Merawat Alam, Memetik Wisata

Setiap kamis kawasan wisata alam ini ditutup memberi kesempatan alam untuk beristirahat atau memulihkan diri secara alamiah. Selain itu, juga ditutup sepekan saat pergantian tahun dan sepekan selama libur lebaran.

Terakota.id–Pesisir selatan Kabupaten Malang berderet pantai indah, lengkap dengan pemandangan alam dan kekayaan hayati. Sejumlah kawasan pesisir di selatan Kabupaten Malang menjadi primadona wisatawan. Salah satunya Pantai Sendangbiru, Tambak Rejo, Sumbermanjing Wetan, Kabupaten Malang.

Pengunjung bisa menikmati pemandangan hutan, laut sekaligus menikmati ikan tuna hasil tangkapan nelayan. Obyek wisata ini dikelola Perum Perhutani yang dibuka untuk wisata massal. Selemparan batu dari Sendang Biru, berderet sejumlah pantai yang tak kalah menawan. Mulai pantai Clungup, pantai Gatra, pantai Sapana, Pantai mini, pantai Batu Pecah, dan pantai Tiga Warna.

Tak sembarangan, pengunjung tak bisa langsung datang beramai-ramai ke pantai. Pengunjung wajib memesanan atau reservasi lebih dulu. Kelima pantai dikelola Yayasan Bhakti Alam Sendang Biru, menerapkan pembatasan atau kuota kunjungan.

Selain itu, sebelum masuk ke kawasan tas bawaan para pengunjung diperiksa. Setiap barang yang berpotensi menjadi sampah dicatat. Agar pengunjung tak meninggalkan sampah. Jika ada sampah tertinggal didenda Rp 100 ribu. “Kuota, cek list sampah, dan reservasi diberlakukan sejak 2015,” kata Ketua Yayasan Bhakti Alam Sendangbiru, Saptoyo, 47 tahun.

Saat memasuki kawasan pantai, pengunjung harus berjalan sejauh 500 meter atau menggunakan jasa ojek. Cukup membayar Rp 10 ribu, para pengunjung bisa menikmati alam di pantai Clungup dan Gatra.  Pantai ini memiliki daya tampung sekitar 600 orang per hari. Selain melihat pemandangan alam, bermain kano dan berenang di pantai, pengunjung juga bisa belajar ekosistem laut.

Seperti menanam dan merawat mangrove, belajar transplantasi terumbu karang dan aktivitas pegiat Yayasan Bhakti Alam Sendangbiru dalam melakukan konservasi kawasan. Selain itu, juga bisa mengamati aneka burung dan satwa di kawasan hutan lindung di Selatan Kabupaten Malang.

Khusus untuk menikmati pantai Mini, Sapana, Batu Pecah, dan Tiga Warna pengunjung harus menggunakan jasa pemandu. Pengunjung membayar jasa pemandu lokal sebesar Rp 100 ribu untuk satu kelompok sebanyak 10 orang. Selain untuk menuju lokasi harus menempuh jalan yang berbahaya, curam dan ombak besar. Juga mencegah kerusakan mangrove dan terumbu karang di kawasan itu.

Baca juga :  Dedikasi untuk Kaset Pita

“Sebelum ada pemandu, tanaman mangrove dan terumbu karang rusak karena pengunjung,” kata Saptoyo.

Khusus untuk memasuki pantai tiga warna dibatasi kuota 100 orang dengan durasi maksimal dua jam. Untuk menuju pantai tiga warna, pengunjung harus berjalan kaki sejauh dua kilometer. Penetapan kuota di Pantai Tiga Warna berdasarkan riset daya dukung alam.

Puncak kunjungan wisatawan terjadi pada musim libur sekolah. Pengunjung rata-rata anak muda, mahasiswa yang tertarik wisata alam serta belajar konservasi. Namun, tak jarang ada rombongan keluarga dan manula juga berkunjung di kawasan ini. Pengunjung berasal dari wisatawan domestik dari seluruh nusantara. Serta wisatawan mancanegara dari Belanda, Jerman, Australia, dan Norwegia.

