Menziarahi Jejak Tjokroaminoto, Guru Para Pendiri Bangsa

Soekarno menanganggap rumah gurunya tersebut sebagai “Dapur Revolusi” karena seringnya tokoh-tokoh penggerak bangsa berkunjung dan menimba ilmu dengan H.O.S Tjokroaminoto (Tempo Edisi Sukarno Paradoks Revolusi Indonesia : 2016). Salah satunya adalah kunjungan dari Hendricus Joshspus Fransiscus Merie Sneelvliet, yaitu seorang yang menyukai ide-ide sosial demokrat revolusioner. Dan pada saat itu ia menetap di Surabaya selama dua bulan.

Oleh: Marliana Eka Fauzia*

Terakota.id–Surabaya menjadi salah satu kota yang menyimpan jejak sejarah tokoh-tokoh kemerdekaan Indonesia, salah satunya adalah Jejak Raja Jawa Tanpa Mahkota sebutan yang ditujukan pada Haji Oemar Said Tjokroaminoto atau akrab dipanggil dengan H.O.S Tjokroaminoto. Sebutan Raja Jawa Tanpa Mahkota tersebut dari pemerintah Hindia Belanda. Megingat Tjokroaminoto memiliki andil besar di dalam kalangan masyarakat dan juga disegani serta ditakuti oleh lawan politiknya.

Salah satu jejak H.O.S Tjokroaminoto ada di Kota Surabaya. Berupa bangunan rumah dan percetakan Fadjar Asia miliknya. Terletak di Jalan Peneleh Gang 7 no 29-31. Rumah tersebut dibeli H.O.S Tjokroaminoto karena beliau sudah lama tinggal di Surabaya. Setelah itu ia memutusakan untuk membeli rumah tersebut.

Daerah asli kelahiran H.O.S Tjokroaminoto sendiri adalah Madiun. Beliau lahir di desa Bakur, Kabupaten Madiun, Jawa Timur, pada tanggal 16 Agustus 1882. Tjokroaminoto dilahirkan dengan nama Raden Oemar Said Tjokroaminoto. Dan berada dalam lingkaran keluarga priyayi yang terhormat. Karena ayah Tjokroaminoto adalah seorang pejabat pemerintah yang memiliki kedudukan sebagai wedono di Kawasan Klejo, Ngawi ( Sholichan Manan :1988). Serta kakeknya, bernama Tjokronegoro bekerja dalam bidang pamong praja sebagai pegawai pemerintah dan pernah menduduki jabatan penting sebagai bupati Ponorogo.

Terlahir di keluarga priyayi, Tjokroaminoto dalam menempuh pendidikan tidak mengalami kesulitan. Kedua orang tuanya memilih memasukan di OSIVIA (Opleidings School Voor Inslandshe Ambtenaren) Magelang. Hal tersebut sudah menjadi tradisi dalam keluarga priyayi untuk menyekolahkan anaknya di OSIVIA, yang mana Sekolah Calon Pegawai pemerintah. Setelah lulus dari OSIVIA Tjokroaminoto masuk Pangreh Praja pada tahun 1900 an dan memutusakan untuk keluar dari Pangreh Praja pada tahun 1907 (Takashi Shiraishi : 1997). Keluarnya Tjokroaminoto dalam Pangreh praja karena pekerjaan tersebut tidak sesuai dengan prinsip atau kepribadiannya, yang menolak budaya feodalisme dan pelanggengan politik yang elitis.

Jejak Karir Tjokroaminto di Surabaya

Semenjak memutuskan untuk keluar dari Pangreh Praja, Tjokroaminoto pergi ke Surabaya. Di Surabaya ia pernah bekerja di sebuah perusahaan firma bernama kooy & co pada tahun 1907 sampai 1910. Walaupun beliau bekerja di sebuah firma, Tjokroaminoto tidak lupa meluangkan waktu untuk menimba ilmu baru. Salah satu keputusannya untuk melanjutkan pendidikan di Burgeriklijke Avond School yang selanjutnya di singkat B.A.S.

