Merawat Mudik, Menawarkan Kemajuan

Kendaraan pemudik memadati pintu gerbang tol Cipali, Palimanan, Cirebon, Jawa Barat. (Foto : Tempo.co).

Oleh: Muliansyah Abdurrahman*

Terakota.id-Kembali kita melihat kegiatan pulang kampung bagi masyarakat Indonesia pada saat bulan suci ramadan hingga menjelang hari raya idul fitri. Walaupun budaya pulang kampung bagi masyarakat Indonesia sering dilakukan pada acara keluarga maupun hari raya besar yang lain.  Tetapi pulang kampung yang sangat meriah adalah pulang kampung saat datang ramadan dan hari raya idul fitri.

Karena momen ini, selain libur yang begitu panjang dan sudah menjadi kebiasaan bagi masyarakat Indonesia yang notabene mayoritas beragama islam. Jadi pulang kampung atau bahasa lain disebut “mudik” pada hari raya spesial ini sudah menjadi satu keistimewaan bagi seluruh masyarakat Indonesia.

Tentu sebagai masyarakat ilmiah pasti melontarkan berbagai pertanyaan bahwa apa itu sebenarnya “mudik”? Apakah mudik selama ini yang kita lakukan setiap datangnya ramadhan dan idul fitri setahun sekali sudah menjadi bagian dari kemajuan? Atau hanya mempertahankan tradisi yang berulang-ulang hingga ramadhan kali ini terus selesai.

Sebagaimana kita melihat mudik sejak kita lahir dan turun-temurun hingga generasi kita. Mudik masih sekadar menjadi hiasan dan tradisi tahunan pulang kampung sesuai dengan defenisi dan epistemologinya. Artinya kegiatan pulang kampung bagi perantau/migran ke kampung halaman atau kelahiranya. Secara etimologi mudik adalah asal kata dari “udik” yang artinya hulu/selatan. Kata mudik atau udik memiliki sejarah masa lalu yang diambil dari kota Jakarta masih menjadi Batavia yang berada pada wilayah strategis perdagangan lokal maupun regional.

Maka mudik atau udik menjadi cerita  di saat itu. Saat Jakarta masih bernama Batavia, kegiatan suplai hasil bumi daerah kota Batavia diambil dari wilayah-wilayah luar tembok kota di selatan. Karena itu, ada nama wilayah Jakarta yang terkait dengan tumbuhan seperti kebon jeruk, kebon kopi, kebon nanas, kemanggisan, duren kalibata, dan sebagainya.

Susana mudik lebaran pada 2013. (Foto :Kompas.com).

Maka para petani tersebut membawa hasil bumi melalui sungai. Dari situlah muncul istilah milir-mudik yang artinya sama dengan bolak-balik. Mudik atau udik saat pulang dari kota kembali ke ladangnya begitu terus berulang. (Lihat: https://id.wikipedia.org/wiki/Mudik).

Tercatat tradisi mudik terbesar di Indonesia ada di pulau Jawa. Khususnya mudik ke Jawa Tengah dan Jawa Timur. Pada 2014 data mudik hampir mencapai kurang lebih 7 juta jiwa. Masyarakat mudik menuju Jawa Tengah, Jawa Timur, Bali, Sulawesi, Sumatera, Kalimantan hingga Maluku dan Papua.

Ini menunjukkan bahwa budaya pulang kampung di Indonesia pada saat lebaran idul fitri memberikan nilai positif bagi masyarakat Indonesia. Yakni nilai merajut kebersamaan sanak keluarga setahun sekali. Membangun silaturrahmi yang rukun, saling memberi satu sama lain, berbagi dan perputaran ekonomi juga meningkat.

Melihat mudik di Indonesia dari tahun ke tahun ada kemajuan. Tapi masih dalam konteks kemajuan sistem manajemen transportasi, empat hingga lima tahun belakangan ini mengalami kemajuan. Indonesia secara transportasi dan akses untuk mudik mulai terjangkau. Efek kemajuan serta kecepatan mulai terjamak dari jalur trasportasi umum maupun swasta. Sehingga kepergian para pemudik mulai terhindar dari biaya transportasi mahal.

Menghindar risiko kecelakaan dan menghindar keterlambatan proses perjalanan mudik serta kecepatan dan kemudahan mudik mulai perlahan di rasakan dengan baik dan memuaskan. Baik transporasi pesawat, kereta, bus, dan kapal laut.

Berarti mudik persepsi kemajuan masih berada pada ruang akses trasportasi yang sudah lebih baik dan mapan. Tetapi mudik pada aspek kebangkitan peradaban kemajuan masih belum dilakukan secara baik dan filosofis. Yakni; mudik masih pada tataran pulang kampung, mudik untuk melihat keluarga, mudik untuk melihat kampung, kangen-kangenan keluarga dan seremoni-seremoni yang romantis dalam suasana lebaran.

Sehingga tawaran mudik untuk kemajuan belum begitu terasa dan keterkaitan satu dengan yang lain. Padahal tradisi mudik kalau benar-benar menjadi garda kemajuan. Maka mudik juga akan memiliki nilai kemajuan dan memastikan masa depan lebih terukur dan terlihat.

Mudik pada aspek kemajuan harus dilakukan pada momentum mudik lebaran 2019 kali ini, mampu menjelaskan naluri kehidupan mudik dari arah seremoni ke arah progres kemajuan di lingkungan kampung. Penulis juga ikut mengembangkan baik secara SDM maupun kerja yang dapat bermanfaat untuk kepentingan orang banyak.

Tradisi mudik tetap terjaga dan selalu dirawat dalam kehidupan berkeluarga. Dimana pengembangan kemajuan mudik harus berjalan sesuai dengan tingkat kematangan seseorang. Dalam hal ini, persepsi mudik mulai berada pada ruang kemajuan. Artinya tetap kita merawat mudik ini sebagai tradisi yang patut kita banggakan. Tetapi lebih dari itu adalah kemajuan dan manfaat mudik bagi banyak orang.

Tawaran kemajuan mudik adalah membangkitkan kesadaran kemajuan di kampung menjadi utama. Mulai dari budaya bersih, budaya rajin, budaya kemampuan leadership, budaya transformasi, budaya berbagi pengalaman dan budaya melahirkan gagasan brilian untuk masyarakat di kampung. Pola perubahan hidup harus dilewati, dari pola-pola mudik sebelumnya menjadi pola baru mudik dengan mengangkat dan memperdayakan masyarakat secara mandiri dan terarah.

Mudik harus bermanfaat dengan mendorong generasi baru untuk menjadi bagian dari solusi dan perubahan kearah kemajuan. Mudik juga terus mendobrak generasi baru harus memiliki setiap usaha-usaha mandiri dan berkelanjutan. 

Demikian sekilas tentang mudik ini, tradisi tetap terjaga dan tetap menjadi keistimewaan tersendiri setiap tahun datangnya ramadhan dan idul fitri. Namun lebih dari semua itu, format mudik perlu di tambahkan beberapa aitem untuk perubahan menuju kemajuan. Antara lain pulang kampung harus bermanfaat, bermakna, menjadi solusi dan selalu menciptakan prestas-prestai serta mentrasformasikan pengalaman-pengalaman pada kesempatan di agenda mudik.  Sehingga masyarakat masa depan jauh lebih baik dan punya peradaban yang kuat.

Pondok Gede, 7 JUNI 2019

*Penulis adalah dosen FISIP UMS dan Peneliti Institut Politik Indonesia (IPI)

Tinggalkan Komentar

Silakan tulis komentar anda
Silakan tulis nama anda di sini