Mereka Telah Naik Ke Sorga

Oleh : Muhammad Yasir*

Terakota.id–DI SUATU KAMPUNG yang jauh dan tak perlu kau tanyakan di mana, kehidupan berjalan sunyi. Sinar matahari berwarna keemasan menembus retina dan hembusan angin menggesek sinar keemasan itu dan membuat pagi yang lembab berubah menjadi kengerian tersendiri seperti requiem pada hari penghabisan. Ada jalan setapak tertutup dedaunan kering membentang ke Selatan menuju Sungai Kerangkang berair cokelat dan riaknya yang senantiasa menghantam batu-batu di bantaran sungai terdengar seperti tangisan seorang perempuan meratapi kematian anak lelakinya di gelanggang perang. Di sanalah para tetangga, lelaki-perempuan, tua-muda pergi berjudi nasib sembari sekali dua memaki diri sendiri. Betapa pun, kehidupan dewasa ini telah menelan banyak kesedihan, kepedihan, kesepian, dan kematian. Seorang tetua mengatakan, setiap hari kami ada di sungai ini untuk berjudi nasib. Ya… karena hidup ialah perjudian.

Mereka kalah.

Namun hidup bukan melulu tentang kekalahan. Beberapa orang di antara mereka memilih meninggalkan kampung itu atau bahkan menghilangkan identitas mereka demi menjadi seseorang yang lain, seorang kota yang tampak beradab. Bagi mereka, perjudian nasib hanya akan dimenangkan apabila keluar dari tempat asal, tanah kelahiran. Jikalau tidak, nasib mereka akan sama dengan para pendahulu mereka; hidup dalam bayang-bayang ketertinggalan dan primitif. Dan diam-diam, mereka pun bersumpah keturunan mereka tak boleh mengetahui dari mana asal-usul mereka, karena itu merupakan hal memalukan: “Jangan pernah bicara berlebih kepada anak-anak kita. Biarkan asal-usul kita menjadi rahasia kematian!” Begitulah sumpah mereka.

Pada suatu waktu, seorang mantri parubaya bertampang agak jelek-tapi-rapi yang dikirim oleh administrator daerah Borneo bagian Tengah untuk mengobati si lelaki muda; kurus, bau, dan jelek yang hidup di rumah kayu, akhirnya menyerah dan memutuskan pulang ke kota. Namun sebelum si mantri meninggalkan si lelaki muda, dia menyuruh Kasman–tetangga si lelaki muda yang hanya akan ada di rumah pada malam hari saja–untuk sesekali menjenguk si lelaki muda dan memberikan dia makan. Tentu saja ada harga untuk itu. Si mantri muda membayar limapuluh ribu rupiah untuk sekali jenguk.

“Aku tak yakin pemuda itu akan bertahan selama setengah dekade. Hari ke hari aku menyaksikan bagaimana penyakit itu memakan seisi perutnya, sehingga tubuhnya persis sebidang papan kempas tebal lima. Selain itu, persediaan obat mulai menipis. Untuk hari ini dan beberapa minggu ke depan, rawatlah pemuda ini sewajarnya merawat manusia. Katakan kepada istrimu dan sampaikan salamku kepadanya,” kata si mantri parubaya sembari mulai bergegas pergi.

“Mantri? Tunggu!” teriak Kasman sembari menghampiri si mantri parubaya.

“Ya?”

“Aku tak tahu sampai kapan pekerjaan ini kujalankan. Jujur saja, upah yang kau berikan sangat tak cukup. Sejujurnya, e… aku ingin kenaikan upah,” kata Kasman dengan nada kurang nyaman.

Mendengar perkataan itu, si mantri parubaya mengelus dada kemudian berkata, “Orang kalau sudah diajarkan menghtung angka dan membedakan warna uang, maka setiap perkataannya hanyalah uang dan uang. Tuhan pun jika boleh!”

“He-he…” Kasman semringah sembari menggaruk-garuk kepalanya.

“Baik. Kau akan kubayar tujuhpuluh lima ribu sehari. Bagaimana?”

“Kalau begitu, ‘kan enak didengar. Baiklah. Aku akan mempertahankan pekerjaan ini,” Kasman kemudian secepat kilat mengambil uang itu dan menggumpalnya, kemudian bergumam, “Dasar rente!”

Dan si mantri parubaya pun melangkah pergi.

