Merekonstruksi Instrumen Berdawai di Relief Jajaghu

Terakota.id-Pegiat Fetival Dawai Nusantara, seniman dan arkeolog tengah merekonstruksi instrumen tradisional berdawai di Malang. Instrumen berdawai atau waditra ditemukan di relief Kunjarakarna di Candi Jajaghu, Tumpang. Serta ditemukan arca perunggu, dan arca tanah liat yang ditemukan di daerah Nganjuk. Ada lima jenis instrumen dawai saat itu.

“Relief candi memberikan informasi bentuk, cara memainkan, pemain serta konteks peristiwanya,” kata arkeolog Universitas Negeri Malang, Mudzakir Dwi Cahyono. Sedangkan sumber data kesusastraan memberi informasi yang lebih luas, meliputi bentuk, cara memainkan, pemain,  bunyi musikal, dan kualitas bunyi.

Musikal waditra berdawai kelompok chrodophone, katanya, diperkirakan pada Masa Hindu-Buddha yakni abad ke 10 sampai 16. Waditra dimainkan untuk kepentingan ritual seperti upacara daerah perdikan, mengiringi tari-tarian. Tangkainya menyerupai busur panah, dengan dua resonator tambahan berbentuk separuh buah labu.

Waditra itu dimainkan Gandharwa, tangan kiri memegang tangkai waditra sedangkan tangan kanannya memetik dawai. Temuan prasasti dan relief candi, katanya, cukup untuk merekonstruksi instrumen tradisi tersebut. Waditra ini diperkirakan wina yakni perkembangan dari bin sebuah instrumen asal India. Kala itu, katanya, juga ada pandai atau perajin waditra berdawai pada zaman Kerajaan Singhasari maupun saat Majapahit.

Relief Kunjarakarna di Candi Jajaghu. Tampak Gandharwa, memainkan instrumen berdawai (Dok. M. Dwi Cahyono)

Dwi Cahyono tak mengetahui pasti kenapa waditra berdawai itu punah tak ditemukan jejaknya. Termasuk tak ada dokumentasi bunyi dan ada yang memainkannya. Diperkirakan waditra yang lahir saat masa Hindu-Buddha tak dimainkan lagi saat masuknya Islam. “Mungkin saat Islam masuk, tak ada lagi yang memainkannya,” kata Dwi.

“Kita akan buat purwarupa sekaligus eksperimen bunyian,” kata Ketua Panitia Dawai NusantaraYusuf Munthaha. Dia menggandeng Hartoyo Hardjo Soewito atau yang dikenal Yoyok Harness musisi yang piawai membuat purwarupa instrumen dawai. Dia belajar secara otodidak membuat sitar instrumen dari India dan belajar selama empat tahun di India.

Yoyok kuliah jurusan Antropoligi Musik di Karnataka University of Dhardward dan Halim Sitar Academy, Bombay, India. Menurut Yoyok dibutuhkan waktu selama setahun untuk membuat purwarupa dengan kualitas suara yang bagus. Dia juga akan bereksperimen untuk
menghasilkan instrumen tradisi yang berasal dari Malang.

Dia tertantang untuk mengerjakan purwa rupa instrumen dawai itu. Dibutuhkan waktu selama setahun untuk menciptakan instrumen musik itu. Tak ada kendala dalam pembuatan instrumen itu. Yoyok belajar ilmu rancang bangun instrumen dari seorang gypsy Belgia yang bermukin
di Bali. “Suara yang dihasilkan akan lebih sempurna,” ujarnya.

Tinggalkan Balasan