Mobilitas​ ​Seniman​ ​Gelandangan​ ​Kosmopolit dan​ ​Strategi​ ​Kebudayaan​ ​Kita

Akhirnya, saya rasa keterlaluan kalau hari ini kita sibuk mendiskusikan tetek bengek mobilitas seniman, tanpa sedikit pun memberi ruang reflektif pada konflik agraria di Kulon Progo akibat rencana pembangunan New Yogyakarta International Airport. Infrastruktur mobilitas unggulan pemerintah ini seolah menguntungkan bagi gaya hidup dan praktik seni kosmopolit, namun di sisi lain jelas mengancam keberlangsungan ruang hidup dan alat produksi petani pesisir.

(Sumber: Dok. Cemeti Institute for Art and Society)

Oleh: Brigitta​ ​Isabella*

Terakota.id–Rekan-rekan pekerja seni yang saya hormati, Mengapa sekarang ada begitu banyak institusi yang menawarkan program residensi? Dan apa efek dari meningkatnya kesempatan mobilitas bagi keberlangsungan praktik seni dalam konteks kita? Mengapa ada institusi atau galeri, yang mau membayari seniman ongkos tiket, akomodasi dan uang saku untuk berkarya di luar negeri? Transaksi nilai apa yang berlangsung dalam mobilitas residensi seniman? Benarkah seniman selalu diuntungkan oleh program residensi?

Ijinkan saya memulai dari lingkungan terdekat saya.

Sebulan yang lalu saya baru kembali dari Tokyo untuk mengikuti sebuah konferensi. Ketika di Tokyo, saya bertemu dengan Natasha Tontey yang sedang mengerjakan mural untuk sebuah hotel di sana. Saya juga sempat bertemu dengan Kuro, seniman Surabaya yang tengah residensi di On-Going Art Space. Kawan baik saya, Syafiatudina, saat ini sedang residensi di Taipei selama satu bulan ke depan.

Minggu lalu saya dengar Naomi Srikandi baru saja pulang residensi dari Vietnam. Sutradara teater Joned Suryatmoko saat ini sedang penelitian dua bulan di Thailand dan akan residensi di London awal tahun depan. Tahun depan, Elia Nurvista kabarnya akan residensi selama satu tahun di Berlin; meninggalkan suaminya yang akan terpuruk sepi di rumah kontrakan kecil mereka di daerah Minggiran.

Namun kita tidak perlu merasa gumun dengan ini semua. Keriuhan mobilitas seniman yang terjadi hari ini bukanlah barang baru bagi kebudayaan kita. Pada tahun 50-an, Affandi telah berkeliling Amerika Serikat selama 4 bulan atas undangan pemerintah sana. Trubus pernah dikirim pemerintah Indonesia untuk studi banding ke Ceko selama satu bulan, dan masih banyak lagi contoh-contoh lainnya.

Artinya, lokasi penciptaan seni dan kebudayaan modern maupun kontemporer kita, memang tidak pernah benar-benar berpusat hanya di Indonesia. Semakin seringnya seniman kita mondar-mandir ke luar negri dalam rangka program kesenian, tidak dapat dilepaskan dari kemunculan wacana seni global yang mencuat sejak akhir era perang dingin. Seni kontemporer, menurut sejarawan seni Hans Belting, adalah sinonim dari seni global.

Menjadi​ ​kontemporer​ ​berarti​ ​menjadi​ ​global. Praktik dan diskursus seni global yang ideal—dan kontemporer tentunya—dibayangkan harus mengakui kemajemukan narasi seni dari wilayah-wilayah di luar kanon Barat, dan mengaburkan batas-batas lokasi geografis kebudayaan. Program residensi yang memfasilitasi seniman untuk malang melintang ke
berbagai negara, dirancang sebagai faktor yang akan menyumbang kontribusi penting untuk mencapai cita-cita seni global.

Silakan anda buka sumber-sumber data dalam bursa lowongan kerja yang digagas Wowok ini. Anda akan terpapar pada ekosistem seni global yang tampak begitu haus pada pertemuan dan kolaborasi antar seniman dan kurator lintas bangsa. Situs On the Move, TransArtist, dan Wooloo, semuanya menyediakan berlimpah informasi kesempatan residensi untuk seniman dari berbagai pelosok dunia.

