Menyuarakan Keberagaman Melalui Macapat

Pembacaan macapat lintas budaya ini memang baru pertama kali digelar di Banyuwangi. Bahkan, Suhalik mengklaim pertama di Indonesia. Sebab biasanya, pembacaan macapat hanya dilakukan oleh masing-masing kelompok secara terpisah. Seperti tradisi mocoan Lontar Yusuf yang dilakukan oleh masyarakat adat Osing di Desa Kemiren.

Reporter : Ika Ningtyas

Terakota.id– Tiga belas pria duduk melingkar sejak sore hingga semalaman suntuk. Bergantian, mereka menembangkan naskah Babad Tawangalun macapat dalam ragam cengkok Jawa, Madura, Bali dan Osing.

Mereka adalah para juru tembang yang berkumpul dalam acara “Pembacaan Tembang Lintas Budaya: Mocoan Osing, Macapatan Jawa, Mabasa Bali dan Mamaca Madura Babad Tawangalun” di Rumah Budaya Osing, Desa Kemiren, Banyuwangi, Jawa Timur, Minggu-Senin 17-18 Desember 2017.

Acara yang dihelat oleh para penggiat budaya Banyuwangi itu disaksikan oleh puluhan orang, termasuk Ketua Pusat Penelitian Budaya Etnik dan Komunitas Universitas Jember, Novi Anoegrajekti dan Ketua Komisariat Daerah Asosiasi Tradisi Lisan Jawa Timur, Setya Yuwana.

Panitia menerbitkan sebuah buku khusus berjudul “Babad Tawangalun” berisi naskah adaptasi Babad Tawangalun macapat yang berasal dari tahun 1827/1828. Dalam buku setebal 87 halaman itu disertai terjemahan bebas dalam bahasa Indonesia untuk memudahkan audiens memahami kandungan cerita dalam babad.

Ketua panitia, Suhalik, menjelaskan, pembacaan tembang tersebut sebagai upaya untuk mendokumentasikan tradisi lisan macapat yang kini mulai tergerus zaman. Padahal karya sastra macapat punya banyak fungsi mulai untuk edukasi, hiburan serta melatih kepekaan jiwa dan sosial. “Menembangkan macapat itu melatih kesabaran dan ketelitian,” kata dia, Minggu 17 Desember.

Macapat merupakan tembang atau puisi tradisional Jawa yang muncul di akhir masa Majapahit atau pada abad ke-15 masehi. Bentuknya terikat dengan ketentuan guru gatra atau jumlah larik dalam bait, guru wilangan atau jumlah suku kata dalam larik, serta guru lagu yakni bunyi suku kata pada akhir larik.

Menurut Suhalik, budaya pembacaan macapat tidak hanya milik etnis Jawa melainkan juga dilakukan oleh etnis Madura yang dikenal dengan nama mamaca, Bali bernama mabasa dan Osing dengan nama mocoan. Oleh karenanya, kata Suhalik, pembacaan tembang melibatkan keempat etnis untuk membumikan konsep “Bhineka Tunggal Ika” dalam berkesenian.

Entitas budaya yang beragam tersebut, menurut Suhalik, mewakili keragaman identitas kultural di Banyuwangi, sebagai tempat awal mula kisah Babad Tawangalun dituliskan. Selain untuk keberlanjutan seni tradisi lokal, acara ini untuk merespon makin mengerasnya politik identitas di kehidupan sosial akhir-akhir ini. “Kesenian menjadi tempat yang tepat bagi bertemunya lintas identitas dan budaya,” kata dia.

Pembacaan macapat lintas budaya ini memang baru pertama kali digelar di Banyuwangi. Bahkan, Suhalik mengklaim pertama di Indonesia. Sebab biasanya, pembacaan macapat hanya dilakukan oleh masing-masing kelompok secara terpisah. Seperti tradisi mocoan Lontar Yusuf yang dilakukan oleh masyarakat adat Osing di Desa Kemiren.

Hal ini juga diakui oleh Ketua Komisariat Daerah Asosiasi Tradisi Lisan Jawa Timur, Setya Yuwana. Menurut dia, pembacaan macapat lintas etnis tersebut jarang terjadi. “Ini memang langka,” kata dia yang datang dari Surabaya untuk menyaksikan acara itu.

Menurut Yuwana, budaya macapat dari abad ke-15 masih hidup sampai sekarang. Beberapa komunitas di Madura, Gresik, Malang dan Banyuwangi, masih menembangkan macapat secara rutin di hari-hari tertentu. Hanya saja yang mengkhawatirkan, pelaku tradisi macapat itu sebagian besar telah berusia lanjut. “Generasi muda tak banyak tertarik menembangkan macapat,” kata dosen Universitas Negeri Surabaya ini.

Babad Tawangalun dipilih bukan tanpa alasan. Karya sastra anonim atau tidak diketahui pembuatnya ini dianggap memiliki nilai sejarah yang tinggi. Suhalik mengatakan, babad tersebut menceritakan nenek moyang keluarga raja-raja Blambangan (cikal-bakal Banyuwangi), yang bermula dari para pangeran Kedhawung di abad ke-17.

Silsilah raja Blambangan dalam Babad Tawangalun, kata Suhalik, mencakup rentang waktu lebih dari dua abad. “Tawangalun sendiri adalah nama raja Blambangan terbesar, yang memerdekakan Blambangan dari kekuasaan Mataram dan Bali,” kata penggiat sejarah lokal ini.

Salah satu tim naskah dalam acara ini, SM Anasrullah, menjelaskan, naskah induk babad ini ditulis dalam dua versi yakni aksara Jawa dan Arab Pegon. Namun naskah ini memiliki beragam versi salinannya baik dalam bentuk macapat maupun gancaran atau prosa.

Untuk menyusun buku tersebut, Anas menyandarkan pada naskah Babad Tawangalun yang tersimpan di ruang naskah Fakultas Sastra Universitas Indonesia berkode FSUI/SJ.168. Naskah tersebut, kata dia, merupakan naskah transkripsi beraksara latin yang ditulis dengan tangan oleh Pigeaud. Pigeaud sendiri memperoleh naskah induk dari R. Asparin di Banyuwangi pada tahun 1927. “Transkripsi ulang berupa salinan ketik dilakukan oleh Mandrasastra pada tahun 1930,” kata Anas.

Transkripsi terhadap Babad Tawangalun berikutnya dilakukan oleh Winarsih Partaningrat Arifin pada 1995 dengan menyertakan sejumlah catatan dan koreksi atas naskah tersebut. Hasil transkripsi Babad Tawangalun karya Winarsih terbit bersama transkripsi empat babad lain dalam buku Babad Blambangan yang diterbitkan Ecole franocaise d’Ext raeme-Orient dan Yayasan Bentang Budaya.

Selain itu, Anas juga membandingkan dengan dua sumber naskah Babad Tawangalun yang ditranskripsikan oleh Achmad Aksoro pada 1994 dan Samsubur pada 1996. Namun, kedua terakhir ini memiliki sumber naskah induk yang berbeda. “Ini menguatkan dugaan bahwa salinan Babad Tawangalun punya banyak versi,” kata lulusan Universitas Gajah Mada ini.

Tinggalkan Pesan