kiai Donopuro Setono Ponorogo. Sama sekali tidak ada keberatan bagi penulis terhadap munculnya narasi tersebut selama dihasilkan dari proses dan sumber sejarah yang memiliki nilai akurat, autentik dan kredibilitas tinggi. Pertanyaan yang muncul, benarkah narasi di atas dibangun dari sumber sejarah dengan tiga kriteria yang telah disebutkan? Sayangnya, hal tersebut tidak terjawab.

Beberapa hal yang perlu penulis utarakan disini: Pertama, merujuk “Sejarah Lan Silsilah Kiai Ageng Mohammad Besari Tegalsari Jetis Ponorogo Wafat Tahun 1747” yang diterbitkan oleh Panitiya Chaol Banu K. A. Mohammad Besari Tegalsari Jetis Ponorogo pada 1968, menuliskan adanya fragmen sejarah perjalanan Kiai Mohammad Besari dan sang adik, Kiai Nur Shodiq ke Dusun Ngasinan ketika masih mondok di Setono yang diasuh oleh Kiai Donopuro. Sekitar tiga atau empat tahun di Pesantren Setono dan menjadi pemuda yang alim dan mumpuni dalam keilmuan Islam, kedua bersaudara putra Kiai Ageng Anom Besari Kuncen Caruban tersebut mempunyai keinginan untuk berkeliling Ponorogo.

Kiai Mohammad Besari dan Kiai Nur Shodiq muda berjalan dari Setono ke selatan, hingga sampai di Dusun Ngasinan. Ketika sampai dusun tempat tinggal Kiai Nur Salim tersebut, Kiai Nur Shodiq muda mengalami kehausan dan menyampaikan hal tersebut kepada sang kakak, Kiai Muhammad Besari. Ketika itu masih jarang dijumpai sumur dan sumber air berupa belik, sehingga Kiai Muhammad Besari sowan dan matur kepada Kiai Nur Salim untuk meminta degan [kelapa muda] guna menghilangkan haus sang adik.

Mereka berdua diijinkan oleh Kiai Nur Salim untuk mengambil kelapa muda untuk diminum. Kelapa muda tersebut dipetik oleh Kiai Muhamamd Besari dengan cara menepuk pohon kelapa dan rontoklah semua bunga, kelapa baik yang masih muda dan yang sudah tua. Melihat apa yang dilakukan oleh Kiai Muhammad Besari muda, Kiai Nur Salim menasehatinya dan menunjukkan cara yang tepat memetik kelapa yang diinginkan tanpa merontokkan bunga dan kelapa yang lainnya.

Kiai Nur Salim mencoba mengajari kedua pemuda tersebut dengan cara mendekati pohon kelapa dan melambaikan tangannya ke atas sehingga pohon kelapa melengkung ke bawah dan ujung dari pohon menyentuh tanah sehingga Kiai Nur Salim dapat mengambil kelapa yang dibutuhkan. Sikat cerita, setelah mengetahui sama-sama memiliki kelebihan, Kiai Nur Salim bertanya nama dan asal kepada Kiai Muhammad Besari dan adiknya. Selanjutnya Kiai Muhammad Besari muda memperkenalkan diri dan adiknya serta asalnya dari Kuncen Caruban, yang tidak lain putra seorang Kiai Ageng Anom Besari.

Iare kekalih lajeng dipun ajak lelenggahan wonten griyo perlu omong-omongan. Akhiripun Mohammad Besari lajeng dipun pundut mantu dening Kiai Nur Salim. Sanget mateping penggalihipun Kiai Nur Salim anggenipun mundut mantu Mohammad Besari, Iajeng dusun ngriku dipun namekaken dusun Mantub, inggih punika saking tembung mantep. Salajengipun Kiai Nur Salim kasebat Kiai Ageng Mantub. Mohammad Besari lajeng kadaupaken kalian putranipun mbajeng estri, tenrus kaboyong dateng Setono.”

Penggalan di atas memuat informasi yang menjelaskan secara detail kronologi perjalanan Kiai Muhammad Besari ke Dusun Ngasinan hingga diambil menantu Kiai Nur Salim. Jadi bisa diambil kesimpulan bahwa ketika perjalanan ke Dusun Ngasinan, Kiai Muhammad Besari muda berstatus belum menikah. Kedua, pernikahan Kiai Ageng Muhammad Besari Tegalsari dengan putri Kiai Donopuro Setono Ponorogo merupakan narasi baru yang tidak pernah muncul dalam sumber-sumber terkait sejarah Tegalsari yang lebih tua selama ini.

Begitu juga dengan cerita tutur dari sesepuh keturunan Tegalsari bahwa narasi tersebut tidak pernah disebutkan dan diceritakan. Ketiga, dalam semua manuskrip yang penulis jumpai di Tegalsari dan sekitarnya, wabil khusus yang memuat konten sejarah Tegalsari tidak ada sama sekali penyebutan istri Kiai Ageng Muhammad Besari seorang putri dari Kiai Donopuro. Logikanya, tidak mungkin narasi pernikahan nenek-moyangnya-dalam hal ini dzurriyah Tegalsari-akan ditutupi sedemikian rupa oleh anak cucunya dikemudian hari.

Memang, tidak ada jaminan kepastian perihal narasi sejarah, sekalipun ilmu sejarah telah menyusun kaidah-kaidah ilmiah. Sementara pandangan-pandangan baru dan tawaran-tawaran narasi yang lebih kritis, tetap saja hanya sanggup menjadi salah satu varian dari beberapa versi yang tercatat ataupun ditemukan.

Namun, bukan menjadi dalih untuk mengisi lubang data dengan asumsi. Lebih baik tidak tau daripada mengarang pengetahuan. Kadang-kadang sebagian pegiat sejarah membuat asumsi yang dianggap sebagai data. Padahal, datalah yang membawa konklusi, bukan asumsi!

*Sejarawan muda tinggal di Madiun.

Pembaca Terakota.id bisa mengirim tulisan reportase, artikel, foto atau video tentang seni, budaya, sejarah dan perjalanan ke email : redaksi@terakota.id. Tulisan yang menarik akan diterbitkan di kanal terasiana.

1 KOMENTAR

Tinggalkan Komentar

Silakan tulis komentar anda
Silakan tulis nama anda di sini