Seniman performans dari Madiun ingin menjelajah Eropa? Atau kurator new media art dari Makassar ingin mendapat pengalaman baru di Berlin? “Mintalah, maka hal itu akan diberikan kepadamu. Carilah, maka kamu akan mendapat. Ketuklah, maka hal itu akan dibukakan bagimu.” (demikianlah sabda Tuhan dalam Matius 7:7)

Rekan-rekan pekerja seni sekalian,

Tentu saja sabda Tuhan tidak pernah mentah-mentah berlaku dalam dunia kesenian. Apabila bahasa universal Tuhan adalah kasih, maka bahasa global seni kontemporer is International Art English. Menguasai International Art English, bukan soal keahlian berbahasa ala tes Toefl, melainkan keterampilan memainkan gaya bahasa yang sesuai dengan selera global, agar pantas terpampang di e-flux. Syarat tak tertulis tentang penguasaan International Art English sebagai pintu masuk menuju seni global, memang bisa jadi malah mengonstruksi hegemoni estetik baru, yang memapankan pengertian eksklusif atas mana yang layak disebut kontemporer dan yang bukan kontemporer. Dalam hal ini wacana seni global sudah kerap dihantam kritik, karena ujung-ujungnya seringkali sekedar menciptakan estetika identitas kosmopolit yang homogen.

Kurang lebihnya mungkin serupa dengan apparatus teori Bhinneka Tunggal Ika yang dioperasikan Orde Baru, untuk menyeragamkan keberagaman puncak-puncak kebudayaan daerah dalam satu kebudayaan nasional. Selain itu, program residensi dan pameran pameran yang merayakan seni global secara stereotipikal, seringkali tidak berusaha cukup keras untuk memeriksa ketimpangan relasi kuasa yang berlangsung dalam proses pertukaran budaya. Pada titik ini, estetika seni global juga sudah sering dituding cenderung menggembar-gemborkan wacana politik identitas dan menjauhkan seni dari keberpihakannya terhadap politik kelas.

Walhasil dalam kondisi yang paling keblinger, museum, galeri dan perhelatan bergengsi seperti bienal, tak ubahnya seperti perusahaan waralaba multinasional, yang memperkerjakan seniman untuk mengekspor-impor komoditas budaya, dengan landasan teori Bhinneka Tunggal Ika versi kosmopolit.

Apakah residensi seniman yang dilatari wacana seni global memungkinkan intervensi dari narasi-narasi yang liyan? Atau justru ia meringkus seniman dalam bahasa artistik yang seragam?

Rekan-rekan pekerja seni yang berbahagia,

Terlepas dari semua kritiknya, wacana seni global terus berproses, dan seperti selalu ada harapan bagi aktor-aktor seni yang kritis untuk memperjuangkan dimensi politis wacana tersebut. Kesempatan residensi dan segala bentuk program pertukaran budaya yang memungkinkan seniman keluar kandang, dan hidup di luar tempurung memang terlalu sayang untuk dilewatkan. Namun agaknya perlu kita perhatikan, kesempatan mobilitas residensi tidak hanya telah menggeser wacana dalam praktik seni kita, tapi juga ekonomi
moral dan moneter yang ada di dalamnya.

Pertama-tama, perlu diakui bahwa mobilitas seniman residensi akan diiringi dengan mobilisasi status sosial, dari lokal menjadi internasional. Selain perluasan jaringan, modal sosial dan kultural seniman akan meningkat. Sudah merupakan asumsi umum bahwa seniman yang keren dan sukses adalah seniman yang sudah diakui oleh dunia internasional.

Tentu saja asumsi ini tidak selalu tepat, dan kita semua tentu paham, bahwa ukuran sukses dalam menilai kesenian, tentu berbeda dengan ukuran sukses yang digunakan media massa dalam menilai Agnes Monica. Pada saat yang sama, banyaknya kesempatan residensi hari ini juga memungkinkan seniman untuk meniatkan diri mendapat modal finansial atau penghasilan tambahan dengan menghemat budget per diem atau budget produksinya. Kemungkinan inilah yang kemudian membuat Wowok dengan nada ironi menganggap residensi sebagai sumber mata pencaharian baru untuk seniman.

Residensi hadir sebagai “Dana Umum dan Kesempatan”, untuk seniman-seniman yang tidak tertarik berkompetisi dalam pasar seni komersil, atau pernah mencoba namun ternyata kurang berhasil. Bagi seniman yang bergantung pada sistem ekonomi residensi secara pragmatis, kesempatan residensi merupakan pintu-pintu rumah yang harus diketuk agar seniman dapat mendulang nafkah tambahan. Lokasi studio seniman pun berpindah-pindah, dan model bisnis yang mengiringi praktik seninya berlangsung a la tren gig economy dalam kapitalisme lanjutan.