Baca juga :  Bukan Sekadar Mendaki Gunung

B.A.S merupakan pendidikan teknik yang dilakukan pada malam hari. Hasil dari menempuh pendidikan teknik, Tjokroaminoto memtuskan untuk berhenti dari perusahaan firma tersebut, dan bekerja di Pabrik Gula Daerah Rogojampi yang lokasinya tidak jauh dari Surabaya (Masyhur Amin : 1980). Di pekerjaannya yang baru Tjokroaminoto menjabat sebagai teknis. (Takashi Shiraishi : 1997).

Foto Sang Guru Para Pendiri Bangsa, H.O.S. Tjokroaminoto. (Dok. Marliana Eka Fauzia)

Gerakan Tjokroaminoto

Berbicara soal gerakan Tjokroaminoto, tidak dapat dipisahkan dari keberdaan organisasi Sarekat Islam yang selanjutnya disebut SI. Semenjak mengenal organisasi pergerakan Tjokroaminoto memutusakan keluar dari pekerjaanya salah satunya di pabrik Gula Rogojampi. Sebelum bergabung dengan SI, Tjokroaminoto sudah mengabdikan diri menjadi ketua Perkumpulan Panti Harsoyo di Surabaya.

Dari situlah Tjokroaminoto mengenal SI. Tjokroaminoto bergabung dengan SI pada tahun 1912. Dan beliau menjadi pemimpin SI di Surabaya, bahkan Vergandering S1 dengan jumlah besar pertama kali dilakukan di Surabaya, hal tersebut tidak terlepas dari pengorgnisiran Tjokroaminoto. Singkat cerita, keberadaannya yang cukup lama di Surabaya, ia memutuskan untuk membeli rumah di Surabaya. Rumah tersebut berada di Jalan Peneleh gang VII No 29-31, dekat dengan makam Belanda dan rumah Ruslan Abdul Gani. Serta gang rumah Tjokroaminoto tepat di depan Jembatan Kalimas yang juga menyimpan nilai sejarah. Bahwa dulunya kalimas menjadi jalur perdagangan dan memiliki pelabuhan untuk mengangkut hasil bumi dimasa Hindia Belanda.

Keberadaan rumah H.O.S Tjokroaminoto tersebut menjadi tempat kos dan menimba ilmu agama ataupun gerakan oleh para pendiri bangsa. Seperti keterangan di papan depan rumah Tjokroaminoto. Beberapa para pendiri bangsa yang tinggal di rumah beliau adalah; Soekarno, Semoaen, Muso, Alimin, Kartosoerwirjo. Walaupun para pendiri bangsa tersebut berguru pada guru yang sama yaitu Tjokroaminoto, kelima muridnya tersebut dalam berjuang untuk bangsanya menggunakan pemikiran masing-masing. Soekarno dengan nasionalismenya dan menjadi Presiden Pertama Republik Indonesia. Alimin, Muso, Semoen dengan partai komunisnya di Indonesia. Sedangkan Kartosuwiryo dengan pemikiran islam yang ekstrimis, Negara Islam Indonesia (NII).

Baca juga :  Lorong Gelap Freeport di Bumi Papua

Soekarno menanganggap rumah gurunya tersebut sebagai “Dapur Revolusi” karena seringnya tokoh-tokoh penggerak bangsa berkunjung dan menimba ilmu dengan H.O.S Tjokroaminoto (Tempo Edisi Sukarno Paradoks Revolusi Indonesia : 2016). Salah satunya adalah kunjungan dari Hendricus Joshspus Fransiscus Merie Sneelvliet, yaitu seorang yang menyukai ide-ide sosial demokrat revolusioner. Dan pada saat itu ia menetap di Surabaya selama dua bulan.

Berkunjungnya Sneelviet tersebut sangat berpengaruh di beberapa murid Tjokroaminoto yaitu Muso. Muso bersama Alimin, Semaoen, Darsono , mas Marco dan Haji Misbach diketahui menjadi kader Sneelvielt dan setahun kemudian membentuk Indische Sociaal-Democratische Vereenging (ISDV) yang memiliki haluan Marxis. Dari sinilah Sneelvliet memasukan gagasan sosial di dalam organisasi Sarekat Islam, melalui Muso dan kawan-kawan ( Tempo Edisi Muso Si Merah di Samping Republik :2015). Selain mereka, masih ada banyak tokoh-tokoh lain yang menimba ilmu dengannya.

