Menyeni Rupa Bersama, Pameran Seni di Gedung Lawas

Terakota.id–Menikmati akhir pekan di atap atau rooftop Semeru Art Gallery tiada duanya. Menyecap kopi panas sembari mengamati lalu lalang kendaraan di jalan utama di Kota Malang. Mulai Jalan Semeru dan Jalan Basuki Rachmad Kota Malang. Menempati salah satu ruangan yang berada di gedung kembar sisi utara kawasan Rajabally. Gedung kembar yang dibangun arsitek Belanda Karel Bos pada 1936 ini menjadi salah satu ciri khas di kawasan pertokoan Kayutangan.

Menuju Semeru Art Gallery kita akan melewati pintu kecil dengan tangga berubin menuju ke lantai dua. Pintu berbingkai besi, bagian tengah dihias kawat beranyam mirip jaring laba-laba menyambut di lantai dua. Seolah tengah memasuki sebuah markas mafia. Mirip dengan bangunan tempat kumpulnya Takiya Genji bersama kawan-kawannya dalam film Crowz Zero.

Semeru Art Gallery menempati gedung lawas, banyak ruang dan pintu. Dinding bercat putih mulai memudar, pengelola membiarkan apa adanya. Ini bukan markas mafia, melainkan tempat berkumpulnya para seniman. Juga menjadi tempat ngopi yang layak dikunjungi.

Semeru Art Gallery berdiri sejak 13 Januari 2015. Bangunan ini menjadi tempat berkumpulnya komunitas seniman dan budayawan di Malang. Ia tempat berekspresi para seniman, terutama seni rupa.

Di lantai dua Semeru Art Gallery tengah berlangsung pameran seni rupa sejak 3-5 Mei 2018. Pameran berlangsung tiga hari, sebanyak 32 karya dari 21 perupa menghias ruangan.

“Pameran ini merupakan kelanjutan dari Pameran Menyeni Rupa Bersama sesi pertama. Pameran yang memajang karya teman-teman kelas Menyeni Rupa. Dari 32 karya, 16 di antaranya adalah karya teman-teman kelas,” kata penanggungjawab Kelas Menyeni Rupa, Feri H. Said.

Kelas Menyeni Rupa merupakan ruang tukar pengetahuan dan pengalaman bagi siapapun yang tertarik belajar seni rupa. Berlangsung setiap Jum’at pukul 15.00-17.30 di Komunitas Kalimetro, Jalan Joyosukometro 42 A Kota Malang. Di kelas mereka belajar berbagai teknik seni rupa, dari para seniman telah berpengalaman.

Untuk pameran ini, peserta bebas memilih tema dan menyelesaikan karyanya di tempat masing-masing. Sehingga, beragam aliran dan tema karya terpajang dalam pameran Menyeni Rupa Bersama season II.  Mulai aliran realisme, naturalisme, surealisme, impresionisme hingga abstrak. Kebanyakan lukisan berupa hitam putih.

Selain karya peserta kelas, ada juga karya Dandung P, Feri H.Said, Maruto Septriono, dan Hengky Irawan. Nama-nama tersebut tidak asing bagi mereka yang dekat dengan geliat seni rupa, terutama di Kota Malang.

Awalnya, pameran ini direncanakan untuk diadakan di kampus. Harapannya, semakin banyak anak muda yang tertarik. Sekaligus untuk membongkar asumsi bahwa seni rupa hanya didominasi mahasiswa jurusan seni rupa. Bagi Feri, seni rupa dapat dipelajari siapapun yang memiliki komitmen dan niat berkesenian.

Namun, karena birokrasi kampus yang menurut Feri berbelit, akhirnya batal. Lalu dipilihlah tempat pameran yang memang dikenal sebagai kantongnya para perupa.

“Dua bulan persiapan habis untuk menunggu kejelasan dari kampus yang awalnya dipilih sebagai tempat pameran. Tapi bagaimanapun yang terpenting pameran harus tetap jalan,” ujar  Nadiatus, salah satu peserta kelas Menyeni Rupa dan panitia pemeran Menyeni Rupa Bersama season II.

Dari pameran ini, Feri berharap akan semakin banyak lagi kantong-kantong kesenian di Kota Malang. Dengan begitu, Kota Malang akan lebih maju dalam hal berkesenian.

Pameran Lukisan untuk Para Pemula 

Salah seorang pengunjung mendokumentasikan lukisan karya para perupa Kota Malang di Semeru Art Gallery. .(Terakota/HA. Muntaha Mansur).

Tidak harus para maestro yang berpameran, tidak hanya para pesohor yang karyanya layak dipamerkan. Namun, pameran merupakan ruang terbuka bagi siapapun yang berkarya. Termasuk bagi mereka yang dianggap sebagai para pemula.

Heinrich Osualdo Ndahawali (Aldo), seorang mahasiswa asal Nusa Tenggara Timur mengaku terharu ketika karyanya diikutkan pameran. Sebelumnya ia baru sekali ikut pameran. Itupun di dalam kampus. Sehingga, pemeran Menyeni Rupa Bersama season II punya arti tersendiri baginya.

“Awalnya belum berani ikut pameran, apalagi di luar kampus dan tiga hari. Rasanya luar biasa ketika melihat pengunjungnya banyak, merasa diapresiasi,” terang Aldo.

Aldo yang suka menggambar sejak Sekolah Dasar (SD) merasa beruntung ketika bertemu dengan para perupa yang lebih senior di Kota Malang. Demi mengasah ketrampilannya, ia ikut kelas Menyeni Rupa saban Jum’at.

“Saya terpacu untuk semakin berkarya. Apalagi ketika dipamerkan, yang awalnya asal menggambar terdorong untuk lebih serius,” tukas Aldo.

Nadiatus, mahasiswi Fakultas Hukum sebuah kampus swasta di Kota Malang ini, mengungkapkan hal yang tidak jauh beda. Ia mengaku belajar seni rupa dari nol.

Di kelas Menyeni Rupa itulah ia memulai mengasah kemampuan. Setelah itu, ia tekun belajar sendiri. Karyanya yang diikutkan dalam pameran kali ini berupa potret diri. Ia memberinya judul Bukan Chairil.

Selain memajang karya, pameran kali ini juga diiringi dengan beragam kegiatan. Diantaranya; Malam Panggung Seni, Jagongan Seni, Pementasan dari Teater Komunitas dan Seruni, Lapak Buku, Sketch on the spot, dan lain sebagainya. Untuk kesuksesan acara, pameran bersama Menyeni Rupa Season II didukung oleh Terakota.id, Komunitas Kalimetro, Semeru Art Gallery, Toko Buku Toga Mas, Intrans Publishing, dan MCW.

 

Tinggalkan Balasan