Dan memang demikianlah nyatanya, ada beberapa seniman yang menyambung hidup dari satu residensi ke residensi lainnya. Apalagi jika residensi di negara-negara Eropa dan Amerika, nilai tukar mata uang yang tinggi memang memungkinkan seniman untuk mendapatkan keuntungan finansial yang relatif lumayan. Alih-alih membayangkan seniman residensi layaknya international rock star yang melanglang buana, bolehlah kita menggambarkan mereka, lebih seperti gelandangan kosmopolit yang hidup berpindah-pindah dan tidak punya penghasilan tetap.

Dalam sistem ekonomi pasar seni konvensional, seniman bergantung pada patronase kolektor yang langsung datang ke studionya atau membeli karya seni lewat galeri atau artfair. Seniman tidak perlu kemana-mana, sebab ada agen-agen kebudayaan yang akan menjajakan karya seninya. Sedangkan, seniman gelandangan kosmopolit tidak bergantung pada segelintir elit pasar seni dan tidak punya galeri atau kolektor sebagai bos atau makelar-nya. Seniman gelandangan kosmopolit adalah pekerja freelance yang berkelana menjajakan CV dan surat motivasi ke pintu-pintu lowongan terbuka di luar negri.

Meski terdengar lebih independen dan anti-pasar seni komersil, hidup seniman gelandangan kosmopolit sebetulnya masih bergantung pada sistem ekonomi kapitalis, yang muslihat eksploitasinya semakin canggih dan tidak langsung terlihat. Pada titik hiper-mobilitas yang terburuk, seniman gelandangan kosmopolit kehilangan referensi kondisi material, yang menghidupi dan dihidupinya.

Bagi seniman gelandangan kosmopolit yang terus bepergian dari satu negara ke negara yang lain, publik seni adalah konsep abstrak yang bernilai internasional sekaligus kosong. Publiknya adalah orang-orang yang membaca proposal proyek dan surat motivasinya. Pada akhirnya, kita akan berhadapan dengan praktik residensi repetitif yang menjadikan motivasi bisnis sebagai ontologinya. Dengan kata lain, business as usual.

Brigitta Isabella saat membacakan pidatonya. (Sumber: Dok. Cemeti Institute for Art and Society)

Rekan-rekan pekerja seni yang saya banggakan,

Tentu saja setiap orang yang mengklaim bekerja sebagai seniman, akan selalu berhadapan dengan ketidakpastian finansial seperti nasib seorang gelandangan. Segelintir seniman yang lihai dan ambisius menapaki tangga karier dalam dunia elit seni komersil bisa saja menjadi kaya. Namun bagi kebanyakan seniman, kemewahan dunia seni hanya dapat dinikmati sesaat dalam after party pembukaan pameran besar.

Sepulang dari pesta, seniman miskin segera berhadapan lagi dengan tuntutan kebutuhan bertahan hidup sehari-hari yang harus ditanggungnya. Banyak seniman yang harus mencari kerjaan sampingan agar dapat melestarikan keberlangsungan praktik seninya. Misalnya dengan berdagang, mengerjakan desain katalog, menerima pesanan sablon, menjadi asisten atau artisan, sambil berharap lamaran proposal grant atau residensinya akan diterima. Bursa lowongan kerja yang digagas Wowok adalah simulasi, kalau bukan parodi, dari semua ini.

Dalam iklim kerja serabutan inilah seniman selalu berhadapan dengan ketidakmenentuan masa depan finansial dalam hidupnya. Pada titik ini kita semua harus bersama-sama memikirkan, bagaimana agar cita-cita untuk melestarikan praktik seni yang kritis, tidak kontrakdiktif dengan cara-cara ekonomis yang harus ditempuh untuk menunjang hidup sebagai pekerja seni. Eksperimen ekonomi alternatif harus terus kita ujicobakan dengan segala kesempatan dan keterbatasan yang ada hari ini.

Ekonomi alternatif artinya bukan hanya soal pencapaian kesuksesan finansial individu, namun juga moda distribusi sumber daya yang lestari keadilannya. Kita kemudian juga perlu melangkah ke luar dari sempitnya ekosistem dunia seni, untuk menyadari bahwa sistem ekonomi program residensi tak ubahnya dengan disiplin etika kerja neo-liberal.

