Meramal Cita-cita Sastra Indonesia Abad 21

Sastra abad 21 harus membuang segala yang keliru, menyaring dengan sedemikian rupa apa yang masih dapat dibawa dan meninggalkan sisanya. Sastra abad 21 adalah kekuatan baru yang kelak akan menjadi cerita lain dalam sejarah kesusastraan Indonesia. Para sastrawan tersohor hari ini kelak tinggal mengisi kolom-kolom riwayat di buku sejarah. Masa depan sastra abad 21 ada di tangan mereka yang hari ini dipandang sebagai pengkarya pemula.

 Oleh: Faris Naufal Ramadhan*

Terakota.id–Barangkali sudah menjadi kenyataan yang menjemukan. Melihat panggung-panggung festival sastra disesaki hegemoni sastrawan yang sudah malang melintang di jagat kesusastraan. Adapun para pengkarya yang masih belia hanya menjadi penonton yang ikut bertepuk tangan menyaksikan guru-gurunya seliweran memamerkan piala juga piagam penghargaan yang konon prestisius dan semakin memvalidasi status sebagai sastrawan nasional itu.

Tak heran pertemuan-pertemuan sastrawan baik skala nasional maupun daerah dihadiri oleh sastrawan yang sudah mempunyai rekam jejak mentereng atau dalam arti lain, yang belum berpengalaman tak boleh ambil bagian. Bahkan rekam jejak pun kini dijadikan persyaratan untuk mendaftarkan diri dalam pertemuan sastra. Hal ini semakin mendiskreditkan kemungkinan munculnya sastrawan belia sebagai shock therapy dalam kontestasi dunia sastra di negeri ini.

Ada jarak membentang antara sastrawan yang sudah rajin menyuplai karya di rak-rak toko buku besar, dengan mereka yang baru sebatas menempuh pengalaman sekali dua kali muncul di media massa atau bahkan sebatas memamerkan karyanya di blog dan mencetak beberapa eksemplar untuk sekadar dibagikan kepada kawan-kawannya sendiri.

Media massa pun di kolom ihwal sastra yang semakin terbatas itu, terlampau sibuk meliput kegiatan sastrawan yang mampu menaikkan jumlah pembaca karena nama besarnya. Meliput kegiatan pengkarya yang belum memiliki penggemar adalah kegiatan yang sia-sia. Mendapat kesempatan muncul di koran lokalpun sudah merupakan rejeki nomplok bagi pengkarya pemula yang belum punya nama.

Apalagi antologi karya yang berjamur layaknya arisan, nyatanya hanya menjembatani para sastrawan dengan sistem perkawanan. Suatu antologi karya yang sifatnya diwacanakan terbuka, ternyata melalu proses seleksi di mana yang didahulukan adalah mereka yang sudah lebih akrab atau sudah pernah terlibat antologi bersama sebelumnya dengan yang mengkomandoi antologi tersebut, bukan semata berdasarkan kualitas karya.

Cukup jarang nampaknya antologi bersama yang sengaja memberi wadah yang seimbang antara senior dengan juniornya. Di Facebook saja, gossip yang beredar selalu berasaskan sentiment antara sastrawan ternama dengan sastrawan lainnya yang saling berebut sisa-sisa eksistensi. Sekali lagi, yang lain hanya menyimak dan ikut menyumbang like and share.

Kini praktis tersisa perlombaan saja sebagai wadah bagi para pengkarya pemula untuk memanggungkan karyanya agar diapresiasi orang banyak. Tentu kita tidak sedang membicarakan panggung perlombaan bergengsi, namun panggung-panggung perlombaan kecil yang sekadar untuk mengisi kegiatan tahunan suatu komunitas atau lembaga.

Standar kualifikasi perlombaan semacam ini pun patut dipertanyakan. Selain terkadang tidak digarap secara serius; baik dalam proses kuratorial maupun publikasi. Hasil dari perlombaan semacam ini hanya sebatas selebrasi penyerahan hadiah saja. Setelah itu,  pengkarya yang telah mengirimkan karyanya akan kembali tenggelam sebelum sempat terdengar.

Sederetan fenomena di atas, menjadi tumpukan jerami jebakan bagi awal perjalanan sastra abad 21. Apabila seseorang memasuki usia kanak-kanak, maka kurun waktu inilah yang mereka jadikan untuk memupuk mimpi. Masing-masing anak akan menggaungkan apa yang ia cita-citakan.

Cita-cita ini adalah harapan paling tulus tanpa ada intervensi dari orang tuanya. Anak-anak akan mengharapkan suatu masa depan yang paling membahagiakan menurutnya. Tentang suatu keadaan yang mereka bayangkan sebagai posisi terindah mereka kelak. Maka pada saat-saat ini menjadi genting kiranya, sastra Indonesia mulai mengikrarkan cita-citanya. Hendak ke manakah sastra Indonesia abad 21.

Zaman berganti, peta kebudayaan pun berganti. Tak pelak peta sosial dan politik juga telah berubah sama sekali. Warna sastra masa depan semesteinya juga warna yang sama sekali berbeda dari era sebelumnya. Sastra membutuhkan pembaharuan agar warna yang tercipta kelak bukan abu-abu yang terbayang kegamangan jarak yang disisakan zaman sebelumnya.

