Musik dan Narasi Politik

Lagu "Lir Ilir", misalnya, yang merupakan salah-satu mahakarya wali songo tidak saja mempunyai keindahan ritmis tetapi juga kedalaman maknawi, yang menumbuhkan dan meninggikan spirit kemanusiaan, mengajak pelantun dan pendengar lagu tidak hanya berdendang tapi juga menyelami kehidupan.

Oleh : Haris El Mahdi⁠⁠⁠⁠*

Terakota.id–Dalam otobiografinya di bawah judul Ecce Homo, seperti dikutip Julian Young, “Filsuf raksasa” Jerman, Friedrich Nietzsche menarasikan musik dengan uraian yang mendalam, sebagai berikut :

“God has given us music so that above all it can lead us upwards. Music unites all qualities: it can exalt us, divert us, cheer us up, or break the hardest of hearts with the softest of its melancholy tones. But its principal task is to lead our thoughts to higher things, to elevate, even to make us tremble… The musical art often speaks in sounds more penetrating than the words of poetry, and takes hold of the most hidden crevices of the heart… Song elevates our being and leads us to the good and the true. If, however, music serves only as a diversion or as a kind of vain ostentation it is sinful and harmful.”

(Tuhan telah memberi kita musik, yang di atas segalanya itu, sanggup membawa kita menanjak-menaik (secara spiritual-pen). Musik menyatukan semua kualitas: dapat meninggikan kita, mengalihkan kita, menghibur kita, atau menghancurkan hati yang paling keras dengan nada melankolis yang paling lembut. Tapi tugas utamanya adalah mengarahkan pikiran ke hal-hal yang lebih tinggi, mengangkat, bahkan membuat kita bergetar … Seni musikal sering kali terdengar lebih tajam daripada kata-kata puisi, dan memegang celah paling tersembunyi dari Hati … Lagu Meningkatkan keberadaan kita dan membawa kita kepada yang baik dan yang sejati. Namun, jika musik hanya berfungsi sebagai pengalihan perhatian atau sebagai semacam ungkapan sia-sia, itu adalah berdosa dan berbahaya)

Dari penggalan paragraf di atas, Nietzsche menarasikan musik sebagai “wasilah spiritual” untuk meninggikan kualitas kemanusiaan. Musik adalah pembasuh jiwa, pembilas rasa, yang sanggup membebaskan manusia dari belenggu kejumudan. Musik adalah obat. “Song elevate our being and lead us to the good and the true”, ujar Nietzsche.

Tetapi, dan ini yang harus digaris-bawahi, tidak semua musik sanggup meninggikan kualitas kemanusiaan. Musik yang hanya sebagai “pengalih perhatian” dan berisi ungkapan yang sia-sia adalah musik yang merendahkan kualitas kemanusiaan. Nietzsche bahkan menyebutnya sebagai dosa dan berbahaya.

Mari kita cek. Lagu “Lir Ilir”, misalnya, yang merupakan salah-satu mahakarya wali songo tidak saja mempunyai keindahan ritmis tetapi juga kedalaman maknawi, yang menumbuhkan dan meninggikan spirit kemanusiaan, mengajak pelantun dan pendengar lagu tidak hanya berdendang tapi juga menyelami kehidupan.

Hal yang sama juga dapat kita baca pada karya musik grup band tanah air. Lagu “Panggung Sandiwara” karya Godbless, misalnya, dapatlah kita masukkan sebagai musik yang meninggikan kualitas kemanusiaan. Ia berdendang dan menginspirasi kepada kita untuk berhenti bersandiwara dan lebih mencipta kejujuran. “Mengapa kita bersandiwara ?”, dendang Ahmad Albar.

Bandingkan dengan lagu-lagu yang melulu berisi patah-hati, selingkuh, cinta tak bersambut, atau metafora-metafora tentang cinta kepada kekasih dengan diksi lirik yang dangkal. Musik seperti inilah yang oleh Nietzsche disebut sebagai “ungkapan yang sia-sia”. Musiknya boleh jadi enak dan nyaman didengar tapi tak sanggup mencerahkan dan memberi spirit kebangkitan sebagai manusia. Iqbal, penyair dari India, menyebutnya sebagai musik yang hanya menjadi hamburan debu.

Lebih lanjut, musik yang didedikasikan untuk pemuliaan kemanusiaan adalah musik menyembuhkan, musik yang menentramkan sebuah bangsa. Jika John F Kennedy berseloroh : “Jika politik itu kotor, puisi yang akan membersihkan”; maka bolehlah saya berujar : “Jika politik sedang sakit, maka musik yang akan menyembuhkan”.

Artinya, jika sampai saat ini praktik politik di Indonesia masih kotor dan sakit itu adalah tanda bahwa ada yang salah dengan cara kita berpuisi dan bermusik. Boleh jadi, musik yang banyak didendangkan dan didengar saat ini tak lebih musik untuk pengalih perhatian dan berisi ungkapan sia-sia belaka, bukan musik untuk pembilas rasa dan pembasuh jiwa.

Mereboisasi politik Indonesia kekinian dapat dilakukan dengan cara memperbaiki kualitas musikalitas, yang tidak hanya menghamba pada “ungkapan sia-sia” dan pengalih perhatian. Bermusik senafas dengan mencipta harapan. Music for hope.

Saya tutup tulisan ini dengan kutipan terkenal Nietzsche dari buku Twilight of idols :

“Without music life would be a mistake. The German imagines even God as a songster.”

(Tanpa musik, hidup akan menjadi suatu kesalahan. Orang Jerman bahkan membayangkan Tuhan sebagai Sang Maha Pedendang).

Mari bermusik…..

* Dosen sosiologi Universitas Brawijaya Malang

Tinggalkan Komentar

Silakan tulis komentar anda
Silakan tulis nama anda di sini