Kontrak kerja sama temporer dalam program residensi, pada intinya serupa modelnya dengan perjanjian kemitraan buruh transportasi online, atau kontrak tanpa jam kerja minimal untuk buruh domestik migran, atau kontrak berbasis proyek untuk pekerja industri kreatif. Semua orang adalah seniman, atau dikutuk untuk bernasib seperti seniman dengan bentuk pekerjaan yang bersifat fleksibel dan informal. Konsekuensi ekonominya membuat buruh bekerja dengan penghasilan yang tidak tetap, jam kerja yang tidak jelas, lokasi kerja yang berpindah-pindah dan tanpa jaminan sosial dan kesehatan dari negara maupun perusahaan.

Tentu saja dalam hal ini seniman masih memiliki lebih banyak keistimewaan sosial dibanding buruh yang benar-benar tidak punya support system untuk menyambung hidup. Namun seperti teman-teman Sindikasi di Jakarta yang sudah mulai mengorganisir serikat untuk pekerja seni, kesadaran atas kerentanan ekonomi kita sebagai pekerja seni harus dilihat hanya sebagai bagian kecil dari ekploitasi moda produksi kapitalisme global. Kesamaan kondisi ekonomi ini merupakan momen politik global yang dapat direspon oleh seniman gelandangan kosmopolit. Sebab dalam kesempatan mobilitasnya, seniman gelandangan kosmopolit dapat merapatkan barisan dengan kelas proletar dalam solidaritas internasional. Warisan astronomi politiknya dapat dilacak dari tradisi internasionalisme gerakan kiri kita sejak awal abad ke-20.

Setiap pilihan negara dan mitra institusi yang ingin dituju seniman gelandangan kosmopolit selalu merupakan keputusan yang berbasis keberpihakan politis. Internasionalisme mana yang kita bayangkan ketika bepergian? Pengalaman menikmati lanskap kota Hong Kong yang dihidangkan oleh konsultan seni dari ArtBasel tentu akan berbeda dengan pemandangan urban yang ditunjukkan oleh kawan-kawan buruh migran Indonesia yang bekerja di sana. Tempat nongkrong asik di Tokyo yang direkomendasikan oleh direktur Mori Art Museum, tentu akan berbeda dengan rekomendasi dari kelompok seniman anarkis Irregular Rhythm Asylum.

Mengapa dan bagaimana kita bepergian? Pilihan untuk memperlakukan residensi secara pragmatis atau politis selalu kembali ke ideologi yang diyakini dan dipraktikkan oleh seniman gelandangan kosmopolit.

Rekan-rekan pekerja seni sekalian,

Akhirnya, saya rasa keterlaluan kalau hari ini kita sibuk mendiskusikan tetek bengek mobilitas seniman, tanpa sedikit pun memberi ruang reflektif pada konflik agraria di Kulon Progo akibat rencana pembangunan New Yogyakarta International Airport. Infrastruktur mobilitas unggulan pemerintah ini seolah menguntungkan bagi gaya hidup dan praktik seni kosmopolit, namun di sisi lain jelas mengancam keberlangsungan ruang hidup dan alat produksi petani pesisir.

Sebagai bagian dari pekerja seni gelandangan kosmopolit yang sudah mendapat privilege untuk bepergian ke berbagai tempat di dunia, saya harus mengakui bahwa kosmopolitanisme justru kerap membuat saya terbata-bata menghadapi persoalan kemanusiaan yang nyata; yang jaraknya hanya satu setengah jam perjalanan dari rumah kontrakan saya di Kaliurang.

Apa yang didekatkan dan dijauhkan oleh kosmopolitanisme?

Kepada para petani dan rekan-rekan pekerja seni serta aktivis yang tulus dan gigih mengorganisir perlawanan di Kulon Progo, saya ucapkan hormat yang sebesar-besarnya.

Selamat malam, sekian dan terima kasih.

Teks pidato ini dibacakan pada pembukaan Dana Umum & Kesempatan/Artist Job Fair pada
hari Kamis, 7 Desember 2017 di Cemeti – Institut untuk Seni dan Masyarakat. Dimuat ulang di Terakota.id untuk tujuan perluasaan gagasan dengan persetujuan penulis.

Brigitta Isabella (Sumber: Dok Pribadi)

*Penulis dan Peneliti. Menempuh studi Critical Methodologies di King’s College, London. Sejak 2011, menjadi anggota di sebuah riset kolektif  di Yogyakarta, KUNCI Cultural Studies Center.

 

Tinggalkan Komentar

Silakan tulis komentar anda
Silakan tulis nama anda di sini