Merawat Bumi, Memanen Wisata

Air terjun Sumber Nyonya Kalipucang, dulu merupakan tempat mandi khusus Nyonya Belanda yang bermukim di kawasan Nongkojajar. (Foto : Pokdarwis Kalipucang).

Terakota.id–Angin berembus sepoi. Daun dan batang bambu menari, sekaligus mengeluarkan bebunyian. Gemericik air dari simber pitu, merdu mengiringi nyanyian rumpun bambu. Nyanyian alam menghasilkan harmoni. Angin bak konduktor yang memandu sebuah orkestra. Nyanyian alam ini bisa dinikmati di Dusun Telogo atau Kampung Telogo, Desa Kalipucang, Kecamatan Tutur, Kabupaten Pasuruan.

Nyanyian merdu, menenangkan jiwa bagi siapa saja yang berkunjung. Sejumlah gazebo dibangun di setiap sudut area wisata Tujuh Sumber Telogo. Pengunjung bisa duduk menikmati air terjun sumber telogo dan nyanyian alam. Rumpun bambu menjadi perindang menghalangi sinar matahari. Menciptakan suasana yang tenteram dan sejuk. “Cukup membayar tiket masuk Rp 5 ribu,” kata pengelola wisata, Samsul Arifin.

Siapapun yang datang, tak bakal rela beranjak dari gazebo. Apalagi ditemani kudapan atau minuman hangat. Rumpun bambu juga menjadi bahan baku bagi pemuda desa setempat untuk berkreatifitas. Membangun spot menarik untuk berswafoto, mulai jembatan penghubung yang melintas membelah sungai sumber telogo. Dengan latar Tujuh Sumber Telogo dan rumpun bambu.

Kincir air untuk menggerakkan generator listrik juga menarik wisatawan berkunjung. Memang tak besar arus listrik yang dihasilkan, hanya cukup untuk menerangi jalan utama menuju lokasi wisata. Kincir air terus berputar, digerakkan air yang mengalir dari aliran Tujuh Sumber Telogo. Tak jarang, masyarakat setempat masih memanfaatkan aliran sungai untuk mandi, dan mencuci baju.

Aneka jenis tanaman hias, juga menghiasi salah satu obyek wisata andalan di Desa Kalipucang. Untuk mencapai lokasi, Anda melintasi jalan setapak beralas paving. Hanya bisa dilintasi sepeda motor. Selanjutnya, Anda harus menempuh berjalan kaki menuju lokasi sekitar lima menit. Saat musim hujan, Anda harus berhati-hati. Jalan licin menjadi salah satu kendala.

Tapi jangan khawatir, lelah berjalan bakal ditebus dengan pemandangan yang asri dan suasana nyaman di Tujuh Sumber Telogo. Dijamin pengunjung bakal ketagihan untuk kembali mencicipi serpihan surga di dunia. Sisa bangunan bekas dam terbuat dari susunan batu masih jelas terlihat . Membuat kesan dan suasara vintage, seolah mengempaskan kita ke masa lalu.

Baca juga :  Sarasehan Sejarah Hari Ibu dan Gerakan Perempuan di Indonesia

Pengunjung ramai saat akhir pekan, yakni Sabtu dan Minggu. Dalam sebulan jumlah kunjungan wisatawan sekitar 100-150 orang. Namun saat musim hujan, pengunjung berkurang. Selama musim hujan sejak tiga bulan, kunjungan wisata hanya 20 an orang per bulan.

Tujuh Sumber Telogo Kalipucang memukau wisatawan dan air yang dipancarkan konon bisa menyembuhkan penyakit. (Terakota/Eko WIdianto).

Pengunjung berdatangan dari berbagai daerah di Nusantara. Mulai Malang, Surabaya dan Jakarta.  Bahkan sejumlah wisatawan asing juga datang. Sejumlah wisatawan asal Australia berkunjung setelah melihat video di youtube.

“Mereka berbahasa inggris. Saya bingung. Pakai bahasa isyarat. Mereka penasaran setelah lihat di youtube,” kata Samsul. Mereka tengah menjelajahi kawasan penyangga di Gunung Bromo. Biasanya wisatawan asing bakal melanjutkan perjalanan untuk berwisata ke Gunung Bromo.  Air jernih mengalir deras dari balik rumpun bambu. Masyarakat setempat meyakini air yang keluar dari Tujuh Sumber Telogo berkhasiat. Kepercayaan ini mengalir deras sejak dua tahun lalu.

