Narasi “Menyesatkan” di Media Arus Utama

narasi-menyesatkan-di-media-arus-utama
Ilustrasi. (Photo by John Nowak/CNN)

Oleh : Frida Kusumastuti*

Terakota.id–Akhir-akhir ini intensitas terpaan berita “aneh-aneh” sering melintas di layar laptop saya. Baik dari berita streaming televisi maupun media online. Apalagi sosial media yang meneruskan berita dari media mainstream atau arus utama menjadi viral. Mengapa saya bilang “aneh-aneh?” karena media massa agaknya mulai melupakan prinsip jurnalisme dalam menurunkan berita-berita tersebut. Khususnya abai pada prinsip verifikasi.

Kita ambil contoh berita 17 Januari  2020 tentang kopi biji salak dari sebuah stasiun televisi nasional. Hampir tiga menit televisi yang menglaim sebagai televisi berita dengan bebas membuat narasi “menyesatkan.” Gambar proses pembuatan “kopi” biji salak diselingi dengan pengakuan “sang penemu” tentang pengalaman sakit yang diderita ibunya “sembuh” karena meminum racikan “kopi” biji salak. Ditambah pula testimoni salah satu pelanggan tentang rasa minuman tersebut.

Dalam tayangan, tampak produk dikemas khusus beberapa karyawan untuk melayani para pelanggan.  Sayangnya hingga tayangan selesai, kita tidak mendapatkan penjelasan akan klaim tersebut dari para ahli atau pemegang otoritas produk dagang Makanan dan Minuman.

Bahkan jurnalisme televisi tersebut, mengabaikan pendidikan pada masyarakat bahwa untuk produk yang diklaim “bisa menyembuhkan penyakit.”Mestinya harus melalui prosedur sebagai produk obat-obatan, bukan lagi produk makanan dan minuman.

Fenomena “pengobatan alternatif” maupun klaim pengalaman sakit dan penyembuhan memang merupakan fakta atau kebenaran di tengah masyarakat kita. Namun media massa tidak cukup hanya menyajikan sepotong kebenaran seperti itu.

Selain budaya yang menyangkut kepercayaan, kondisi penyakit, akses masyarakat yang terbatas untuk mendapatkan penanganan ahli. Serta kondisi psikologis si sakit dan keluarganya bisa sebagai pencetus mengapa masyarakat kita lebih suka memburu pengobatan alternatif.

Namun media massa mestinya tidak serta merta menjadikan hal tersebut sebagai kodifikasi mendapatkan materi-materi liputan untuk medianya. Baik itu dalam bentuk features, straight news, maupun dalam bentuk spot news sekalipun.

Prinsip Jurnalisme yang Terabaikan.

Bill Kovach dan Tom Resenstiel melalui buku The Element of Journalism memberi pedoman sembilan elemen yang perlu dipatuhi dalam kerja jurnalistik. Sembilan elemen itu harus selalu melekat. Dua elemen yang relevan dengan maraknya berita-berita pengobatan alternatif dan fenomena perilaku masyarakat adalah elemen loyalitas keberpihakan jurnalisme pada warga masyarakat dan disiplin melakukan verifikasi.

narasi-menyesatkan-di-media-arus-utama
Ilustrasi. (Kemkes.go.id).

Keberpihakan pada warga masyarakat bukan semata-mata kebenaran tunggal oleh warga, atau dimana warga menjadi sumber berita semata. Keberpihakan ini adalah suatu tugas suci jurnalisme,  yaitu membuat masyarakat berdaya. Tersalurkan aspirasi dan kepentingannya.

Media massa adalah saluran bagi pihak yang tidak memiliki kekuasaan dominan. Pencapaian dalam hidup seseorang anggota warga masyarakat adalah sumber inspirasi bagi yang lain. Berita tentang pencapaian itu merupakan salah satu penghargaan bagi pihak yang mencapainya.

Disinilah media massa berpihak pada warga. Bahwa sejauh ini seolah prestasi hanya melekat pada mereka yang intelek, dan memiliki ilmu pengetahuan, atau hanya terjadi pada kaum elit lain. Kadang mengabaikan bahwa masyarakat juga memiliki pengalaman yang layak untuk diperhitungkan.

Sementara itu elemen disiplin dengan verifikasi menyangkut ukuran profesional. Metode menngungkap dan menyajikan fakta mesti cermat, dan adil. Menghadirkan saksi yang relevan, komentar sumber yang terpercaya, menyingkap beberapa fakta yang menguatkan maupun melemahkan sebuah realitas juga penting dilakukan. Audiens memiliki hak untuk mendapatkan tayangan atau berita yang berkwalitas.

Peran KPI dan Organisasi Profesi.

Sebagai warga dan sekaligus sebagai audiens, saya merasa kecewa dengan apa yang terjadi dengan tayangan-tayangan seperti di awal tulisan saya paparkan. Terlepas dari tayangan itu menarik perhatian, masih perlu kelengkapan untuk menjadi karya jurnalisme yang mencerahkan.

Harapan kedepan hal-hal seperti itu juga menjadi perhatian Komisi Penyiaran Indonesia (KPI) maupun organisasi profesi jurnalis atau organisasi profesi wartawan. Lembaga ombusdman perlu dihidupkan kembali. Pelatihan dan Pendidikan jurnalisme perlu menjadi bekal bagi para jurnalis dan insan media massa. Terutama adalah ghirah atau semangat menjadi jurnalis yang profetik perlu disokong oleh lembaga-lembaga media massa.

* Penulis adalah dosen Ilmu Komunikasi FISIP Universitas Muhammadiyah Malang

Pembaca Terakota.id bisa mengirim tulisan reportase, artikel, foto atau video tentang seni, budaya, sejarah dan perjalanan ke email : redaksi@terakota.id. Tulisan yang menarik akan diterbitkan di kanal terasiana.

Tinggalkan Komentar

Silakan tulis komentar anda
Silakan tulis nama anda di sini