Setiap kamis kawasan wisata alam ini ditutup memberi kesempatan alam untuk beristirahat atau memulihkan diri secara alamiah. Selain itu, juga ditutup sepekan saat pergantian tahun dan sepekan selama libur lebaran.

Yayasan Bhakti Alam Sendangbiru melibatkan 108 orang masyarakat sekitar. “Dulu mereka petani penggarap, menebang hutan. Ada juga yang merusak dan mengeksploitasi terumbu karang. Sekarang terlibat konservasi kawasan,” ujarnya.

Seperti Joni sejak 1980-an menjual terumbu karang ke Bali. Penjualan terumbu karang besar-besaran terjadi pada 1998. Bahkan sebagian juga nelayan yang mencari ikan dengan potasium sehingga merusak terumbu karang. Kini, selain mengelola wisata mereka juga tetap bekerja sebagai petani dan nelayan yang tak merusak lingkungan.

Sekitar 20 Persen Penghasilan untuk Konservasi

Pengunjung belajar transplantasi karang untuk mengembalikan terumbu karang yang rusak akibat bom ikan dan potasium. (Foto : Dokumen Bhakti Alam Sendangbiru).

Yayasan Bhakti Alam Sendangbiru mengelola kawasan pantai ini setelah bekerjasama dengan Perum Perhutani. Total pendapatan dibagi secara proporsional antara lain Perum Perhutani 45 persen, Pemerintah Kabupaten Malang 20 persen, pemerintah kecamatan 3 persen , Pemerintah Desa 2 persen, dan Yayasan Bhakti Alam Sendangbiru 30 persen.

Mengelola ekowisata, katanya, Yayasan Bhakti Alam Sendangbiru saban bulan menerima pemasukan sebesar Rp 150 juta sampai Rp 200 juta.  Sekitar 20 persen pendapatan digunakan untuk konservasi. Mulai menanam mangrove, transplantasi terumbu karang sampai menangani kawasan hutan lindung.

Baca juga :  Kendi, Air dan Kehidupan

Sementara dua pantai lain seperti Teluk Asmara dan Bangsong yang berada di kawasan itu tak dibuka untuk wisata. Mereka memulihkan kawasan hutan secara alamiah. Teluk Asmara, katanya, dulu menjadi pendaratan dan bertelur penyu. Agar penyu kembali bertelur di sini.

Salah seorang pengunjung, Wawan Eko Yulianto datang bersama rombongan. Dia mengaku puas menikmati pantai. Selain itu, jasa pemandu juga memberikan konteks dan cerita bagaimana usaha konservasi yang dilakukan warga sekitar. “Alamnya indah, pemandu menguasai lingkungan sekitar,” ujarnya.

Dia mengaku tak rugi berkunjung ke pantai Tiga Warna dan berjanji akan kembali lagi. Wawan tak menyangka masyarakat Yayasan Bhakti Alam Sendangbiru yang bertumpu kepada masyarakat sekitar mengelola wisata secara profesional. Kunjungan dibatasi, pengawasan sampah pengunjung, dan reservasi sebelum kunjungan. “Mereka hidup selaras dengan alam,” katanya.

Konservasi Kawasan Hutan Lindung dan Pantai

Barang bawaan pengunjung diperiksa. Jika ada sampah yang tertinggal didenda Rp 100 ribu. (Terakota.id/Eko Widianto)

Pada 1970-an, kata Saptoyo, kawasan Desa Tamban Rejo subur dan air melimpah. Saban hari Saptoyo kecil bermain dan berenang di pantai. Sembari mencari ikan dan udang untuk lauk pauk secukupnya. “Memancing di hutan mangrove, dapat ikan sebesar lengan,” kata Saptoyo.

