Menyusuri Kampung Keramik Dinoyo (2-Habis)

Calon pembeli bisa memesan keramik sesuai motif yang diinginkan di Kampung Keramik Dinoyo Kota Malang (Aris Hidayat/Terakota)

Desain Berciri Budaya Malang
Berbagai jenis bahan keramik diproduksi mulai cangkir, moci, asbak, cinderamata dan vas bunga. Awalnya, perajin terpengaruh gaya keramik asal Cina. Para perajin meniru, motif, warna hingga bentuk keramik China. Sehingga hingga kini tak memiliki desain dengan ciri khas budaya Malang.

Saat ini, perajin mulai mengembangkan motif dan desain sesuai dengan budaya Malang. Mereka menggali kekayaan budaya dan motif asli Malang. Maupun iklim tropis, seperti motif katak, capung dan aneka jenis bunga tropis. Namun, permintaan keramik klasik atau antik model China tetap berdatangan. “Ada pasar yang khusus memesan keramik klasik,” katanya.

Kini, perajin banyak menerima order cinderamata perkawinan. Pembeli membuat desain sendiri sesuai dengan tema pernikahan atau profesi pasangan pengantin. Atau tokoh kartu yang diidolakan. “Pekerjaan pilot memilih cinderamata pesawat,” ujar Syamsul.

Perajin juga rajin mengikuti pelatihan untuk memperdalam teknik kerajinan keramik. Serta
mengikuti pameran ke berbagai Negara mempromosikan produk keramik Dinoyo. Meski sampai saat ini, tak ada perajin yang berhasil mengekspor produk keramik langsung ke luar negeri.

Syamsul mulai menekuni kerajinan keramik sejak 1995. Sebelumnya, ia bekerja di sebuah
pabrik keramik. Setelah memiliki cukup pengetahuan dan modal, Syamsul membangun usaha keramik. Kini, rata-rata pendapatannya setiap bulan mencapai Rp 5 juta. Mempekerjakan sebanyak 10 orang. “Rata-rata sama, omset dan pekerja tak beda jauh,” katanya.

Kampung Keramik Dinoyo Kota Malang salah satu sentra keramik terbaik di dalam negeri (Aris Hidayat/Terakota)

Kepala Unit Pelaksana Teknis Aneka Industri dan Kerajinan Dinas Perindustrian dan Perdagangan Provinsi Jawa Timur, A. Willem Talakua mengatakan kerajinan keramik di Dinoyo terus berkembang. Para perajin mengikuti pelatihan teknik produksi kerajinan keramik maupun manajemen.

“Unit Keramik Malang, memproduksi bahan baku keramik 60 ton per bulan,” katanya. Bengkel seluas separuh lapangan sepak bola ini mengolah bahan baku keramik. Diproduksi tiga jenis bahan baku seharga Rp 850 sampai Rp 1.250 per kilogram. Sebagian besar bahan baku berasal dari Jawa Timur.

Baca juga :  Empat Destinasi Wisata Favorit di Kota Malang

“Sekitar 15 persen impor,” katanya. Terutama, glasir dan pewarna untuk proses finishing.
Bahan itu diimpor dari Cina, Jerman, Italia, Taiwan, Spanyol dan Korea. Ia menjamin bahan
baku yang diproduksi berkualitas dan bersaing dengan produk lain. Sedangkan harganya, jauh lebih murah.

Unit yang dipimpinnya juga memberi bimbingan teknis kepada para perajin. Antara lain
meliputi teknik, manajemen dan pemasaran. Bahkan disediakan laboratorium secara cuma-cuma untuk perajin keramik. Meliputi uji kekerasan, kelenturan, tekan dan kekuatan. Willem
mengkritik perajin keramik Dinoyo yang tak memiliki jati diri atau ciri khusus.

“Seperti Bali unggul dengan desain berciri Barong,” katanya. Sehingga, kerajinan keramik
Dinoyo tak bisa bersaing ketat dengan produk lain. Terutama produk keramik Cina yang
dikenal kualitas bahan kelas wahid, termasuk teknik dan desain yang terkenal kelas dunia.

Keramik Dinoyo, katanya, tak bisa disandingkan dengan keramik Cina. Meski awalnya, banyak perajin yang meniru keramik Cina. Untuk itu, Willem menuntut perajin berinovasi membuat desain dan motif dengan kekuatan unsur budaya lokal. Jika di Malang terkenal dengan topeng Malang, tak salah jika motif itu digunakan menjadi motif khas Malang.

Lemah Agung, produsen keramik Malang sempat mengekspor keramik berbentuk kaligrafi ke  Negara di Timur Tengah. Ekspor keramik dilakukan mulai 1995, namun belakangan perajin menghentikan ekspor karena kesulitan manajemen. “Pengusaha kesulitan memenuhi pesanan jumlah besar,” katanya.

Produk Unggulan Malang
Ketua Badan Promosi Pariwisata Jawa Timur Dwi Cahyono menilai kampung keramik Dinoyo merupakan produk unggulan pertama di Malang. Dikenal dengan keramik berciri warna dominan biru dan putih. Tapi, kini pamornya terus meredup akibat kesalahan pengelolaan. “Perajin hanya memenuhi pesanan, meninggalkan ciri khasnya,” kata Dwi.

Baca juga :  Paceklik di Lumbung Air Umbulan

Seharusnya, kata Dwi, harus ada perajin yang mempertahankan ciri khas keramik Dinoyo.  Pemerintah harus memfasilitasi perajin agar menjaga tradisi dan keramik khas Dinoyo. Sebagai bagian dari industri kreatif, perajin dituntut membuat bentuk dan desain yang disesuaikan dengan perkembangan zaman.

Selain itu, karakter Panji dianggap mewakili Malang. Sementara, selama ini karakter Panji hanya  dikenal di kerajinan topeng Malangan. Karakter Panji, katanya, tak pernah digali oleh perajin. Mereka dianggap tak percaya diri dengan warisan budaya leluhur. Sementara, pemerintah tak bersungguh-sungguh menata dan mengelola kampung keramik Dinoyo.

Solusinya, kata Dwi, Pabrik Keramik Dinoyo Malang yang dikelola Perusahaan Daerah Pemerintah Provinsi Jawa Timur menjadi laboratorium hidup. Perajin bisa memamerkan keramik produksinya serta menjaring pelanggan. Selain itu, juga dibutuhkan lahan luas untuk parkir yang memadai untuk rombongan wisata.

Sedangkan kawasan kampung keramik ditata utuh. Terutama arus lalu lintas di jalan masuk kampung keramik yang selama ini sering macet dan menganggu wisatawan yang berkunjung. Solusinya, katanya, jalur diubah searah atau ditutup khusus hari Minggu. Pengunjung harus berjalan kaki menuju lokasi kerajinan keramik. “Jika ditata baik, optimis keramik Dinoyo kembali moncer,” katanya.(Habis-EW)

Tinggalkan Komentar

Silakan tulis komentar anda
Silakan tulis nama anda di sini