Mewarnai Toleransi Sejak Dini

Terakota.id—Puluhan pelajar taman kanak-kanan dan sekolah dasar duduk bersimpuh beralas tikar, matanya tajam fokus menatap sebuah buku gambar. Sembari tangannya sibuk menggoreskan pensil warna. Duduk meriung, para pelajar ini tengah belajar mewarna. Salah satunya Alief Ahmad, siswa Madrasah Ibtida’iyah Bantur Kabupaten Malang.

Tekun Alief mewarnai buku kertas gambar, tangannya luwes mewarnai dengan pensil warna. Ia tengah mewarnai buku gambar bertema keberagaman dan toleransi. Antusias ia mewarna setiap detail gambar dan mencerna setiap gambar yang tersaji. Sebuah buku mewarnai berjudul warna-warni Indonesia.

Alief bersama 46 anak-anak rutin berkumpul di Kampung Ceria Galeri Kreatif. Beralas tikar, mereka tekun mewarnai buku gambar. Keceriaan anak-anak juga mewarnai aktivitas sore akhir pekan lalu. “Buku gambar ini sangat cocok, dan pesannya mudah dipahami anak-anak,” kata pegiat literasi Kampung Ceria Galeri Kreatif, Muzaki.

Muzaki menjelaskan mengenai buku gambar bertema toleransi dan keberagaman itu. Rutin setiap sore usai sekolah dan mengaji berkumpul di Kampung Ceria Galeri Kreatif. Pada Senin sampai Kamis, mereka belajar kelompok tentang pelajaran sekolah. Para mentor merupakan relawan yang membantu siswa untuk memahami dan menelaah pelajaran sekolah. Khusus, Jumat mereka belajar menggambar dan mewarnai.

“Kami ikut senang, buku gambar itu sangat mengedukasi buat adik-adik,” ujarnya. Buku gambar toleransi, katanya, mudah diimplementasikan dalam kehidupan sehari-hari. Tak hanya mewarnai, mereka juga diajak memelihara keberagaman dan toleransi. Saling menghargai perbedaan suku, dan agama.

Muzaki mengaku sebelumnya pernah mendapat lembaran gambar untuk mewarna. Namun, para siswa TK dan SD kurang antusias karena kurang mengeksplorasi keseharian mereka. “Tapi setelah menerima buku mewarnai, adik-adik senang sekali karena mereka bisa mewarnai sambil belajar. Belajar perdamaian, belajar toleransi dan juga mendapatkan banyak pengetahuan dari buku mewarnai itu,” katanya.

Buku mewarnai tersebut merupakan karya para ilustrator duta damai Badan Nasional Pemberantasan Terorisme (BNPT). Sebanyak empat ilustrator mahasiswa desain dan komunikasi visual yang mengerjakan buku gambar dan mewarnai tersebut. Buku gambar berukuran A4 setebal 30 lembar atau 60 halaman itu dikerjakan secara cepat.

Menangkal Radikalisme

Seorang anak menenteng buku mewarna warna-warni Indonesia. (Foto : Viqi Maulana).

Koordinator duta damai Ngalam di Malang, Viki Maulana menjelaskan jika pendekatan buku gambar untuk mewarnai lebih efektif untuk menangkal radikalisme sejak usia dini. Sedangkan selama ini, tak banyak lembaga dan komunitas yang menggarap segmen anak-anak tersebut. Sementara mereka rentan dipengaruhi paham radikalisme.

Buku gambar itu didesain menyenangkan dan mendidik. Buku gambar bertema toleransi, gotong royong, aku anak Indonesia, profil Presiden Indonesia. Dalam tema toleransi misalnya, digambarkan enam rumah ibadah, dan tokoh agama yang akrab bersama-sama. Selain itu, juga menggambar keberagaman di Indonesia dengan menunjukkan keberagaman suku, dan pakaian adat.

“Juga diselingi angka-angka, gambar kelinci dan super hero agar tak membosankan.” Siswa dikenalkan huruf dan angka karena sasaran buku gambar ini siswa TK sampai  SD kelas 2. Buku gambar ini telah dicetak 300 eksemplar, didistribusikan ke sejumlah komunitas dongeng, Forum Komunitas Taman Baca Malang Raya.

