Mikroplastik Mencemari Kali Marmoyo dan Brantas

Mahasiswa Universitas Trunojoyo mengambil sampel air di sungai untuk meneliti kandaungan mikroplastik. (Foto : dokumen CAER)

Terakota.idKelompok studi Community of Aquatic Environment (CAER) Universitas Trunojoyo Madura meneliti sungai Brantas, kali Surabaya dan sungai Marmoyo Jombang pada Januari 2021. Hasil penelitian menunjukkan 100 liter air terdapat 59-100 partikel mikroplastik. Pencemaran mikroplastik bersaing dengan kelimpahan plankton di sungai.

“Sungai yang terkontaminasi mikroplastik berpengaruh terhadap kualitas ikan air tawar seperti ikan nila dan wader,” kata Koordinator CAER Angwildi Anggana dalam pernyataan tertulis yang diterima Terakota.id.

Peneliti yang terdiri atas mahasiswa semester V prodi Manajemen Sumberdaya Perairan Universitas Trunojoyo Madura ini menemukan kelimpahan mikroplastik tertinggi di stasiun Tapen, Kemlagi, dan Perning. Lokasi temuan merupakan kawasan aliran sungai Marmoyo. Jenis mikroplastik didominasi fiber. Jumlah mikroplastik jenis fiber mencapai 32-93 partikel per 100 liter.

Sampah plastik memenuhi badan sungai yang bisa terdegradasi secara alamiah menjadi mikroplastik. (Foto : dokumen CAER).

Kelimpahan mikroplastik tertinggi terjadi di muara sungai Marmoyo di Perning. Tingginya jenis fiber di muara sungai Marmoyo akibatkan tumpakan sampah rumah tangga di sekitar bantaran sungai Marmoyo. Penelitian mikroplastik menggunakan metode kering yaitu dengan mengambil sampel sebanyak 100 liter dan disaring dengan saringan Mesh ukuran T165.

Proses analisis mikroplastik selanjutnya menambah larutan campuran H2SO4 dan H2O2 30 persen dengan perbandingan 3:1. Sampel kemudian diinkubasi selama 24 jam, sampel di stim bath selama dua jam lalu sampel dicuci menggunakan aquades dan disentrifuge dengan kecepatan 3000 rpm selama 15 menit. Sampel disaring dengan kertas saring dan diidentifikasi dengan mikroskop yang dihubungkan dengan kamera DX230 dan skala 1:40.

Mikroplastik terurai dengan cepat di ekosistem perairan yang dipengaruhi arus dan biota di perairan tersebut. Mikroplastik mengandung senyawa kimia berbahaya selama pembuatannya. Sedangkan saat proses degradasi alami atau dipaksakan melepas kandungan kimia dalam plastik tersebut.

Mahasiswa Universitas Trunojoyo mengambil sampel air di sungai untuk meneliti kandaungan mikroplastik. (Foto : dokumen CAER)

“Mikroplastik menyerao polutan beracun. Sehingga menjadi media bakteri pathogen saat dimakan ikan. Jika ikan dikonsumsi manusia bisa berdampak buruk bagi kesehatan. Seperti mengganggu sistem hormon manusia,” kata Angwildi Anggana.

Jenis mikroplastik fiber mendominasi fragmen dan film di setiap sampel ikan. Jenis ikan wader di stasiun dua Kali Surabara diidentifikasi dengan kontaminasi mikroplastik tertinggi. Berjumlah 78 partikel per ekor.

dangkan kelimpahan planton tertinggi di sungai Brantas dengan 92,5 individu per liter dan sungai kali surabaya dengan 97,5 individu per liter. Kelimpahan ini disebabkan aktivitas buangan limbah pabrik Monosodium Glutamat (MSG). Plankton yang ditemukan salah satunya adalah Anabaena sp, merupakan indikator pencemaran perairan dan sungai Kali Surabaya.

Kelimpahan plankton tinggi karena dipengaruhi limbah industri dan limbah pemukiman. Untuk itu, mendorong pemerintah Kabupaten Jombang membangun fasilitas TPST 3R di setiap desa yang dilalui aliran Kali Marmoyo dan Brantas. Serta menyediakan tempat sampah khusus sachet di sepanjang bantaran sungai Brantas agar masyarakat tidak membuang sampah plastik sachet di sungai.

CAER mendesak pemerintah Kabupaten Jombang menyediakan tempat sampah khusus sachet dan mengedukasi masyarakat supaya tidak membuang plastik sachet ke sungai. Sachet bekas masuk kategori sampah residu. Penyediaan tempat sampah khusus sachet sebagai sarana mengendalikan jumlah timbulan sampah plastik sachet yang dihasilkan produsen.

 

 

Tinggalkan Komentar

Silakan tulis komentar anda
Silakan tulis nama anda di sini