Musisi Asia Tenggara Hadirkan Soundscape Unik dan Khas

musisi-asia-tenggara-hadirkan-soundscape-unik-dan-khas
Ilustrasi Visual Utama Medan : Groupe Dejour.

Terakota.id–Pusat kebudayaan Jerman Goethe-Institut meluncurkan proyek digital Sound of X. Sebuah inisiatif yang menyajikan video bunyi lingkungan (soundscape) yang diciptakan musisi dan seniman Asia Tenggara. Termasuk musisi dari Medan, Indonesia. Menggunakan bunyi, kebisingan, dan akustik sebagai dasar untuk menafsir ulang terhadap kota.

Para musisi dan seniman mengeksplorasi lingkungan sonik masing-masing dengan menggunakan cara unik terhubung kembali dengan kota dan ruang. Khususnya setelah pandemi COVID-19, memaksa setiap orang di seluruh dunia mengisolasi diri.

Karya video soundscape bisa diakses dengan bebas di www.goethe.de/soundofx dan kanal media sosial Goethe-Institut. Sound of X diprakarsai Goethe-Institut sebagai proyek internasional dengan fokus Asia Tenggara, sebelum krisis virus corona merebak.

Sejumlah seniman berbagai kota di Asia Tenggara, Australia, dan Selandia Baru menyajikan karya yang meninjau latar bebunyian kota yang terabaikan. Serta musikalitas kehidupan sehari-hari yang membeberkan kekhasan rajutan sosialnya.

Di tengah masa isolasi, pembatasan sosial, dan restriksi perjalanan yang ketat, Sound of X menawarkan cara yang unik untuk menjelajahi tempat  berbeda. Musisi dan artis dari Medan, Singapura, Kuala Lumpur, Sydney, Manila dan kota lain mengeksplorasi kebisingan, bunyi, dan bagaimana orang mendengarkan dengan cara berbeda.

musisi-asia-tenggara-hadirkan-soundscape-unik-dan-khas
Visual Singapura_Sound of X :Taufiq Jaafar

Perspektif tidak lazim diusung para seniman dan musisi. Kontras hal yang lazim diangkat dalam promosi pariwisata di media sosial. Pimpinan proyek Sound of X sekaligus Kepala Goethe-Institut Singapura, Han-Song Hiltmann mengatakan budaya digital dan media sosial telah menimbulkan pergeseran ke ranah visual. Sering kali, katanya,  kita tidak dapat membangun hubungan yang sungguh-sungguh dengan apa yang ditampilkan.

“Pada saat budaya layar semakin menggerus kepekaan, para seniman Sound of X menyajikan pendekatan alternatif terhadap persepsi visual dan akustik,” ujarnya dalam suaran pers yang diterima Terakota.id.

Dalam konteks lingkungan urban kita, ujar Han, bebunyian bisa timbul dari kebisingan sekitar meskipun tidak kasat mata menjadi penyatu untuk banyak hal. Musikalitas kehidupan sehari-hari dan latar bebunyian sebuah kota yang sering diabaikan. Namun menyingkap atau pun mencerminkan rajutan sosialnya yang khas.

Kontras dan Nostalgia Medan

Nostalgia perjalanan melintasi kota terbesar ketiga di Indonesia, Medan meninggalkan satu kesan khusus. Yaitu kesan mengenai kota yang sedang tumbuh, dan beragam hal suku, budaya dan agama. Kekhasan Medan dapat ditemui dalam berbagai kontras, ada rumah besar yang berdampingan dengan pondok kayu yang sederhana, masjid yang berdampingan dengan gereja atau kuil, bersih dan kotor, bising dan tenteram, kaya dan miskin, gaya Asia dan gaya global, modern dan belum berkembang.

Itulah konsep untuk Sound of Medan yang disajikan dalam video soundscape berjudul “nostalgic contrast” (kontras-kontras nostalgia). Menangkap keberagaman yang melimpah dan membuat kontras itu dipahami melalui ekspresi artistik dua seniman muda Medan, Rani Fitriana Jambak (desainer bunyi) dan Evi Ovtiana (pembuat film) dan Matthias Jochmann (produser).

Rani dan Evi mewakili generasi muda seniman Indonesia yang berupaya menggabungkan kontras dan kontradiksi. Dengan mengembangkan pendekatan artistik baru dalam rangka menemukan cara ekspresi khas mereka sendiri.

“Kami menyajikan Medan yang sesungguhnya,” kata Evi. Terdapat banyak kontras yang dilihat. Biasanya, katanya, orang hanya melihat dengan sisi positif saja. Sementara dalam proyek ini, Medan dilihat secara kontras antara sisi positif dan sisi negatif. Jadi  selama ini, tidak hanya melihat sisi baiknya Medan.

“Di sini semua ada, kami sajikan kontrasnya kota Medan,” ujar Evi.

Sementara dua musisi yang tergabung dalam duet artistik NADA mengajak seniman media Brandon Tay mengeksplorasi alam sebagai tempat merindu di negara kota Singapura yang sangat urban.  Dalam pencarian manusia kera yang legendaris di Cagar Alam Bukit Timah, mereka memanfaatkan bunyi dan citra untuk menyajikan hubungan ambivalen Singapura dengan alam.

Getaran pusat kota Kuala Lumpur Eksplorasi film dan foto duet artistik Another Universe di Kuala Lumpur membawa mereka ke bagian kota yang sering kali diabaikan. Kebanyakan masyarakat tidak sadar jika semua berawal dari bagian lama Kuala Lumpur.

musisi-asia-tenggara-hadirkan-soundscape-unik-dan-khas
Visual Kuala Lumpur_Artist duo Another Universe : Razlan Yusof

“Sampai sekarang tetap penting untuk perdagangan,” katanya. Banyak buruh migran masih tinggal dan mengisyaratkan bagaimana kota berawal. Orang datang dari berbagai tempat untuk mencari kehidupan yang lebih baik.

 

1 KOMENTAR

Tinggalkan Komentar

Silakan tulis komentar anda
Silakan tulis nama anda di sini