Papan informasi berkaitan dengan Rumah Peneleh H.O.S. Tjokroaminoto, di Surabaya. (Dok. Marliana Eka Fauzia)

Rumah HOS Tjokro

Rumah yang menjadi indekos para pendiri bangsa tersebut saat ini sudah menjadi cagar budaya dan dapat dikunjungi oleh khalayak umum. Awalnya rumah tersebut tidak diketahui kalau dahulunya adalah rumah H.O.S Tjokroamnito. Menurut penuturan Eko seorang RT di wilayah Peneleh, Tjokroaminoto menitipkan rumahnya tersebut ke tetangga depan rumahnya bernama Ema.

Rumah tersebut baru diketahui saat Rahmawati seorang putri Soekarno melakukan napak tilas Soekarno di Surabaya pada tahun 1995. Semenjak itu Rahmawati menuturkan bapaknya pernah tinggal di sini dan rumah tersebut adalah milik Pak Tjokro. Akhirnya, pada tahun 1996 rumah tersebut ditetapkan sebagai cagar budaya. Akan tetapi masih belum bisa dibuka untuk umum karena masih harus ada renovasi dan rumah tersebut sempat dijadikan gudang oleh warga untuk menyimpan sound-system sekitar tahun 2000-2012.

Baca juga :  Perempuan, Rahim Masyarakat, Ibu Peradaban...

Pada tahun 2012 kunci rumah H.O.S Tjorkroaminoto diserahkan kepada Eko dan mulai dibuka untuk umum. Eko selaku RT saat itu mengelola sendirian rumah tersebut. Pada tahun 2016 beliau meminta dinas pariwisata untuk mengirimkan tenaga operasional dan menjaga rumah Tjokroaminoto di saat jam-jam kunjungan. Permintaan tersebut disetujui oleh pihak dinas dan saat ini rumah tersebut diurus oleh Dinas Pariwisata.

Tidak banyak memang peninggalan barang asli dari rumah tersebut. Menurut Sultan salah seorang penjaga rumah H.O.S Tjokroaminoto utusan dari Dinas Pariwisata, “ Peninggalan asli dari rumah Tjokroaminoto adalah tangga yang menuju ke loteng, yang dahulunya tempat mengaji dan berdiskusi H.O. S Tjokroaminoto dengan muridnya, selain itu juga bingkai tulisan PSII (Partai Syarikat Islam Indonesia) yang dipajang di dalam ruangan samping ruang tamu.”

Selain itu ada juga bangunan penerbitan Fadjar Asia milik H.O.S Tjokroaminoto. Letaknya berdekatan dengan pintu masuk gang rumah H.O.S Tjokroaminoto. Salah satu seorang murid H.O.S Tjokroaminoto yaitu Kartosuwiryo pernah bekerja di Penerbitan Fadjar Asia. Dengan ketekunan dan kecedasannya Kartosurwiryo diangkat menjadi sekretaris H.O.S Tjokroaminoto. Hasil dari ia bekerja di penerbitan tersebut untuk membayar mondokan yaitu rumah Tjokroaminoto ( Seri Buku Tempo Kartosuwiryo : 2016).

Rumah yang dijuluki dapur revolusi tersebut saat ini menjadi salah satu tempat untuk mengenal sejarah H.O.S Tjokroaminoto dan para murid-muridnya yang menjadi pendiri bangsa Indonesia. Satu rumah, satu guru, namun lahir beberapa pemimpin bangsa dengan karakteristik ideologi dan watak pergerakan yang berbeda-beda. Sungguh luar biasa bukan?

Mengingat, mengenal sejarah bangsa sendiri adalah suatu hal yang penting, karena itu bentuk dari mencintai negeri dan bangsa kita sendiri. “ Tak mungkin orang dapat mencintai negeri dan bangsanya, kalau orang tak menganal kertas-kertas tentangnya, kalau dia tak mengenal sejarahnya. Apalagi tak pernah berbuat sesuatu kebajikan untuknya” -Pramoedya Ananta Toer .

Marliana Eka Fauzia (Dok. Pribadi)

*Mahasiswi Pascasarjana Fisip Universitas Airlangga (Unair) Surabaya, Pegiat FNKSDA Surabaya

Tinggalkan Komentar

Please enter your comment!
Please enter your name here