Merawat Naskah Kuno, Menyelamatkan Sejarah

Koleksi Pewarta Boemi koran berbahasa melayu yang diterbitkan di Belanda. (Foto : Istimewa).

Terakota.id–Surat kabar berbahasa melayu terbitan Amsterdam Belanda, Pewarta Boemi dibingkai dalam kaca. Surat kabar edisi 2 Juni 1897 berjudul “Radja Koetai di Nederland.” Surat kabar ini melaporkan kunjungan Raja Kutai yang tengah bertemu dengan para bangsawan kerajaan Belanda.

“Surat kabar ini saya peroleh di Jakarta,” ujar kolektor naskah klasik, Erwin Dian Rosyidi. Surat kabar Pewarta Boemi juga menjelaskan apa saja yang diperbincangkan dalam pertemuan itu. Pewarta Boemi terbit sejak 1890 yang dikelola oleh bekas asisten residen Y. Strik. 

Erwin juga memajang sejumlah naskah klasik lainnya di Pameran Naskah Klasik Nusantara ini. Total 12 koleksi naskah dan kitab kuno yang ditulis 1700-1800 miliknya dipamerkan. Erwin menunjukkan surat kabar Persatoean Indonesia yang diterbitkan PNI pada 20 Januari 1931. 

Untuk mengoleksi naskah kuno itu, Erwin berkeliling nusantara. Menurutnya, naskah tersebut tak ternilai harganya. Erwin juga memajang naskah kuno Surat Darmogandhul Gatholotjo pada 1800. Ada yang menafsirkan, pengarangnya adalah Ronggo Warsito yang menggunakan nama samaran Ki Kalam Wadi. Nama tersebut artinya rahasia atau kabar yang dirahasiakan. 

Orang Asing Peduli Naskah Kuno

Warga Negara Australia merawat dan menyalin naskah klasik tanpa bantuan pemerintah. John Paterson, 56 tahun, mengumpulkan naskah klasik sejak 1980 saat meneliti untuk tugas disertasi untuk program doktoral di Universitas Sebelas Maret (UNS). Setelah terkumpul banyak naskah kuno, bersama alumni UNS lain mendirikan Yayasan Sastra Lestari (Yastri) Solo pada 1997.

“Kami melakukan digitalisasi naskah klasik,” kata pegawai Yastri, Abdi Utami. Koleksi naskah klasik diperoleh dengan berburu ke sejumlah pasar loak Triwindu (Ngarsopuro) dan Alun-Alun. Saat itu, katanya, naskah klasik yang tak ternilai harganya ini dijual murah.

Naskah klasik tersebut berserakan dan dikhawatirkan rusak. Padahal naskah itu berguna untuk ilmu pengetahuan. Selain berburu naskah, pengusaha yang menekuni sejarah dan sastra Jawa ini mendapat sumbangan dari berbagai pihak. Setelah naskah yang terkumpul banyak, John berusaha menyelamatkan isi dalam naskah tersebut. 

Sedangkan secara fisik naskah kuno itu tetap dirawat untuk mempertahankan fisiknya. Untuk itu, mereka melakukan digitalisasi dan alih aksara agar bisa dibaca dan dipahami khalayak. Seluruh naskah, katanya, ditulis dengan aksara Jawa. 

Berupa naskah carik atau tulisan tangan dan sebagian menggunakan mesin cetak. Dari 800 an naskah koleksi John, baru sekitar 30 persen yang berhasil digitalisasi. Hasil alih aksara tersebut diunggah ke situs www.sastra.org.

Abdi Utami mengalihaksara naskah kuno di kantor Yayasan Sastra Lestari, Surakarta. (Foto : Jawa Pos).

Siapapun, katanya, bisa mengakses dengan gratis. Sebagian besar yang menggunakan hasil alih aksara merupakan akademikus, mahasiswa dan peneliti. Tak hanya akademisi di Indonesia juga datang dari Amerika, Belanda, Australia dan negara-negara di Eropa.

Sebagian naskah alih aksara juga berasal dari Museum Radya Pusaka dan milik kolektor lain. Proses alih aksara tergantung tebal naskah dan kesulitan naskah. Seperti naskah Bawarno karya pujangga Patmosusastro, proses alih aksara membutuhkan waktu selama empat tahun.

Kini total 250 naskah yang telah selesai dalam bentuk digital. Awalnya naskah dipindai, dilakukan alih aksara, dicek dibawa ulang, dicetak dan dikoreksi oleh editor. Setelah proses editing, naskah bisa diunggah di situs sastra.org. “Saya tertarik melestarikan dan mencintai naskah kuno. Ini panggilan hidup,” ujar editor, Joko Lelono.

Yastri mempekerjakan enam orang untuk melakukan alih aksara dan merawat naskah kuno. Naskah yang telah digital antara lain serat centini yang memindai naskah asli di Perpustakaan Universitas Leiden, Belanda. Seluruh biaya operasional berasal dari John, tak ada bantuan dari pemerintah.

Dulu, kata Joko, DPRD Kota Surakarta mengundang dan meminta presentasi namun tak ada tindak lanjut. Yastri juga sempat mengajukan bantuan dana hibah ke Toyota Foundation, namun gagal. Sehingga sampai saat ini seluruh biaya berasal dari John.

Sedang proses penyimpanan dan perawatan naskah kuno juga tak sembarangan. Naskah diletakkan di peti khusus, dibungkus plastik. Setiap lembar kertas disisipi kertas minyak untuk keruasakan. Naskah tersebut juga disemprot cairan anti kutu dan serangga. Naskah paling tua adalah Serat Dhamarwulan ditulis 1810.

Tinggalkan Komentar

Silakan tulis komentar anda
Silakan tulis nama anda di sini