Berkah Sumber Telogo

Tujuh Sumber Telogo menjadi destinasi wisata secara tak sengaja. Setelah seorang warga Bali bernama Sufifilosofi mampir ke ujung kampung Telogo. Ia datang untuk mengambil air dari tujuh sumber. Sebelumnya ia mendatangi Desa Sumberpitu yang tak jauh dari Kalipucang, namun tak menemukan sumber air yang memiliki tujuh sumber.

“Sufifilosofi ke sini 16 Agustus 2017,” katanya. Mengendarai mobil berplat nomor Bali, Sufifilosofi menemui Samsul Arifin yang lokasi rumah paling dekat dengan Tujuh Sumber Telogo. Ibu Sufifilosofi menderita kanker, telah berobat ke sejumlah dokter dan rumah sakit. Menghabiskan uang banyak. Namun, tak ada hasil dan tak mendapat kesembuhan.

Melalui sebuah mimpi, ia diminta mengambil air dari tujuh sumber di lereng Bromo. Sufifilososi berkeliling selama empat hari di Pasuruan namun tak menemukan tujuh sumber. Lantas menemukan Desa Sumberpitu, Kecamatan Tutur, Kabupaten Pasuruan. Lagi-lagi, ia tak menemukan sumber air berjajar tujuh yang mengalir.

“Dia tanya tujuh sumber mata air. Saya tak tahu saya. Saya abaikan saja,” katanya. Apalagi saat itu ia tengah mengantar istri ke keluarga di Tutur. Tak disangka beberapa jam kemudia, ia menemui Sufifilosofi tengah kerasukan. Ia meracau, berbicara tak karuan. Warga setempat kebingungan. Panik. Setelah siuman, Sufifilosofi mendatangi sumber mata air dan menyampaikan permintaan meminta maaf lantaran bertamu tanpa izin.

Baca juga :  Menyusuri Kampung Keramik Dinoyo (1)

Sufifilosofi mengambil air dalam beberapa botol minuman. Atas kehendak Tuhan, sakit ibunya berangsur sembuh. Samsul Arifin bersama dengan warga setempat begotong royong membersihkan sumber tersebut, dan menemukan tujuh aliran air berjajar. “Ternyata betul, tujuh sumber,” katanya.

Kisah Sufifilosofi tersiar dari mulut ke mulur. Hingga akhir 2017, banyak warga tetangga desa berdatangan. Pengunjung ramai. Pada Mei 2018 Sufifilosofi kembali datang dan menyampaikan terima kasih.

Kini, sebagian warga mempercayai air dari tujuh sumber memiliki khasiat bagi kesehatan. Mereka mempercayai air manjur untuk kesehatan. Mereka berdatangan untuk mencari kesembuhan.

Seperti warga desa yang mengalami tumor kandungan mendatangi sumber, ia mandi dan minum air dari sumber. Selama dua kali ke sana, ia merasakan ada perbedaan. Kondisi kesehatannya semakin baik. Padahal Sebelumnya seolah tak ada harapan, tak obat.

Berbagai sarana di Bukit Tumang menjadi salah satu destinasi wisata yang cocok bagi anak muda. Instagramable. (Foto : Pokdarwis Kalipucang).

Ada juga warga setempat yang sakit pegal linu, bernadzar jika sembuh akan menggelar tasyakuran. Sebulan setelah minum air tersebut, sembuh. Nadzar ditunaikan, warga diundang untuk menggelar tasyukuran bersama. “Alhamdulillah. Air sebagai perantara saja, kesembuhan dari Tuhan,” katanya.

Pengunjung ramai, terus berdatangan ke Tujuh Sumber Telogo. Sebagian pengunjung berkeyakinan air berkhasiat bagi kesehatan. Lantas, contoh air diuji di laboratorium PT Sucofindo (Persero). Hasilnya diketahui jika air mengandung mineral yang baik bagi tubuh dan bebas bakteri.

Selembar salinan hasil pemeriksaan air yang dikeluarkan PT Sucofindo (Persero) dipasang di gazebo. Sehingga, kata Samsul Arifin, tak hanya mistis dan keyakinan tetapi bisa dibuktikan secara ilmiah.

