Menyelamatkan Taman Nasional Bromo Tengger Semeru

Ranupani Gunung Semeru
Tanaman sayuran terhampar luas di kebun warga di kawasan Taman Nasional Bromo Tengger Semeru (Terakota/id/Eko Widianto)

 Terakota.id-Sutono, 35 tahun, warga Ranupani, Kecamatan Senduro, Kabupaten Lumajang duduk di depan tungku. Sesuai tradisi Suku Tengger, ia menyambut empat tamu di depan tungku sembari duduk di kursi kayu. Tak di ruang tamu seperti tradisi masyarakat Jawa yang lain. Bongkahan arang kayu ditumpuk, bara air mengusir hawa dingin di lereng Gunung Semeru.

Saat pagi, suhu udara di Ranupani sekitar 15 derajat celsius. Segelas kopi atau teh panas disajikan untuk menyambut para tetamu. Dapur  berfungsi ganda, untuk aktivitas memasak sekaligus menjadi ruang tamu. Dulu, masyarakat desa di lereng Gunung Semeru ini memulai aktivitas di dapur dengan membakar kayu bakar di tungku. Untuk memasak sekaligus sebagai tungku perapian, maklum saban pagi suhu udara dingin menusuk tulang. Kadang mencapai lima derajat celsius.

Kini, sebagian besar telah beralih menggunakan gas elpiji. Tungku hanya digunakan untuk perapian, jika dulu kayu bakar sekarang beralih ke arang kayu. Bara api lebih awet dan ramah lingkungan. Untuk keperluan kayu bakar, setiap keluarga membutuhkan satu batang pohon untuk satu pekan. “Menebang pohon akasia hutan di kawasan Taman Nasional,” kata Sutono.

Kebutuhan kayu bakar yang tinggi sehingga mereka menebang pepohon di kawasan Taman Nasioal Bromo Tengger Semeru (TNBTS). Kadang mereka juga kucing-kucingan dengan petugas Balai Besar TNBTS saat mengambil kayu bakar. “Kebutuhan kayu bakar tinggi. Kami sadar selama ini tak menanam dan merawat pohon pengganti yang ditebang,” ujarnya.

Sehingga semakin lama, mereka harus masuk semakin jauh untuk menebang pohon. Ranupani merupakan kawasan enclave atau kantung di dalam kawasan TNBTS. Kawasan TNBTS seluas 50.276 hektare tersebar di wilayah Kabupaten Lumajang, Kabupaten Malang, Kabupaten Pasuruan dan Kabupaten Probolinggo. Akibat penebangan secara ilegal seperti yang dilakukan warga Ranupani terjadi kerusakan hutan seluas 2.139 hektare. Selain perambahan, juga akibat kebakaran hutan dan erupsi Gunung Semeru.

Ranupani lereng Gunung Semeru
Sutono menerima tamu di dapur, duduk di depan tungku sekaligus tempat perapian (Terakota.id/Eko Widianto)

Sumber Air dan Debit Menyusut

Perambahan hutan menyebabkan menyusutnya debit air dan matinya sejumlah sumber mata air. Selama 10 tahun terakhir, dua sumber mata air mati. Sementara untuk pemenuhan kebutuhan air minum menggunakan sumber air Amprong, Watu Rejeng dan Sumber Ong. Namun, selama 10 tahun terakhir debit terus berkurang terutama dari Sumber Ong.

Sebagai pengganti arang kayu, tengah diujicoba briket arang dari tanaman krinyuh. Tanaman yang kerap menjadi hama di kawasan hutan konservasi TNBTS. “Masih tahap uji coba, agar masyarakat tak menebang pohon di hutan,” kata Kepala Resor Ranupani TNBTS Agung Siswoyo.

Selain itu Balai Besar TNBTS menyediakan zona tradisional untuk dimanfaatkan masyarakat setempat. Zona tradisional seluas 400 hektare bisa dimanfaatkan untuk memungut hutan bukan kayu, perburuan tradisional, dan wisata terbatas. Serta digunakan untuk budidaya pakis dan jamur oleh kelompok masyarakat.