Sudah tiga bulan tetanus di dada dan betis si lelaki muda memaksanya untuk ikut dalam perjudian nasib hidup dan mati. Sekali dua dia menerka siapa yang akan memenangkan perjudian ini; alih-alih mencoba melupakan bagaimana kerinduannya menggunung di dada yang sama. Betapa pun, semenjak tetanus memaksa dia untuk terbujur sekarat, anak dan istrinya pergi ke kota dan tak pernah kembali. Kabarnya, istrinya telah disunting seorang kaya dan derma di sana. Anak perempuannya kini telah memiliki puluhan sepeda.

“Jika saja, oh… jika saja Ranying Hatalla, Tuhan Yang Esa segera memutuskan siapa pemenang dalam perjudian ini, aku akan bekerja ekstra di perkebunan dan mengambil kembali anakku. He-he, dan setiap hari Minggu kami akan pergi memancing di bantaran sungai.”

Begitulah cara si lelaki muda menghibur diri.

Ada seorang tetua yang adil dan bijak dalam menjalani kehidupannya di kampung itu. Keadaan si lelaki muda itu membuat hatinya terketuk untuk bertandang. Pada Selasa yang biasa-biasa saja, si tetua bertandang ke rumah si lelaki muda dengan membawa berkardus-kardus makanan dan minuman. Sesampainya di halaman rumah kayu itu, dia melihat Kasman dan istrinya duduk di beranda rumah, sesekali tertawa terpingkal-pingkal. Namun kemudian, setelah menyaksikan kedatangan si tetua, Kasman dan istrinya terdiam dan bergeming.

“Di sini kau, Kasman?” tanya si tetua.

“Iya, tetua, aku ditugaskan mantri untuk menjaga dan merawat Dohong semasa dia pergi ke kota mengambil persediaan,” jawab Kasman, canggung.

“Mengapa tertawa terpingkal-pingkal? Apa yang lucu dari kesakitan seseorang?”

Sekali lagi, Kasman dan istrinya terdiam dan bergeming.

Melihat kedatangan tetua, si lelaki muda mencoba untuk bangkit. Namun, si tetua berusaha mencegah kemudian membaringkan si lelaki muda.

“Tak perlu memaksakan diri, Dohong, aku tak membutuhkan itu.”

“Oh… tetua. Apa yang membuat kau bertandang ke rumah ini. Karena keadaanku yang sedemikian menyedihkan ini?”

“Tidak. Aku datang bukan karena keadaanmu, tetapi kau memiliki hak yang sama di tanah ini; hak untuk hidup sebagaimana orang kebanyakan. Ingat baik-baik, Dohong, jangan pernah menyerah dan tunduk pada keadaan seperti mereka yang telah meninggalkan tanah leluhur mereka untuk bergabung dengan tanah leluhur orang lain. Perkara kematian, tak seorang pun bisa mengelak. Dan, kita akan mati sama-sama di sini, di tanah leluhur kita dan Sorga leluhur kita.”

“Oh… tetua…”

“Aku membawa beberapa ramuan untuk energi dan lukamu. Aku akan membuatkan teh Bajakah dan bedak Penawar Sampai.”

Saat si tetua sibuk membuatkkan teh dan bedak di dapur, Kasman dan istrinya masuk ke dalam rumah dan duduk di sebelah pembaringan tanpa sepatah kata pun. Rasa bersalah mulai menguasai perasaan mereka, ketika menyaksikan si lelaki muda terbujur tampak semakin kehilangan daya. Tak berapa lama kemudian, si tetua kembali ke kamar sembari dan menyuruh si lelaki muda membuka matanya. Namun, si lelaki muda tak menggubris. Dan untuk kesekian kali si tetua mencoba membangunkan, tetap saja si lelaki muda tak menggubris.

Ranying Hatalla mempermudah jalanmu ke Sorga, nak!” kata si tetua sembari menghembuskan nafasnya dalam-dalam.

Seminggu kemudian. Berkat kebaikan hati si tetua, Tiwah atau ritual pengangkatan arwah ke Sorga dilaksanakan. Para tetangga, kecuali keluarga si lelaki muda, berkerumun sembari sesekali terisak dan menari-nari bersama sebagai tanda pertemuan dan perjamuan terakhir di dunia. Alhasil, si tetua tak kuasa menahan airmatanya. Gugurlah semua, gugurlah! Seperti dedaunan kering di jalan setapak yang berakhir di Sungai Kerangkang berair cokelat.