Sastra abad 21 harus membuang segala yang keliru, menyaring dengan sedemikian rupa apa yang masih dapat dibawa dan meninggalkan sisanya. Sastra abad 21 adalah kekuatan baru yang kelak akan menjadi cerita lain dalam sejarah kesusastraan Indonesia. Para sastrawan tersohor hari ini kelak tinggal mengisi kolom-kolom riwayat di buku sejarah. Masa depan sastra abad 21 ada di tangan mereka yang hari ini dipandang sebagai pengkarya pemula.

Pertama, mari kita mulai dengan menciptakan ideo otentik yang akan menjadi ciri khas bagi sastra abad 21. Setiap masa memiliki keotentikan masing-masing. Keotentikan ini sangat akrab dengan lingkungan kebudayaan yang tentu berbeda dari masa ke masa. Lingkungan kebudayaan ini dipengaruhi keadaan social dan politik dalam masyarakat. Fenomena yang ada hari ini harus mampu ditampung oleh para pengkarya untuk dipersembahkan sebagai karya yang kelak apabila digojlok dengan sungguh-sungguh akan identik sebagai identitas sastra abad 21.

Kedua, mari kita mempola ulang gerakan komunitas sastra di berbagai daerah. Pola komunitas yang ada hari ini masih belum menyediakan ruang yang cukup untuk memunculkan ikon-ikon baru sastra yang berkualitas. Yang menjadi soal adalah porsi para pengkarya pemula untuk muncul yang masih terhalang dengan senioritas dalam tubuh komunitas itu sendiri.

Selain karena tertutup oleh pesona satu dua orang yang menjadi tokoh dalam komunitas tersebut, terlalu menonjolkan nama dan corak komunitas terkadang justru malah menghilangkan identitas masing-masing punggawanya. Oleh karena itu, regenerasi dalam komunitas sastra harus mulai diposisikan sebagai sebuah aspek yang paling utama. Agar komunitas dapat terus menerus produktif menghasilkan letupan-letupan segar dan melahirkan ikon-ikon baru yang memperkaya jagat kesusastraan.

Ketiga, kita harus menjadikan wadah-wadah semacam festival, pertemuan sastra dan perlombaan menjadi wadah yang merakyat. Yang memaksimalkan potensi para pengkarya pemula. Dengan tidak melupakan keseriusan dalam proses kuratorial dan publikasinya. Agar hasil dari seremonial sastra tersebut dapat optimal. Tak luput juga media massa harus kembali menjadi satu fundamen membangun geliat sastra.

Apalagi kini media telah bertransformasi bentuknya dengan rupa media online, zine dan sebagainya, yang memungkinkan akses yang lebih mudah untuk mempertemukan karya dengan pembacanya.

Keempat adalah menciptakan terbosoan baru berupa kolaborasi lintas genre. Baik itu antara komunitas sastra yang yang berbeda gaya, maupun antara komunitas sastra dan komunitas seni lainnya. Agar tercipta suatu ruang kreatif baru untuk menghilangkan kejenuhan dalam proses berkarya. Ini akan menjadi hal yang menarik bagi masyarakat sastra abad 21 yang akan sangat haus dengan inovasi.

Tak menutup kemungkinan kolaborasi ini menjadi seliar mungkin, bisa saja melibatkan kelompok lain yang tidak ada hubungannya dengan sastra dalam sudut pandang seni. Semisal kelompok aktivis lingkungan, kelompok ibu-ibu pkk, karang taruna, dan sebagainya. Ide ini dapat mengalirkan sastra pada lingkungan yang sama sekali baru.

Kelima, tentunya yang tak kalah genting untuk dipikirkan, memperkaya sastra mesti diawali dengan memperkaya Bahasa. Sudah menjadi kegelisahan yang amat merisaukan bahwasanya Bahasa Indonesia hari ini belum sepenuhnya dapat menampung daya sastrawi para pengkarya. Oleh sebab politik bahasa dari berbagai rezim yang bukannya menciptakan kesempurnaan bahasa, malah mencerabut Bahasa Indonesia dari akarnya.

Penemuan atau penciptaan akrobatik dalam Bahasa diperlukan untuk mengantarkan masa depan sastra abad 21 sebagai potret sastra yang tidak kekurangan bahan kreativitas. Oleh karenanya, diskusi dan penelitian mengenai Bahasa Indonesia harus semakin rajin digiatkan agar dapat memunculkan suatu solusi baru yang dapat memperkaya bahasa dan kesusastraan itu sendiri.

*Pemuda kelahiran Serang, 5 Februari 1997. Mengenal dunia sastra sejak Sekolah Dasar. Semasa SMA, aktif menekuni jurnalistik lewat rubrik pelajar GENEREKONS di Majalah Kebudayaan Ruang Rekonstruksi, Banten. Ia juga sempat aktif dalam kegiatan sastra di Teras Budaya yang diasuh oleh Komunitas Rahim, Cilegon dan Lentera Sastra Indonesia. Ia lebih sering melahirkan karya berupa puisi dan cerpen. Puisi dan cerpennya beberapa kali terbit di media cetak maupun elektronik. Ikut terlibat dalam beberapa antologi puisi dan cerpen nasional. Kini kuliah di Universitas Brawijaya, Malang. Di kota yang sama, di tengah rutinitas perkuliahannya, ia bergiat di Komunitas Kalimetro Malang, yang bergerak di bidang literasi, seni, kemanusiaan, dan kebudayaan.

 

Tinggalkan Pesan