Masyarakat Ranupani tinggal di ketinggian 2.100 meter di atas permukaan laut (m.dpl) dalam kawasan seluas 3.579 hektare, dihuni 1.300 jiwa. Mereka menggantungkan hidup dengan bertani, menanam kentang, kubis dan bawang. Tanaman terhampar di lahan pertanian dengan kontur tanah yang kemiringannya tajam. Menyebabkan erosi.

“Tingkat erosinya tergolong tinggi, mencapai 20 ton per hektare per tahun.” Sedangkan ambang batas maksimal 1 ton pertahun. Pola tanam masyarakat dan pengolahan lahan secara intensif, menyebabkan laju erosi tinggi.

Ranupani Gunung Semeru
Para pecinta alam dari penjuru nusantara mendirikan tenda di tepi danau Ranupani. Lokasi perkemahan ini dulu merupakan bagian dari danau( Terakota.id/Eko Widianto).

Hutan Rusak Danau Ranupani Menyusut

Erosi mengakibatkan sedimentasi di danau Ranupani yang tepat berada di tengah permukiman. Erosi tanah menutup sekitar satu hektare danau Ranupani dari semula seluas 6,7 hektare. Selain itu juga terjadi pendangkalan, danau sedalam 12 meter sekarang kedalamannya tinggal 1 sampai 3 meter.

Danau juga tercemar tanaman invasif yang menutup permukaan danau. Kini tanaman air kiambang atau salvania molesta telah menutup 90 persen permukaan danau. Padahal danau ini sebelumnya menjadi habitat burung belibis (Anseriformes) berenang dan bermain di tengah danau. Bahkan, musisi balada mendiang Gombloh menciptakan lagu Ranupani terinspirasi dari danau di kaki Semeru ini.

Kini, masyarakat bersama kelompok pegiat lingkungan tengah berusaha membersihkan kiambang. Enam tahun lalu, danau Ranupani bersih terbebas dari kiambang. Masyarakat bergotong royong membersihkan selama 36 hari. “Dulu teledor, salvania kembali menutup Ranupani,” kata Agung Siswoyo.

Setelah bersih, akan diawasi setiap pekan. Selain itu, juga melibatkan masyarakat untuk mengelola danau dengan konsep ekowisata. Sasaran pengunjung adalah para pendaki maupun wisatawan mancanegara. Para pendaki Gunung Semeru selalu mampir ke Ranupani untuk mempersiapkan pendakian ke puncak Mahameru.

Untuk menjaga kawasan hutan di lereng Semeru, ribuan pecinta alam, mahasiswa dan akademisi bersama-sama menanam pohon. Mereka yang tergabung dalam Komunitas Gimbal Alas melakukan penghijauan secara sukarela.

“Mereka datang dari berbagai daerah di nusantara. Sebagian besar pernah mendaki ke Semeru,” kata pegiat Komunitas Gimbal Alas, Bambang Irawan Wibisono. Para pecinta alam ini terbiasa menapaki jalan sulit dan terjal di lereng Semeru. Sembari membawa bibit pohon aneka jenis, mereka mendaki sejauh lima kilometer.

Penghijauan dilakukan di kawasan Ayeg-ayeg, Watu Rejeng, dan Sumber Danyangan. Lokasi ini menjadi hutan gundul, pepohonan habis menjadi hambaran tanah.

Sebelum para pegiat dan pecinta alam menanam bibit pepohonan, pemuka agama Hindu setempat, Dukun Bambang Sutedjo merapal doa. Ia memanjat doa untuk keselamatan dan kebaikan bagi para peserta penanaman pohon. Ia juga berpesan agar alam senantiasa dijaga untuk kebaikan umat. “Jaga dan lestarian, atau bencana yang datang,” kata Bambang mengakhiri doa.

 

 

 

1 KOMENTAR

Tinggalkan Komentar

Silakan tulis komentar anda
Silakan tulis nama anda di sini