Seusai upacara Tiwah, seorang anak lelaki mengajak ibunya pulang. Dalam perjalanan pulang masih terngiang pada benaknya bagaimana kerbau yang ditombaki hingga mati tadi sore; acap kali ujung tombak mendarat di perutnya, ia meronta kesakitan, lehernya diikat dengan tambang, darahnya meleleh dari kulit hingga jatuh ke tanah. Seandainya kerbau itu tak diikat, mungkin akan menendang mereka yang menombaki dengan kaki belakangnya.

“Bu, kasihan kerbau tadi ya?” kata si anak lelaki.

“Hm,” ibunya menjawab sembari tetap melangkah. Kemudian melanjutkan, “Tanpa kerbau, Tiwah takkan sakral. Dan yang mereka minum itu tuak. Minum tuak wajib dalam Tiwah. Untuk menghormati yang mati.”

Si anak lelaki tak mengerti apa yang dikatakan ibunya dan memilih diam.

“Kasihan kerbau tadi,” ucap si anak lelaki setibanya di rumah.

“Sudah. Jangan diingat-ingat!” tegas ibunya.

Namun, ketika si anak lelaki masuk ke dalam kamar dan merebahkan tubuh di tilam, bayangan orang menombaki kerbau tadi sore muncul setiap kali dia melempar pandang matanya ke dinding kamar. Selain kerbau yang ditombaki, pun muncul bayangan tulang tetua desa yang diambil dari dalam peti dan dimasukkan ke dalam rumah panggung kecil di samping patung anak kecil telanjang dengan patung monyet duduk di bahunya. Rumah panggung dan patung itu terbuat dari kayu ulin.

Semakin malam, bayangan Tiwah semakin menghantui si anak lelaki; Kerbau, tulang-belulang, rumah panggung kecil, patung anak kecil telanjang dengan patung monyet duduk di bahunya datang terus-menerus. Sontak, si anak lelaki keluar kamar dan masuk ke kamar orang tuanya.

“Tanpa kerbau, Tiwah tidak akan sakral,” ucapan itu semakin menjadi-jadi dan si anak lelaki ketakutan bukan kepalang, sehingga tak sadarkan diri.

Sinar matahari berwarna keemasan menembus retina dan hembusan angin menggesek sinar keemasan itu dan membuat pagi yang lembab berubah menjadi kengerian tersendiri seperti requiem pada hari penghabisan. Ada jalan setapak tertutup dedaunan kering membentang ke Selatan menuju Sungai Kerangkang berair cokelat dan riaknya yang senantiasa menghantam batu-batu di bantaran sungai terdengar seperti tangisan seorang perempuan meratapi kematian anak lelakinya di gelanggang perang. Di sanalah para tetangga, lelaki-perempuan, tua-muda pergi berjudi nasib sembari sekali dua memaki diri sendiri. Betapa pun, kehidupan dewasa ini telah menelan banyak kesedihan, kepedihan, kesepian, dan kematian. Seorang tetua mengatakan, setiap hari kami ada di sungai ini untuk berjudi nasib. Ya… karena hidup ialah perjudian.

Sesekali kau harus bertandang ke sini, kami akan menjamu dirimu layaknya seorang raja. Para perempuan kami akan memasak masakan terbaik dan tak pelak beberapa botol baram untuk membakar kalori dan menenangkan kepala. Dan ya… tentu saja anak-anak perempuan kami telah membersihkan dan menyiapkan kamar untukmu dengan wewangian khas tanah ini. Jangan risau, sebagian dari kami telah naik ke Sorga. Takkan ada yang berani mengganggu tidurmu.

Apakah kau tertarik untuk datang?

Sampit, 07 Desember 2020.

Muhammad Yasir (@necropolitan_) lahir di sebuah desa di pedalaman Pulau Kalimantan bagian Tengah, Danau Sembuluh 18 Agustus 1994, yang memutuskan untuk meninggalkan tanah kelahirannya itu demi kuliah di Fakultas Sastra, Budaya, dan Komunikasi Universitas Ahmad Dahlan (UAD) di Yogyakarta. Pemuda yang kerap disapa Yasir Dayak ini aktif dalam Gerakan Literasi  Indonesia (GLI), Partai Pergerakkan Kedaulatan Mahasiswa (PANDAWA UAD), Redaktur Sastra di Jaganyala, Redaktur Swara Sastra di Literasi.co, dan anggota aktif Teater 42. Namun kini dia kembali ke tanah kelahirannya.

Cerpen ini terpilih sebagai Juara III dalam Lomba Menulis Cerpen yang diselenggarakan Terakota.id

Tinggalkan Komentar

Silakan tulis komentar anda
Silakan tulis nama anda di sini