Narasi dari Panggung Panji

Oleh: Prasto Wardoyo

Terakota.id-Senja jatuh di Dusun Kedungmonggo, Desa Karangpandan, Kecamatan Pakisaji, Kabupaten Malang. Temaram lampu bersinar dari rumah warga, seolah ingin melawan mendung yang menggantung. Jendela rumah warga mulai ditutup, desa itu mulai istirahat. Usai seharian warga bekerja di sawah atau ladang. Namun di ujung jalan Prajurit Slamet, sebuah keramaian baru saja dimulai.

Sebuah padepokan yang berdiri di atas tanah seluas 1000 meter persegi di ujung jalan itu anak-anak, dan orang tua meriung. Sejumlah orang dewasa memakaikan kostum tari kepada belasan anak usia sekolah dasar. Setagen dan sampur atau selendang tari melilit di tubuh belia. Terakhir, gongseng, untaian lonceng kecil dipasang di kaki mungil. Kini, sesekali lonceng itu berdenting halus seiring langkah yang tak gegas tanpa riasan wajah. Pemain topeng malang memang tak butuh riasan, karena mereka mengenakan topeng saat pentas panggung. Dua jam lagi, drama tari topeng malangan dengan lakon “Sayembara Sodolanang” akan digelar.

Kesibukan lain terlihat juga di pendopo, beberapa langkah dari bangunan padepokan. Pendopo seluas dua kali lapangan bola volu dengan tinggi lantai sekitar 60 centimeter ini, adalah tempat pementasan. Di sisi belakang, terdapat ruangan yang bagian depannya menjadi latar panggung. Selain tempat ganti penari, ruangan ini juga digunakan untuk menyimpan perangkat gamelan.

Salah satu adegan dalam pementasan drama tari topeng lakon sayembara sada lanang di Padepokan Asmorobangun, Kedungmonggo, Pakisaji. (Foto: Prasto Wardoyo)

Sejumlah orang niyaga (penabuh gamelan) mengeluarkan seperangkat alat musik bernada pentatonik. Kita mengenalnya sebagai kendang, bonang, slenthem, demung, saron reking, gong, dan kenong ditata di atas panggung kecil tidak permanen dari kayu yang didirikan di sayap kanan bangunan pendapa. Gamelan diam itu sebentar lagi akan memecah malam yang pelan turun.

Pecah malam itu diawali dengan aroma dupa dan khusyuk doa sang dalang, ritual senyap mengawali keriuhan gebyak (pagelaran wayang topeng). Udara membawa doa yang membumbung tinggi, memohon kepada Yang Kuasa agar pagelaran drama tari berjalan tanpa gangguan.

Gamelan pun ditabuh. Tak lama, tirai warna hitam di belakang panggung tersibak dibarengi kemunculan 5 penari topeng cilik di tengah pentas menarikan Tari Sekarsari. Gelaran awal sebelum babakan dramatari dengan kisah Panji digelar. Tariannya trengginas diiringi harmoni gamelan Jawa Timur-an yang rancak menghentak.

Usai tarian, sang dalang mulai membabar cerita. Dialog antartokoh dinarasikan dalam bahasa Jawa. Sebagaimana wayang kulit, pemeran tokoh hanya menggerak-gerakan tangan dan kepala selayak orang berdialog. Keseluruhan dialog semuanya dilakukan oleh dalang. Satu jam kemudian, pertunjukkan pun usai.

Dari Generasi Ke Generasi

Menurut Suroso salah seorang penerus topeng Kedungmonggo, gebyak topeng malangan dimulai sejak tahun 1985 oleh Karimoen dan Taslan Harsono, kakek dan ayahnya. Gebyak dilakukan setiap malam Senin Legi dalam hitungan penanggalan Jawa. Hari yang terkait dengan kelahiran dusun Kedungmonggo. Gebyak Senin Legi-an ini sempat terhenti pada 1992 setelah Taslan Harsono meninggal. Namun pada tahun 1995 berhasil dihidupkan kembali.

Meski minim dukungan dari pemerintah setempat , tak mematahkan semangat keluarga Karimoen melestarikan topeng malang. Bahkan setelah Karimoen meninggal pada 2010 dalam usia 90 tahun lebih. Kepergian mendiang yang dinobatkan pemerintah pusat sebagai Maestro Topeng Malang pada 2007 ini tak memadamkan upaya pelestarian. Sebaliknya,  malah memberi daya dorong dengan wasiat yang ditinggalkannya.

Handoyo, pelestari topeng malangan di Padepokan Asmorobangun, Kedungmonggo. (Foto: Prasto Wardoyo)

Handoyo, salah seorang cucu Karimoen yang lain, setiap hari Minggu pagi mengadakan latihan tari topeng bagi anak-anak yang diajarkan tanpa pungutan biaya. Demikian juga dengan latihan karawitan yang diadakan tiga kali dalam seminggu, dilakukan secara gratis.