Kampung Telogo dihuni delapan keluarga. Keluarga yang mendiami memiliki hubungan kekeluargaan. Mereka merupakan anak cucu keturunan pasangan suami istri bernama Paimo dan Satiyah. Warga setempat memanfaatkan sumber air untuk keperluan keluarga, termasuk untuk memenuhi kebutuhan air minum. Termasuk digunakan memasok air minum bagi sejumlah kampung di sekitar Kalipucang.

Baca juga :  IDEoT, Perjuangan Teater Merawat Kehidupan

Dari dulu, katanya, digunakan untuk mandi, dan mencuci. Leluhurnya menempati daerah di pelosok desa yang dikenal dengan sebutan Kampung Telogo. Disebut Kampung Telogo lantaran memiliki sumber air yang melimpah bak telaga. Mereka menempati daerah tersebut sejak zaman penjajahan Belanda.

Mereka bersembunyi dan merasakan nyaman sebagai tempat tinggal. Sehingga didirikan bangunan permanen. Rumah mendekati sumber air untuk memenuhi kebutuhan air minum warga. Air di Sumber Telogo, katanya, dulu besar. Bahkan dibangun dam, tapi lama tak terurus dan rusak.

Kampung Susu

Sebuah bangunan bercat dasar putih dilengkapi ornamen hitam. Cat dibuat berpola menyerupai warna kulit sapi perah. Sebuah papan bertulis, Tempat Penampungan Susu Segar (TPS) Kalipucang II serta dilengkapi gambar sapi perah mewarnai gedung yang menghubungkan Kalipucang-Nongkojajar.

Gedung ini langsung menarik perhatian siapapun yang melintas. Bangunan ini merupakan Kampung Susu, sebuah wisata edukasi yang dikembangkan Pokdarwis Alam Lestari. Kampung Susu dikelola Sutrikno, rumahnya tepat berada di samping gedung Kampung Susu. Berawal dari pembentukan SPR empat tahun lalu.

Kementerian Pertanian memberikan bantuan membangun gedung, membelikan peralatan pengolahan pasteurisasi susu. Menghasilkan susu siap minum aneka rasa. Serta mesin pengolah keju. Total bantuan sebesar Rp 1 miliar. Namun, program hanya berjalan setahun dari rencana awal empat tahun. Kelompok peternak terdiri dari SPR1 hingga 7.

Wisatawan berkunjung ke Kampung Susu, memberi makan sapi, memerah susu juga bisa mencicipi susu olahan. (Foto : Pokdarwis Kalipucang).

Para peternak dari berbagai daerah di Nusantara pernah berstudi banding ke Kalipucang. Mulai peternak sapi di Malang, Surabaya dan Bali. Bahkan kunjungan juga datang dari Selandia Baru, Denmark dan Australia. Mereka berkunjung untuk belajar beternak sapi. “Mereka hanya berkunjung, tak berbayar,” katanya.

“Dua tahun lalu terbengkelai,” katanya. Setelah dicanangkan Kalipucang sebagai desa wisata, gayung bersambut kelompok peternak bergeliat mengelola Kampung Susu. Sayang, pengelolaan diserahkan ke Sutrikno bukan dikelola bersama. Memperkerjakan sejumlah anak muda setiap akhir pekan, Sabtu dan Minggu.

Setiap pengunujung cukup membayar Rp 10 ribu, belajar dan melihat peternakan sapi perah dan produksi susu. Plus minum susu pasteurisasi sebanyak 200 mililiter, langsung di tempat. Pengujung sebagian besar merupakan pelajar dan siswa Taman Kanak-Kanak. Mereka juga bisa berenang dan bermain sepuasnya.

Jika pengunjung berniat belajar memerah susu harus menambah Rp 30 ribu. Sedangkan jika ditambah makan siang sebesar Rp 40 ribu sampai Rp 60 ribu per orang, disesuaikan dengan jenis makanan yang dipsan. Kunjungan rata-rata sekitar 100 orang per hari. “Hasilnya cukup untuk membayar pegawai,” katanya.

Ia mengklaim bekerjasama dengan ibu rumah tangga sekitar jika ada pesananan makanan dari pengunjung. Mengelola wisata, katanya, berbiaya tinggi, Termasuk untuk membayar koneksi internet dan listrik 12 ribu watt untuk mengolah susu.

Tinggalkan Komentar

Silakan tulis komentar anda
Silakan tulis nama anda di sini