Namanya Juga Selebritas

Ilustrasi : CNBC Indonesia

Terakota.id–Namanya juga selebritas, tidak bisa disamakan dengan orang yang bukan selebritas. Ukurannya tentu beda. Kegiatannya beda. Target yang dilakukan juga tak sama. Yang selebritas membutuhkan popularitas. Tak sedikit diantara selebritas justru populer karena kasus-kasus yang membuat dia diberitakan.

Namanya juga selebritas. Awal  mau meniti karir mendekati banyak wartawan. Biar diberitakan. Kalau perlu membuat aktivitas yang punya nilai untuk diliput media. Kasus kontroversial pun tak masalah.

Namanya juga selebritas. Begitu terkenal umumnya mengambil jarak dengan wartawan. Karena takut aib-aibnya diberitakan. Padahal aib-aib itu yang membuat ya dirinya sendiri. Wartawan cuma mengolah fakta-fakta yang ada untuk diberitakan. Namanya juga selebritas. Ia selalu dekat dengan publikasi.

Namanya juga selebritas. Tentu ia punya followers yang banyak. Tentu saja setelah ia dikenal. Setiap kegiatannya akan mengundang orang untuk menontonnya. Untuk membaca beritanya. Untuk mendengarkan obrolannya.

Ya namanya juga selebritas. Mengajari orang lain menyetir mobil bisa jadi banyak yang menonton di Youtube. Cuma makan di warung bisa menjadi viral. Makan cilok misalnya bisa jadi viral. Cuma omong sekejap saja bisa menjadi sumber informasi masyarakat.

Tidak percaya? Cek akun media sosialnya. Kita lihat di Instagram (IG) untuk artis internasional. Ariana Grande punya 176 juta followers, menyusul Taylor Swift (127 juta followers), Selena Gomez (169 juta followers), Kylia Jenner (164 juta followers),  dan Kim Kardashian (161 juta followers).

Namanya juga selebritas. Setelah muncul pandemi covid-19 bukan maredup karirnya. Mereka ada yang semakin populer. Banyak yang berputar arah menjadi youtuber. Isinya yang ringan-ringan saja. Coba kita simak selebritas yang sekaligus menjadi youtuber di Indonesia. Saat saya googling hasilnya sungguh fantastis. Setidaknya data yang saya temukan pada pertengahan tahun 2021.

Popularitas

Selebritas Indonesia yang mempunyai subscribers terbanyak adalah Baim Wong dan Paula Verhoeven.  Mereka memiliki 14,5 juta subscribers dengan 741 video yang diunggah di youtube. Mereka juga mempunyai akun lain (Bapau Family) dengan 3 juta subscribers. Sebagai youtuber, Baim Wong berpenghasilan Rp 800 juta sampai 12 miliar rupiah per bulan.

Di bawahnya ada Raffi Ahmad (punya Rans Entertainment dan Rans Music). Penghasilan per bulannya mencapai Rp 600 ribu sampai 9,6 miliar rupiah. Raffi pernah mendapatkan penghargaan dari MURI saat melakukan live streaming  selama 30 jam.

Lalu ada Andre Taulany. Ia mengunggah video-video kocak. Taulany TV mempunyai 3,6 juta subscribers. Mantan penyanyi dan pelawak ini jumlah pendapatannya  sekitar Rp 423 juta hingga Rp 6,8 miliar rupiah  per bulan.

Ada juga mantan pesulap Deddy Cahyani atau Deddy Corbuzier yang ikut bersaing dengan selebritas lainnya. Akun youtubenya meraih 10 juta subscribers dengan 613 video. Diperkirakan per bulannya mearih keuntungan sekitar Rp 476 jutahingga 7,6 miliar rupiah.

Kemudian ada Panji Petualang yang menduduki peringkat 29 daftar channel Youtube berpenghasilan tinggi di Indonesia (atau ranking ke-5 dalam jajaran selebritas).  Dengan ular kesayangannya bernama Garaga, berhasl meraih lebih dari 7 juta subscribers. Keuntungan dari youtuber mencapai Rp 295 juta sampai Rp 4,7 miliar rupiah. Fantastis bukan?

Raffi Ahmad

Diantara selebritas di atas, nama  Raffi Ahmad sedang  naik daun. Itu lantaran ia terpilih untuk menerima vaksin bersamaan dengan presiden Joko Widodo (Jokowi) 13 Januari 2021. Artis yang punya subscribers dan followers jutaan itu dipilih tentu karena popularitasnya.