Untuk menghidupi padepokan topeng malang Asmorobangun, Handoyo tidak bisa mengandalkan dari honor pentas yang frekuensinya tidak jelas. Selain menerima pesanan, dibantu beberapa tenaga pengrajin, dirinya secara aktif memproduksi topeng malang mulai proses awal sampai akhir. Enam tokoh utama dalam cerita Panji yang kerap dirautnya setiap hari. Sebut saja Panji Asmorobangun, Dewi Sekartaji, Raden Gunungsari, Dewi Ragil Kuning, Klana, dan Bapang. Harganya bisa menembus angka Rp 500 ribu tiap topeng,  tergantung tingkat kerumitan dan kayu yang digunakan.

Topeng biasaya terbuat dari kayu jati, salam, sawo, sengon, kembang, dan berbagai jenis kayu lainnya. Proses pembuatan topeng bisa memakan waktu antara 3 hari sampai seminggu. Selain membuat topeng dengan standar pentas, Handoyo juga membuat topeng tokoh-tokoh lakon Panji ukuran mini sebagai gantungan kunci.

Jejak Sejarah Topeng Malangan    

Tak jelas mulai kapan seni pertunjukkan topeng mulai dipentaskan di wilayah Malang. Seorang penulis Belanda yang lama mukim di Indonesia, Th Pigeaud mencatat sekitar 1928 sudah terdapat  21 koleksi topeng. Sejumlah nama penari terkenal yang berdiam di Desa Pucangsongo, Kawedanan Tumpang juga tertera dalam catatannya bertahun 1938 itu.

Bahkan sementara pihak mengklaim, bahwa topeng malang merupakan tradisi tak terputus sejak zaman Kerajaan Singhasari. Robby Hidajat, seorang peneliti topeng malang mengungkapkan, bahwa tradisi menceritakan melalui gerak sudah ada sejak jaman Majapahit. Robby menduga, munculnya tradisi bercerita lewat gerak ini terkait dengan adanya pergeseran kepercayaan pada masa itu. Dalam versi Hindu Majapahit, dewa utama bukanlah Brahma melainkan Syiwa, Tatkala mencipta, Syiwa tidak menggunakan lisan tapi gerakan.

Robby Hidajat menambahkan, tradisi cerita lewat gerak pada masa itu ada tiga bentuk. Pertama adalah Raket yang mengangkat cerita soal panji. Cerita panji berasal dari Jawa periode klasik era Kerajaan Kadiri yang bertemakan kepahlawanan dan cinta, Tokoh utamanya adalah Raden Inu Kertapati (Panji Asmarabangun) dan Dewi Sekartaji (Galuh Candra kirana). Konon, jenis kesenian yang pemainnya menggunakan topeng ini, yang bertahan di Jawa Timur. Yang kedua disebut gambuh, yang dipercaya masih bertahan di Bali dan terakhir adalah Wayang Wang, yang oleh sementara pihak diyakini bertahan di Jawa Tengah hingga kini.

Sukani, pengrajin topeng malang di Kecamatanatan Tumpang. (Foto: Prasto Wardoyo)

Dulu, perkumpulan topeng malang jumlahnya konon sempat menembus angka 200 dengan sebaran Malang Raya. Hal ini pernah disampaikan oleh Karimoen kepada Soleh Adi Pramono, pemimpin padepokan seni Mangun Dharma, Tumpang. Seiring berjalannya waktu, perkumpulan, penari dan pembuat topeng malang jumlahnya menyusut drastis. Padepokan seni Mangun Dharma adalah salah satu yang bertahan dari gerusan zaman. Berbeda dari topeng malangan wilayah Malang Barat-Selatan sebagaimana Kedungmonggo, gerakan tari topeng di Tumpang yang masuk wilayah Malang Timur gerakan tariannya terasa lebih halus. Bisa jadi, gerakan di Kedungmonggo lebih trengginas karena pengaruh darah Madura yang mengalir dalam diri Karimoen.

Meski asap wangi dupa dari cara berdoa berbaur dengan rancak tetabuhan gamelan, namun topeng malangan saat ini tetaplah dominan dengan aroma seni pertunjukan. Padepokan Asmorobangun di Kedungmonggo dengan gebyak malam Senin Legi dan produksi topeng malangannya  atau Padepokan Seni Mangun Dharma di Tumpang adalah enklav budaya yang layak disambangi untuk memperkaya dan mempertautkan diri dengan kejayaan Nusantara masa lampau.

 

2 KOMENTAR

Tinggalkan Pesan