“Seluruh biaya percetakan ditanggung BNPT. Jika respon bagus, akan dicetak lebih. Awalnya target 1000 eksemplar,” ujar Viqi. Buku didistribusikan di sekitar Malang, Sidoarjo, Madura, Makassar dan Surabaya. Duta damai Ngalam, juga tengah mengagas kampanye semangat Indonesia dalam bentuk mural di Kampung Sinau, Kedungkandang.

“Sekaligus mengamalkan nilai Pancasila dan semangat Indonesia.” Viqi juga tengah mengajak para pendongeng untuk menyampaikan pesan perdamaian dan toleransi.  Ia telah memesan dua karakter boneka untuk media mendongeng.

Kedepan, katanya, akan melatih guru TK dan komunitas untuk mendongeng dengan pesan perdamaian dan toleransi. Serta akan disiapkan buku mendongeng dalam bentuk buku maupun video tutorial. Para duta damai juga tengah menyusun komik perdamaian melibatkan 100 ilustrator.

Untuk menggalang dana kampanye, Duta Damai Ngalam juga tengah membuka donasi dari donatur dan menjual cindera mata. Dana yang terkumpul akan digunakan untuk kegiatan dan biaya operasional kampanye perdamaian.  Duta damai Ngalam terdiri dari ilustrator, blogger, pegiat teknologi informasi, videografer dan fotografer.

NU Lestarikan Tradisi

Ketua Umum Lembaga Seniman dan Budayawan Muslim Indonesia (Lesbumi) NU, Kiai Haji Agus Sunyoto menyebut NU, telah meneliti perubahan pergeseran budaya sejak dua tahun lalu. Untuk itu, NU merumuskan strategi kebudayaan yang diserahkan kepada Lesbumi. Strategi kebudayaan Sapta Wikrama artinya tujuh kekuatan.  Salah satu strateginya adalah mengembalikan pengetahuan leluhur zaman dulu melalui pendidikan.

Paham ekstrem menimbulkan kebencian dan hanya menganggap diri yang paling benar. Sedangkan paham radikalisme dan intoleran tak mampu menembus pesantren. Lataran pesantren mewarisi Wali Sanga dengan ilmu tasawuf. Sehingga penyebaran agama Islam dilakukan dengan menghargai tradisi lokal dan cenderung toleran. “Tuhan yang disembah sama.”

NU juga berupaya untuk meneruskan tradisi lokal. Karya seni tumbuh dan hidup di pesantren. Pada 2010 pesantren menggugah tradisi kuno seperti sedekah bumi. Dulu sedekah bumi nyaris. Dianggap kepercayaan Jawa kuno, animisme dan dinamisme juga dituding bid’ah. Kemudian dibangkitkan lagi.

Termasuk seni Ludruk juga dikembangkan di pesantren. Ludruk dikembangkan santri pesantren Tebu Ireng pada 1930. Kiai Haji Hasyim Asyari mengizinkan perkembangan kesenian Ludruk karena memiliki misi. Berupa pendidikan informal perlawanan terhadap Belanda. Lakon yang dipentaskan senantiasa mengambil tema perlawanan terhadap penjajahan Belanda.

Pegiat Ludruk Kendo Kenceng, Sigit Priyo Utomo mengaku jika dalam menggarap sebuah lakon suasana keberagaman dan toleransi kental terlihat. Salah satu poin lakon di Kendo Kenceng biasanya menggarap dari situasi rukun dan toleransi yang dibangun dari berbagai interaksi sehari-hari.

Sigit mencontohkan tokoh Besut dalam lakon Rumah Gila dan Maniso dalam lakon Lemah Sangar mengangkat tema toleransi. Sayangnya jarang kelompok Ludruk yang menggarap tema atau lakon rumit apalagi tak populer dan diminati masyarakat. “Lebih banyak yang menggarap sekedar banyolan atau lawakan.”

Untuk itu, dia berharap para seniman Ludruk menggarap lakon yang menjaga idealism berkesenian dengan mengangkat tema toleransi dan keberagaman. Namun juga diimbangi lakon yang disukai dan sesuai kebutuhan masyarakat.

Nilai keberagaman itu, katanya, juga bagian dari kearifan lokal yang dipraktikkan di masyarakat. Terutama di pedesaan upacara sadranan atau selamatan di punden seluruh lapisan masyarakat hadir. Tak memandang usia, agama dan suku.

 

Tinggalkan Pesan