Menyelematkan Sumber Gemulo

Terakota.id–Sejumlah bocah bertelanjang dada, mereka asyik berendam dan bermain air. Sesekali mereka tertawa lepas, menghilangkan kepenatan selepas sekolah. Mereka berendam dan berenang di saluran air yang berasal dari Sumber Gemulo. Air jenih mengalir, air terasa dingin saat menyentuh kulit, meski matahari di atas kepala. Begitulah keceriaan bocah Desa Bulukerto Kecamatan Bumaji Kota Batu bermain air.
“Saat saya SMP, tahun 1990 an ketinggian permukaan air sampai seperut. Sekarang cuma sebetis,” kata Arif Nugroho warga pegiat lingkungan setempat. Semasa kecil, Arif sering menghabiskan waktu di daerah sekitar Sumber Gemulo. Untuk hanya sekedar bermain, mandi atau menikmati kesejukan udara di kaki Gunung Arjuna. Bagi Arif, Sumber Gemulo merupakan sumber kehidupan warga.
Pusat semburan air sumber Gemulo tertutup bangunan berbahan semen,  terpasang sebanyak 12 pipa saluran air minum. Pipa merupakan jaringan air minum milik Himpunan Penduduk Pemakai Air Minum (HIPPAM) warga setempat dan Perusahaan Daerah Air Minum untuk memenuhi kebutuhan minum warga di 14 desa. Limpahan air mengalir di saluran air yang terhubung ke Daerah Aliran
Sungai (DAS) Brantas.
Di tepi Sumber Gemulo berdiri kokoh pohon beringin raksasa yang menaungi  daerah sekitar sumber mata air. Rutin setiap tahun, mereka menggelar selamatan mata air. Kearifan budaya lokal ini tetap dipertahankan sampai saat ini. Sambil memanjatkan doa kepada Tuhan, agar sumber mata air terus lestari sepanjang masa. Mereka menutupnya dengan pertunjukan kesenian tradisional seperti bantengan dan kuda lumping.
Tak jauh dari sumber mata air, lahan pertanian tampak subur. Bunga mawar mekar, tampak indah memanjakan mata. Lahan pertanian sayur seperti bawang daun, bawang merah dan kubis tumbuh subur. Tanaman warga subur berkat aliran air Sumber Gemulo. Kawasan Bumiaji dikenal sebagai daerah penghasil tanaman bunga potong, bunga hias, buah apel dan sayuran.
Di atas sumber mata air berdiri puluhan bangunan vila yang dibangun sejak 1970 an. Sampai saat ini jumlah bangunan vila terus bertambah dan dikhawatirkan bakal mengancam kelestarian sumber mata air. Pengelola sebuah vila sempat membuang batu kapur ke sebuah sumur dampaknya air yang keluar dari sumber Gemulo berwarna putih keruh.
“Terbukti jika air tanah saling berhubungan, jika lingkungan rusak akan mengancam kelestarian sumber air mata,” katanya. Sehingga warga menolak mati-matian pembangunan The Rayja Batu Cottage oleh PT Panggon Sarkasa Sukses Mandiri awal 2012. Lantaran lokasi pembangunan hotel hanya berjarak sekitar 200 meter dari sumber mata air. Saat permukaan tanah di lokasi proyek diratakan dengan eskavator, air yang keluar dari Sumber Gemulo berubah menjadi keruh berwarna kecoklatan.
“Bahkan saat perataan tanah, terjadi genangan air. Sumber air rusak,” katanya. Kerusakan sumber air, katanya, diketahui saat Komisioner Komnas HAM, Syafrudin Ngulma Simuelue meninjau lapangan 3 Mei 2012. Komnas HAM memediasi kedua belah pihak. Namun, tak ada titik temu. Warga berulangkali berunjukrasa menolak pembangunan hotel di kawasan sumber mata air.