Namanya juga selebritas. Saat terpilih sebagai penerima vaksin ia melakukan kesalahan vatal. Setelah divaksin ia diketahui menghadiri pesta. Pesta yang dihadiri juga oleh Anya Geraldine, Gading Marten, Raffi Ahmad, Nagita Slavina, Sean Gelael, komika Uus, Aurélie Moeremans, Once Mekel, Basuki Tjahaja Purnama (Ahok)  itu diketahui dan disebar melalui media sosial tanpa melakukan protokol kesehatan (Prokes).  Di sinilah pangkal mulanya.

Namanya juga selebritas. Setelah diketahui melakukan kesalahan itu, Raffi Ahmad meminta maaf. Ia juga ditegur “Istana”. Tetapi tuntutan publik agar Raffi diadili. Ia dianggap melanggar hukum Pergub Provinsi DKI nomor 3 tahun 2021 tentang Penanggulangan Corona Virus Disease 2019, Peraturan Daerah Provinsi DKI Jakarta nomor 2 tahun 2020 tentang Penaggulangan Covid-19 dan Undang-Undang nomor 6 tahun 2018 tentang Kekarantinaan Kesehatan.

Namanya juga selebritas. Yang dikhawatirkan ia memberikan contoh buruk pada followersnya. Ia memberikan contoh menganggap enteng virus Covid-19. Kalau hanya dia bisa jadi tidak masalah, bagaimana jika diikuti oleh followersnya? Ini yang menjadi kekhawatiran banyak pihak. Namun Raffi Ahmad tetap populer meski diprotes. Namanya juga selebritas. Semakin diprotes semakin  terkenal.

Dampak buruknya akan memberikan contoh bahwa kalau seseorang sudah divaksin sudah kebal. Padahal vaksinasi hanya berusaha untuk memperkuat daya tahan  tubuh dari serangan virus. Seseorang tidak serta merta bebas berkeliaran dan menganggap diri sudah kebal virus. Itu contoh yang tidak baik untuk seorang selebritas.

Namanya juga selebritas. Ia  menjadi sorotan banyak orang. Hal itu berbanding lurus kedudukannya sebagai seorang pesohor. Ia populer. Dikenal banyak orang. Saat melakukan kesalahan tentu juga akan disorot. Ini tentu beda jika yang melakukan “orang kebanyakan”. Namanya juga selebritas, bukan? Sekecil apapun, baik atau buruk akan menjadi sorotan. Ini sudah risiko seorang selebritas.

Masalahnya menjadi lain karena ia influencer pemerintah. Ia dikehendaki pemerintah. Maka apapun yang dilakukan seorang selebritas yang berhubungan dengan kekuasaan pemerintah akan menjadi aman dan terlindungi. Tentu akan berbeda jika yang melakukan orang  biasa.  Maka biar aman berdekatanlah dengan kekuasaan. Kesalahan tertentu akan dimaafkan atau akan aman karena hukum memang tajam ke bawah dan tumpul ke atas.

Pemilihan selebritas yang sebenarnya tak punya kapasitas dan tepat menjadi contoh atas persoalan serius Covid-19  sangat serius. Selebritas hanya diandalkan popularitas. Soal perilaku belum tentu.

Namun dari sini kita bisa punya pelajaran penting bahwa pemerintah selama ini memang  menitikberatkan pada pencitraan. Buktinya, mengapa harus mengangkat para influencer untuk mendukung program pemerintah? Mengapa harus mengangkat selebritas untuk menjadi duta vaksin, misalnya?

Kasus Raffi Ahmad menyadarkan banyak pihak. Bahwa apa yang dilakukan pemerintah selama ini  memang hanya sebatas seremonial dengan publikasi yang heboh. Ini semakin membuka mata masyarakat soal kebijakan publik yang lebih memilih popularitas daripada susbtansial – juga semakin terbuka di mata publik bahwa penanganan Covid-19 selama ini lebih  menekankan kepentingan ekonomi daripada soal kemanusiaan.

Mengapa tidak memilih orang-orang yang punya kapasitas untuk dijadikan contoh vaksinasi? Memilih selebritas menunjukkan bahwa kebijakan yang dipilih lebih mementingkan hiruk pikuk dan popularitas. Sebaiknya pemerintah mulai mengaca diri terkait penanganan pandemi Covid-19 yang belum menunjukkan tanda-tanda bisa teratasi. Ini bukan tidak suka pada pemerintah, tetapi ini masukan penting bagi kepentingan kemanusiaan. Kasus yang menimpa Raffi Ahmad telah membuka mata banyak pihak. Sedikit banyak kita beruntung  punya selebritas sepopuler Raffi Ahmad.

 

Tinggalkan Komentar

Silakan tulis komentar anda
Silakan tulis nama anda di sini