Meracik Kue Kegalauan

meracik-kue-kegalauan

Judul buku      : Rainbow Cake

Penulis             : Rayni Masardi, Christyan A.S

Terbit               : 2019

Penerbit           : Gramedia Pustaka Utama

ISBN               : 9786020629780

 

Terakota.id–Galau merupakan kosa kata yang sering kali diucapkan oleh generasi milenial dan pasca 2000. Kosa kata ini muncul seiring dengan kondisi-kondisi keterkejutan zaman yang semakin lama semakin rancak. Belum lagi pengaruh teknologi informasi dan komunikasi yang semakin melejitkan kata “galau” ke seantero media sosial. Ibarat sebuah kue, Rayni N Masardi dan Christyan A.S berhasil mengurai bahan-bahan dasar penyebab galau hingga menyajikan rasa galau dengan nilai rasa tersendiri melalui novel Rainbow Cake.

Novel ini bercerita tentang seorang perempuan bernama Hilda yang sangat mudah galau. Mentalnya buruk karena berbagai sebab masa lalunya. Dilahirkan di keluarga yang kaya dan serba berkecukupan ternyata tak membuatnya menjadi pribadi yang utuh atau sempurna. Tubuhnya membesar dan wajahnya tak seperti takaran cantik yang telah disepakati oleh masyarakat. Paris, Perancis adalah kota tempatnya “melarikan diri” sekaligus mengembangkan dirinya.

Namun kesuksesan justru membawanya kembali untuk menghadapi waktu yang telah lama dibuangnya jauh-jauh. Waktu tersebut adalah masa SMA. Masa ketika dia sering dirundung oleh teman-temanya. Masa ketika dia menahan amarah, malu, dan benci yang tak sempat dituangkan dengan satu kata pun. Kesuksesan membuatnya harus berdamai dengan masa-masa paling kelam dalam hidupnya.

Dia diminta menerima kembali teman-teman yang dulu telah mengejeknya dan telah merundungnya habis-habisan. Partikel-partikel ingatan yang berserakan itu terkumpul kembali dalam lagu “Ingsun” dan “Nitikolomongso” yang terngiang di kepalanya. Hal itu membuatnya semakin pening dan merasakan kondisi yang tidak dikehendaki oleh siapapun. Melalui teknik memasak, dia meramu berbagai macam rasa galau yang telah lama dipendamnya. Tentu kondisi ini tidak diinginkan terjadi pada siapapun.

Massardi dan Christyan mampu membuat sastra sebagai pendidik yang tidak menggurui di tengah masyarakat. Mereka tentu tidak berharap Hilda-Hilda lain bermunculan di Indonesia. Ada edukasi tentang sosialisasi terlebih menghargai Hak Asasi Manusia di sini. Efek jera dan bukan menggurui, itulah yang digunakan oleh Christyan dan Masardi.

Apabila galau adalah sajian kue utama dalam novel ini, maka bahan dasar sesungguhnya adalah kesalahan memperlakukan anak yang dilakukan sejak dalam keluarga. Proses sosialisasi anak pertama kali terjadi sejak dalam keluarga. Sekaya apapun materi yang dimiliki oleh keluarga, tapi apabila tidak didukung dengan kekayaan kasih sayang maka hasilnya akan percuma saja. Hilda tumbuh di keluarga yang demikian. Akar dari segala akar, pokok dari segala pokok permasalahan adalah kacaunya keluarga yang mendidik Hilda.

Rayni N Masardi dan Christyan A.S menunjukkan novel karya mereka berdua. (Foto : Facebook Rayni N Masardi).

Secara esensi, novel ini berhasil mengedukasi tiga tahap usia sekaligus. Bagi siswa SMA, bagi wanita karier, dan bagi orang tua lengkap dengan pola asuh di dalamnya. Namun kedua penulis tetap harus lebih detil dalam memainkan alur. Kehadiran tokoh-tokoh baru yang terkesan tiba-tiba dan  nasib para tokohnya semakin mendegradasi kelogisan novel realis ini. Dalam kehidupan nyata, tidak selalu tokoh jahat itu bernasib sial, ada juga yang tetap baik-baik saja bahkan berjaya.

Di sini penulis menarasikan semua tokoh jahatnya bernasib sial sehingga harus menghamba pada Hilda. Tokoh Hilda dibuat seolah tokoh super yang mampu mengatasi segala permasalahan dan tidak ada jalan lain yang ditempuh oleh tokoh-tokoh antagonis selain melalui tokoh Hilda. Pada titik ini seolah penulis terburu-buru. Padahal dari sekian banyak teman Hilda yang jahat, penulis masih ada banyak celah untuk memainkan nasibnya sehingga tidak terkesan selalu hitam putih.

Lepas dari kelemahan itu, penulis berhasil menyuguhkan sebuah karya edukatif bagi pembaca yang tidak didaktis. Membaca novel ini membuat pembaca tidak perlu terlalu mengernyitkan dahi tetapi mampu menangkap nilai yang disajikan dalam novel. Tentu novel ini mampu menjadi bacaan alternatif dalam rangka mendidik anak dan menjalankan proses sosialisasi yang sesuai dengan prinsip-prinsip hak asasi manusia.

 

 

 

Tinggalkan Komentar

Silakan tulis komentar anda
Silakan tulis nama anda di sini