Merenungkan Makna Time is Money vs Urip Mung Sak Dermo Mampir Ngombe Mencari Jati Diri

Ilustrasi: Cartoon Movement
Iklan terakota

Terakota.IDTime is Money adalah salah satu dasar falsafah hidup konsep dan pemikiran materialisme. Waktu adalah uang, jika itu kita sepakati sebagai kebenaran dalam menapaki perjalanan hidup dan dalam melakukan segala aktifitasnya. Maka alam bawah sadar kita akan mengikuti arah perjalanan langkah-langkahnya ke depan.

Di balik kata ini seolah mengatakan bahwa setiap langkah adalah uang, setiap langkah adalah untuk kebutuhan hidup, dan kebutuhan hiduo adalah untuk mengumpulkan uang agar hidup menjadi aman dan tenteram. Maka dibentuklah aturan ekonomi, sosial dan politiknya agar membenarkan adanya falsafah tersebut. Akan tetapi jika kita bertanya

“Benarkah kebutuhan hidup adalah untuk mengumpulkan uang, dan benarkah dengan uang hidup menjadi tenang ?” Time is money sesungguhnya adalah falsafah dan slogan yang dibuat oleh Industrialis. Slogan tersebut juga adalah bagian dari strategi agar produksi mereka terus berjalan dan semakin meningkat.

Ketika produksi sudah tercipta, maka mereka akan menelisik dan merasuki hasrat liar manusia. Hasrat yang dasarnya memang rapuh dengan slogan baru tentang citra kelas. Sehingga akan membawa narasi angan manusia merasa melambung dan menjadi sesuatu. Selain kata-kata dalam bentuk slogan, falsafah dan rangsangan narasi keseolah-olahan, para Industrialis juga memberikan gambaran bentuk visual lewat film. Agar semakin memperkuat dan membenarkan narasi angan tersebut.

Kita sebenarnya bisa kembali lagi membaca kehidupan masa lalu sebelum terbentuknya gagasan Industrialisme sekitar abad 16 Masehi. Kelahiran industrialisme di dunia dimulai sekitar abad 19 Masehi di Eropa. Lalu mereka mengembangkan pola dan strategi industri menuju pada kekuasaan ekonomi dan politik.

Ada baiknya jika kita mencoba melihat kehidupan masa lalu para nenek moyang kita. Sehingga kita tidak terlalu jauh terjebak pada narasi yang diciptakan para indutrialis.  Masih banyak kehidupan di desa saat ini sangat sederhana. Secara materi sederhana, namun mereka tetap tenang dan nyaman. Tak ada tekanan gaya hidup dan citra hitam materilaisme di sana.

Beberapa desa adat saat ini bahkan memutuskan menolak teknologi, yang dikhawatirkan berpengaruh dan mengubah kehidupan masyarakat setempat.  Sehingga masyarakat tidak membutuhkan anggapan sebagai orang kaya.

Kehidupan mereka terlihat begitu tenang dan nyaman karena tidak adanya pertarungan dan perebutan kekuasaan atau kekayaan. Sehingga tidak ada praktik saling telikung dan bahkan hingga membunuh. Lantaran di alam bawah sadar mereka, mengutamakan kesederhanaan dan kebermanfaatan hidup dan kehidupan.

Kini, kita merasakan saat masuk menuju pada era percepatan,  kita sadar jika saat ini tidak mudah lagi bersilaturahmi. Kecuali silaturahmi dilihat berdampak, misalnya menguntungkan secara materiil. Tapi percepatan yang seperti apa? ternyata kita belum juga mengurai tentang apa yang di maksud dengan era percepatan tersebut. Sebagai bangsa dan negara, kita justru kintir atau terbawa arus percepatan yang diinginkan oleh dunia industri, sedangkan kita tak pernah mengerti arti dan posisi pentingnya bagi Negeri Nusantara.

Sejatinya kita adalah orang-orang yang sangat mencintai kedamaian. Sehingga begitu banyak slogan dalam falsafah yang terciptakan dan mengarah pada hal-hal yang justru mengajak kita untuk tidak terjebak pada arus materialisme, arus industrialisme. Karena memang peradaban dan kebudayaan kita sudah melampaui itu semua dalam memproses hidup dan kehidupan di alam nusantara yang gemah ripah loh jinawe ini.

Sebuah wilayah dengan tanah ditingkatkan kesuburan yang sangat berlebih dan dengan potensi sumber daya alam bawah tanahnya yang juga berlimpah. Sehingga dengan potensi sebesar itu, sesungguhnya bangsa ini tak lagi membutuhkan sebagai negara industri.

Urip Mung Sak Dermo Mampir Ngombe adalah salah satu Slogan Falsafi yang mengajak kita tidak hanya untuk hidup sekedar mencari harta. Tapi juga mengajak kita agar kita menjadi manusia yang bermanfaat untuk terciptanya kedamaian dengan menghargai setiap individu. Slogan itu juga mengajak kita untuk bersabar dan menjadikan tiap individu menjadi kuat dan tenang dalam menghadapi tekanan kehidupan.

Hari-hari ini alam bawah sadar kita telah banyak kehilangan nilai-nilai falsafah dalam kabudayan yang telah di bangun okeh poro Mbah kita dengan latar belakang geografis alam surga yang kita tinggali saat ini. Alam bawah sadar orang-orang nusantara saat ini telah terkontaminasi dengan cukup kuat slogan falsafi materialisme yang diciptakan oleh para industrialis. Memang karena mereka hidup di atas tanah dengan geografisnya yang kering. Sehingga membutuhkan strategi tertentu untuk bertahan hidup dan mempertahankan kehidupannya.

 

Nashir Ngeblues