Murka Mpu Purwa Saat Ken Dedes Diculik

murka-mpu-purwa-saat-ken-dedes-diculik
Pengunjung Sendang Dedes atau Sumur Windu di Polowijen, Kota Malang. (Terakota/Zainul Arifin).

Terakota.id-Mpu Purwa tengah berangkat bepergian dalam kurun waktu yang cukup lama. Sedangkan putrinya, Ken Dedes ditinggal seorang diri di pertapaan Panawijen. Seorang gadis yang masyhur kecantikannya seantero timur Gunung Kawi sampai Tumapel.

Rupa-rupanya, kepergian sang mpu dimanfaatkan Akuwu Tumapel Tunggul Ametung bertandang ke pertapaan. Datang bukan berniat bertamu, tapi membawa kabur Ken Dedes. Putri yang diincarnya begitu mendengar kabar kecantikan tiada banding.

Ken Dedes tidak mampu berontak. Tidak ada seorang pun di Panawaijen berani menghalang-halangi kehendak penguasa Tumapel itu. Tunggul Ametung leluasa membawa sang putri ke keraton sekaligus memperistrinya.

Tibalah Mpu Purwa di Panawijen. Tidak dijumpai putri kesayangannya di pertapaan. Pujangga Buddha aliran Mahayana itu murka begitu tahu anaknya diculik orang. Merapal sumpah kutukan ditujukan kepada penculik dan penduduk Panawijen.

“Nah, semoga yang melarikan anakku tidak lanjut mengenyam kenikmatan. Semoga ia ditusuk keris dan diambil isterinya,” seru Mpu Purwa.

“Demikian juga orang-orang di Panawijen ini, semoga menjadi kering tempat mereka mengambil air, semoga tak keluar air kolam ini. Dosanya, mereka tak mau memberitahu, bahwa anakku dilarikan orang dengan paksaan,” sumpah Mpu Purwa.

Ken Dedes hidup sebagai permaisuri Tunggul Ametung. Singkat cerita, umur sang akuwu berakhir layaknya kutukan Mpu Purwa. Mati ditusuk sebilah keris buatan Mpu Gandring milik Ken Arok dalam sebuah kudeta kekuasaan.

Ken Arok, penguasa baru Tumapel itu kemudian mengambil Ken Dedes yang sedang hamil muda sebagai istrinya. Transisi kekuasaan itu kemudian ditandai dengan dideklarasikannya Kerajaan Singosari sebagai sebuah kerajaan berdaulat.

Cerita itu dimuat dalam Kitab Pararaton. Sebuah kitab yang ditulis pada 1613 masehi tanpa diketahui siapa pengarangnya. Sedangkan jejak pertapaan Mpu Purwa di Panawijen masih ada sampai sekarang.

Jejak arkeologi itu bisa dilihat di Situs Polowijen di Kelurahan Polowijen, Kota Malang. Penduduk setempat memberi nama situs itu Sendang Dedes atau Sumur Windu. Sebuah sumber air yang sudah mengering. Lokasinya sudah tidak lagi tampak layaknya sebuah pertapaan. Di dalamnya masih terdapat artefak berupa watu kenong dan lumpang batu berbahan batu andesit.

murka-mpu-purwa-saat-ken-dedes-diculik
Jejak arkeologi pertapaan Mpu Purwa di Panawijen bisa dilihat di Situs Sendang Windu, Kelurahan Polowijen, Kota Malang. (Terakota/Zainul Arifin).

Berada hanya beberapa langkah kaki dari tempat pemakaman umum (TPU) Polowijen. Areal situs dikelilingi pagar permanen bercat hitam dan dilindungi bangunan cungkup. Pepohonan tumbuh di sekelilingnya, serta terdapat sebuah pohon beringin besar.

Adalah penduduk setempat yang membangun pelindung itu pada awal tahun 2000-an silam. Namun sayangnya niat baik warga malah berpotensi merusak berbagai peninggalan arkeologis di sekitar situs. Menghilangkan berbagai artefak yang bisa menjadi informasi penting perihal peradaban desa kuno.

“Niatnya baik, melindungi situs. Tapi bisa merusak berbagai peninggalan cagar budaya lainnya di sekitar situs,” kata Arkeolog Universitas Negeri Malang, Dwi Cahyono dalam sebuah kesempatan.

Berdasarkan informasi masyarakat, di area situs kerap ditemukan arung atau saluran bawah tanah. Fungsinya, sebagai salah satu sistem pengairan. Mengalirkan air dari sumber menuju sawah-sawah warga. Tidak itu saja, banyak artefak yang sudah hilang entah ke mana.

Menurut Dwi Cahyono, Desa Panawijen adalah sebuah desa kuno. Sudah ada sejak abad 10 masehi, sebagai sebuah desa berstatus sima alias bebas pajak. Desa ini disebut-sebut sudah terbilang maju, pada masa-masa peralihan dari Hindu ke Buddha aliran Mahayana.

Prasasti Wurandungan dan prasasti Kanyuruhan B yang sama-sama berangka tahun 943 masehi menuliskan tentang Desa Panawijen atau Panawijyan. Saat peristiwa penculikan Ken Dedes oleh Tunggul Ametung, Mpu Purwa barulah seorang pujangga, hendak jadi seorang pendeta Buddha. Dalam perkembangannya, pertapaan itu sekaligus jadi pusat pembelajaran agama Buddha.

“Ini termasuk salah satu situs penting. Semoga kelak segera ada kebijakan yang lebih baik soal konservasi sejarah dan budaya di sini,” tutur Dwi Cahyono.

murka-mpu-purwa-saat-ken-dedes-diculik
Niat baik warga membangun situs berpotensi merusak berbagai peninggalan arkeologis di sekitar situs. (Terakota/Zainul Arifin).

Peradaban di desa ini terus berkembang seiring perubahan jaman. Salah satu seni tradisi khas Malang yaitu Topeng Malangan, tumbuh subur dan tersebar ke berbagai pelosok Malang dan sekitarnya melalui desa ini.

Tjondro Suwono atau lebih dikenal dengan Mbah Kiai Reni, seniman Topeng Malangan pada tahun 1900-an mendirikan padepokan di sini. Mbah Reni juga dimakamnya di tempat pemakaman umum di sini.

 

Tinggalkan Komentar

Silakan tulis komentar anda
Silakan tulis nama anda di sini