Mudik Virtual sebagai Altruisme

Ilustrasi : Poliklitik/Ngomikmaksa.

Terakota.id–Mudik Idul Fitri di tahun 2021 ini kembali harus dilakukan secara virtual. Kehadiran fisik ke kampung halaman menjadi sesuatu yang perlu dihindari, mengingat penyebaran virus Covid-19 yang masih mengancam. Tentu rasanya memang tidak lengkap jika mudik tidak dilakukan dengan kehadiran fisik di kampung halaman, namun pilihan terbaik adalah menahan diri untuk tidak melakukan mobilitas ke kampung halaman. Pilihan mudik secara virtual adalah altruisme yang dibutuhkan di masa pandemi.

Sudah dua tahun, mudik virtual menjadi pilihan terbaik. Di tahun 2020, tradisi mudik dilarang pemerintah ketika pandemi Covid-19 baru saja terjadi. Kecemasan yang begitu menakutkan dengan dilatarbelakangi ketidaktahuan publik tentang virus dari Wuhan, China ini. Berbagai ujung jalan kampung dan gang masih ditutup oleh warga untuk mencegah penyebaran virus Covid-19. Meskipun pemerintah tidak pernah secara resmi menyatakan adanya lockdown, namun warga di tingkat akar rumput melakukan penutupan jalan kampung dan gang di sekitar tempat tinggal mereka.

Tahun 2021 ini suasananya sudah berbeda. Gagasan tentang normal baru (new normal) dan adaptasi kebiasaan baru yang disampaikan pejabat pemerintah telah membuat perubahan.  Beriringan dengan vaksinasi Covid-19 yang mulai berlangsung, perhatian terhadap ancaman Covid-19 mulai mengendur. Ini bisa dilihat dari mulai abainya sebagian masyarakat terhadap protokol kesehatan Covid-19. Hal yang paling kentara adalah mulai mengendurnya kedisplinan mengenakan masker, menjaga jarak dan mencuci tangan dengan menggunakan sabun.

Yang semakin mengkhawairkan adalah sikap keras kepala sebagian masyarakat yang tetap memaksakan mudik, di saat sebagian masyarakat yang lain merelakan untuk tidak mudik. Ada beberapa alasan yang membuat sekelompok masyarakat yang tetap memaksakan mudik. Pertama, ketidakpedulian terhadap bahaya Covid-19 ternyata memang masih ada di sebagian masyarakat kita. Mereka menganggap bahwa Covid-19 adalah bagian dari teori konspirasi dengan segala pembenaran yang bagi kita sungguh tidak masuk akal. Hal ini sebenarnya telah terjadi sejak awal pandemi terjadi.

Kedua, buruknya komunikasi publik dari pemerintah. Alih-alih memberikan contoh kebijakan yang baik, beberapa kebijakan yang dilakukan pemerintah justru menjadi blunder. Masuknya tenaga kerja asing dari China di saat larangan mudik diberlakukan adalah salah satu contohnya. Melalui berbagai pemberitaan media massa, publik mengetahui tentang hal ini. Rasa kecewa dari publik tentu menjadi tidak terelakan.

Ketiga, tingkah korupsi para pejabat dan petugas pemerintah dalam penanganan Covid-19 telah membuat kepercayaan publik menurun. Dua kasus yang menonjol adalah korupsi bantuan sosial yang dilakukan menteri sosial, Jaluari Batubara dan daur ulang alat  rapid test antigen Covid-19 di Bandara Kualanamu, Sumatera Utara oleh pegawai PT Kimia Farma Diagnostika.

Dalam kondisi yang demikian, altruisme untuk tidak mudik secara fisik menjadi jalan untuk mencegah penyebaran Covid-19.

Altruisme

Altruisme adalah sikap manusia yang memiliki pengertian berbanding terbalik dengan egoisme. Egoisme mempunyai pengertian mementingkan diri sendiri. Altruisme, di sisi yang berseberangan dengan egoisme, adalah sikap mengutamakan kepentingan orang lain dibanding kepentingan diri sendiri.

Kristen Renwick  Monroe dalam bukunya yang berjudul The Heart of Altruism: Perceptions of a Common Humanity (1999) menyebutkan bahwa altruisme merupan gejala tindakan individual yang sifatnya khas, singular namun memiliki keterarahan pada universalitas humanitas. Monroe juga menyebutkan bahwa altruisme merupakan tindakan yang dirancang guna memberi manfaat bagi orang lain, bahkan dengan risiko bahaya yang signifikan terhadap kesejahteraan diri sendiri.

Mudik adalah tradisi dari kehidupan manusia yang tidak bisa dilepaskan dari sikap sosial. Proses interaksi yang dilakukan setiap hari oleh manusia membuat manusia mempunyai berbagai karakter dan sifat yang beraneka ragam. Keanekaragaman yang bisa dijumpai dengan adanya sikap patuh untuk tidak mudik oleh sekelompok masyarakat, dan di sisi yang berseberangan ada sikap ketidakpatuhan oleh sekelompok masyarakat yang lain.

Ketidakpatuhan terhadap larangan mudik memperlihatkan subordinasi altruisme. Di saat orang lain menahan diri untuk tidak mudik, sikap yang tetap kukuh untuk mudik dengan berbagai upaya adalah perwujudan dari egoisme. Mengikuti pandangan Monroe, pilihan tidak mudik adalah tindakan yang dirancang untuk mencegah penyebaran virus Covid-19, meskipun secara signifikan mengurangi kebahagian individu yang melakukannya. Kebahagian yang berkurang karena tidak bisa bertemu dengan keluarga di kampung halaman.

Teknologi komunikasi dan informasi telah memudahkan mudik secara virtual. Melalui perangkat aplikasi konferensi video, seperti Zoom, Webex, Big Blue Button, Google Meet, WhatsApp dan sejenisnya, kita bisa saling mengucapkan selamat Idul Fitri. Pertemuan keluarga yang jauh terpisah bisa dilakukan dengan melibatkan banyak orang dengan perangkat konferensi video. Meskipun harus diakui bahwa mudik virtual tidak bisa mengalahkan mudik fisik secara nilai sosial dan tradisi, namun  di masa pandemi pilihan mudik virtual adalah sikap terbaik.

 

Tinggalkan Komentar

Silakan tulis komentar anda
Silakan tulis nama anda di sini