Komnas HAM mengeluarkan rekomendasi kepada Wali Kota Eddy Rumpoko untuk menghentikan proyek pembangunan hotel. Persoalan ini juga dilaporkan ke Ombudsman RI Perwakilan Jawa Timur. Penelusuran Ombudsman terjadi pelanggaran mal administrasi dalam penerbitan surat ijin mendirikan bangunan hotel The Rayja.
Konflik juga terus berlanjut sampai ke pengadilan. Komisaris Utama PT Panggon Sarkasa Sukses Mandiri, Willy Boenardi menggugat perdata Koordinator Aliansi Masyarakat Peduli Mata Air (AMPMA), Rudi di Pengadilan Negeri Malang. Selain itu, Willy juga melaporkan warga Bulukerto ke Kepolisian Resor Batu dengan tuduhan melakukan tindak pidana perusakan.
Sumber Gemulo mengalir jernis untuk memenuhi kebutuhan masyarakat setempat. (Foto : Yongki Irawan).
Majelis PN Malang memutuskan menolak gugatan Willy, sebaliknya majelis hakim mengabulkan gugatan rekovensi atau gugatan balik FMPMA. Ketua majelis, Bambang H Mulyono memutuskan Willy membayar ganti rugi Rp 2 juta. Sedangkan, awalnya gugatan ganti rugi mencapai Rp 2 juta per orang untuk 9 ribu warga sekitar mata air gemulo. Sehingga total ganti rugi mencapai Rp 18 miliar.
Majelis hakim menganggap gugatan AMPMA merupakan gugatan Rudy secara pribadi, bukan kolektif. Tak puas dengan keputusan pengadilan tingkat pertama, Willy mengajukan banding ke Pengadilan Tinggi Jawa Timur. Sedangkan laporan perusakan masih ditangani Kepolisian Resor Batu. Penyidik polisi telah meminta keterangan warga setempat.
Menurut Arif, sejak 10 tahun terakhir debit sumber mata air Gemulo terus menyusut. Sehingga warga setempat harus bergiliran membagi air irigasi untuk areal pertanian. Penggunaan air secara bergiliran kadang menyebabkan persoalan. Sempat terjadi perang mulut antar petani lantaran mereka saling berebut untuk mengaliri sawah dan kebun.
“Air kebutuhan utama bagi petani. Nyaris berkelahi dan carok,” katanya. Beruntung tokoh masyarakat setempat berhasil mendamaikan, sehingga mereka sadar untuk menggunakan air secara bergantian. Petani menggunakan air untuk mengairi tanaman berupa buah apel, sayuran, aneka jenis bunga potong dan bunga hias.
Untuk menjaga Sumber Gemulo tetap mengalir, warga rutin menanam aneka jenis bibit tanaman atau reboisasi di kawasan lereng Arjuna. Daerah tersebut dianggap sebagai daerah tangkapan air yang memasok Sumber Gemulo. Jika kawasan terjaga, katanya, maka Sumber Gemulo juga tetap lestari.
Direktur Eksekutif Daerah Walhi Jawa Timur Ony Mahardika menyebutkan jika sumber mata air dan daerah tangkapan harus dilindungi untuk mencegah bencana ekologis. Bencana ekologis terjadi karena alih fungsi lahan, kerusakan ekosistem dan penghancuran sumber mata air. Termasuk Sumber Gemulo yang memiliki debit 179 liter per detik.
“Sumber Gemulo salah satu pemasok DAS Brantas,” katanya. Kanjian Walhi Jawa Timur menunjukkan terjadi kerusakan lingkungan di kawasan hulu sehingga menyebabkan debit sungai Brantas anjlok. Terdapat alih fungsi kawasan hutan lindung di kaki Gunung Arjuna berubah menjadi areal pertanian sayur-mayur, industri dan bangunan.
Puluhan sumber air di kawasan hulu di Batu mati akibat kerusakan dan alih fungsi kawasan hutan. Data Walhi Jawa Timur, 2005 ditemukan sebanyak 215 sumber mata air, 2010 turun menjadi 111 sumber mata air. Sedangkan saat ini hanya tersisa separuhnya.

Tinggalkan Balasan