Museum Mpu Purwa Ibarat Zip Zonder Kop

Zip Zonder Kop atau ayam tanpa kepala, Museum belum menjadi pusat pembelajaran. Bukan jadi titik kajian strategis tentang jejak peradaban. Seperti inilah museum kita saat ini, belum jadi sumber pengetahuan. Jika ingin belajar perkembangan peradaban Malang, maka seharusnya dimulai dari kunjungan ke Museum Mpu Purwa lebih dulu.

Terakota.id— Museum Mpu Purwa Kota Malang, riuh. Mulai halaman sampai bagian dalam dipenuhi anak – anak, pelajar, mahasiswa hingga masyarakat umum. Mereka tengah mengikuti kegiatan bertajuk ‘Arek Sobo Museum’.

Acara dibuka dengan parade tari Nusantara di pelataran Museum Mpu Purwa. Tarian dari berbagai daerah itu dibawakan mahasiswa Program Studi Pendidikan Seni Tari dan Musik, Fakultas Sastra Universitas Negeri Malang.

Usai tarian, peserta Arek Sobo Museum menjelajahi tiap sudut Museum Mpu Purwa. Dipandu arkeolog sekaligus anggota Tim Ahli Cagar Budaya Kota Malang, M. Dwi Cahyono. Mereka menyusuri museum yang lekat dengan koleksi peninggalan arkeologis masa Hindu-Budha.

Salah seorang peserta, Renon Alfonses mahasiswa Jurusan Sejarah IKIP Budi Utomo Malang mengaku senang mengikuti kegiatan ini. Ia datang bersama rombongan teman kuliahnya.

“Tentu senang dengan acara ini, bisa belajar langsung. Menambah wawasan keilmuan saya,” ujar Renon.

Bagi dia, belajar tak hanya di dalam kelas atau ruang perkuliahan. Tapi juga dengan datang ke museum, melihat langsung benda-benda bersejarah. Apalagi bagi mahasiswa maupun peminat sejarah, tempat belajar paling bagus adalah di mana ada peninggalan bersejarah itu sendiri.

Arkeolog Universitas Negeri Malang, Dwi Cahyono menjelaskan Prasasti Dinoyo II kepada peserta Arek Sobo Museum di Museum Mpu Purwa Malang (Terakota.id/Zainul Arifin)

Para peserta Arek Sobo Museum ini diajak berkeliling melihat koleksi museum Mpu Purwa. M. Dwi Cahyono selaku pemandu, menjelaskan dengan detil tiap koleksi seperti arca, prasasti dan lainnya. Tapi tak semua koleksi, hanya sebagian saja. Sebab, durasi waktu tak memungkinkan untuk mengenalkan seluruhnya.

“Ini tadi hanya membicarakan sebagian saja. Kalau mendiskusikan semua, butuh 6 jam lebih,” ujar Dwi Cahyono.

Museum Mpu Purwa memiliki 136 koleksi berupa artefak sampai arca. Tapi, hanya sebanyak 56 koleksi masterpiece saja yang dipajang. Museum ini sendiri sudah ditampilkan dengan gaya kekinian. Dilengkapi teknologi Quick Respond Code atau QR Code. Ada pula ruang multi media yang memutar film animasi.

Baca juga :  Menikmati Kelezatan Kuliner Khas Imlek

Kip Zonder Kop

Berbagai benda koleksi museum sebenarnya bisa jadi petunjuk awal, banyak informasi yang bisa diperoleh dengan kunjungan museum. Tidak hanya sekadar berwisata, tapi juga menjadi salah satu sumber belajar.

“Museum itu edutourism, wisata belajar. Kususnya belajar sejarah dan budaya,” ujar Dwi Cahyono.

Museum Mpu Purwa merepresentasikan perkembangan Malang. Sayangnya, koleksi didominasi peninggalan masa Hindu-Budha. Tak ada koleksi yang menggambarkan era perkembangan Islam hingga masa kolonialisme Belanda di Malang.

“Koleksinya mungkin bisa diperkaya lagi dengan ada peninggalan masa Islam hingga kolonialisme Belanda,” tutur Dwi.

Ia menambahkan, Museum Mpu Purwa bisa jadi salah satu tempat belajar melihat perkembangan panjang sejarah Kota Malang. Salah satu caranya, menampilkan foto maupun peta Malang Tempo Doeloe. Lewat peta itu misalnya, bisa melihat titik sejarah hingga perkembangan masa modern Kota Malang.

“Sehingga museum bisa jadi destinasi awal untuk kajian sejarah. Museum itu jadi pusat belajar,” ucap Dwi.

Ia mengutip istilah Belanda, Zip Zonder Kop atau ayam tanpa kepala. Sebabnya, museum belum menjadi pusat pembelajaran. Bukan jadi titik kajian strategis tentang jejak peradaban. Jika ingin belajar perkembangan peradaban Malang, maka seharusnya dimulai dari kunjungan ke Museum Mpu Purwa lebih dulu. Berikutnya, pengunjung didorong mendatangi tempat lainnya setelah berbekal pengetahuan dari museum.

“Ada istilah Belanda Zip Zonder Kop, ayam tanpa kepala. Seperti inilah museum kita saat ini, belum jadi sumber pengetahuan,” ujar Dwi.

Karena itu, penting untuk menambah koleksi di Museum Mpu Purwa. Melengkapi babak sejarah peradaban Malang mulai masa Kerajaan Kanjuruhan hingga Singasari, masa penyebaran Islam hingga pengaruh Kolonialisme Hindia Belanda. Terangkai dalam satu lokasi di museum ini.

Baca juga :  Lakon ‘Kesatria Jawa’ dalam Diskursus Gender

Museum juga harus jadi ruang terbuka publik. Siapa saja boleh berkegiatan yang bersifat kebudayaan di sini. Berjejaring dengan semua komunitas. Tak sekedar menyimpan benda, tapi juga pusat kegiatan belajar. “Museum jadi pusat sumber belajar, agar tak seperti ayam tanpa kepala,” ucap Dwi Cahyono.

Kepala Seksi Sejarah, Tradisi, Kepurbakalaan dan Permuseuman Dinas Kebudayaan dan Pariwisata Kota Malang Wiwik Roharti Rodiah sependapat dengan Dwi Cahyono. Menurutnya, gagasan itu juga butuh sokongan dari instansi lain seperti Dinas Pendidikan hingga hingga legislatif.

Tinggalkan Komentar

Silakan tulis komentar anda
Silakan tulis nama anda di sini