Setelah menamatkan Sekolah Guru Agama Kristen, Saptoto kembali ke kampung dan diminta membantu mengelola Koperasi Unit Desa Mina Jaya. Sebuah koperasi nelayan yang tengah kolaps. Dia bekerja selama 18 tahun sampai keluar dari masa sulit, pada 1995 Saptoyo membuka toko memenuhi kebutuhan nelayan sembari mengojek.

Pada masa reformasi, kata Saptoyo, kawasan hutan di sekitar pesisir selatan Jawa ditebangi. Lahan dibuka untuk pertanian. Pada 2004, saat hujan air menjadi keruh sedangkan saat kemarau mengalami krisis air. “Dulu air melimpah sekarang kok sulit,” tanya Saptoyo.

Sementara di kawasan pantai Clungup, yang menjadi tempat bermain masa kecilnya telah berubah. Dia melihat hutan lindung rusak, dan mangrove habis. Lantas, dia sendirian menancapkan aneka buah mangrove di kawasan itu. Dia juga mengajak teman-temannya untuk melakukan hal yang sama.

Baca juga :  Lagu Daerah Warnai Jatim Reggae Star Festival

Selama 2005 sampai akhir 2011 dia konsisten menanam mangrove. Pada April 2014, Kepala Desa Tamban Rejo Sudarsono mengenalkan dengan Kelompok Masyarakat Pengawas (Pokmaswas) yang dibentuk Dinas Perikanan dan Kelautan. Saat itu Pokmaswas di Tamban Rejo mati suri. Dia bergerilya dari rumah ke rumah untuk mencari anggota.

Selama tiga bulan sebanyak 25 orang bergabung. Pengurus lama mundur dan Saptoyo ditunjuk sebagai Ketua. Lantas mereka menginvetarisasi kawasan, dan menjalankan program prioritas. Kesimpulannya menanganan mangrove menjadi prioritas utama. “Tak ada biaya dari pemerintah. Tetap menanam mangrove bergotong-royong,” ujarnya.

Mulai 2013, pemerintah memberikan bantuan bibit. Relawan juga datang dari mahasiswa. Lantas mereka mengembangkan wisata edukasi mangrove, pengunjung belajar menanam mangrove. Namun, Mei 2015 Saptoyo diciduk polisi disangkakan masuk tanpa izin ke kawasan Perum Perhutani dan melakukan pungutan liar untuk memperkaya diri sendiri dan kelompok.

“Saat itu saldo Rp 75 juta dan uang tunai Rp 5 juta, disita polisi,” katanya. Saptoyo sempat menginap di Markas Kepolisian Resor Malang selama dua hari. Lantas dibebaskan. Lantas Saptoyo mendirikan Yayasan Bhakti Alam Sendangbiru dan bekerjasama mengelola wisata dengan Perhutani.

Tujuan utama Yayasan Bhakti Alam Sendangbiru, katanya, melakukan konservasi kawasan hutan lindung, hutan mangrove dan terumbu karang. Sementara usaha pengelolaan ekowisata dilakukan untuk mendukung usaha konservasi tersebut.

“Cita-cita saya, hidup bersama alam. Bagaimana manusia membangun harmoni dengan alam. Tanpa merusak,” ujar Saptoyo.

Direktur Eksekutif Wahana Lingkungan (WALHI) Jawa Timur Tri Jambore Christanto mendukung usaha konservasi dan pengelolaan wisata alam yang dilakukan Yayasan Bhakti Alam Sendangbiru. Pesisir selatan Malang memiliki puluhan pantai yang indah. Namun, sebagian besar digunakan untuk wisata missal.

“Dampak wisata massal signifikan. Ada perubahan bentang alam, dan infrastruktur,” katanya. Wisata alam dipacu sementara daya dukung alam tak memadai. Sehingga justru menimbulkan masalah ekologis. Sampah, limbah cair dan padat menumpuk.

“Wisata massal harus dihentikan. Jawa wilayah ekologi kritis,” pungkasnya.

 

Tinggalkan Komentar

Please enter your comment!
Please enter your name here