Menyambut Tamu di Pawon Tengger

menyambut-tamu-di-pawon-tengger
Masyarakat Tengger menerima tamu di Pawon. Lebih hangat dan akrab. (Terakota/Abdul Malik).

Terakota.idSetiap rumah suku Tengger di Ngadas, Poncokusumo, Kabupaten Malang memiliki pawon atau tungku untuk memasak. Dulu, sebelum menggundakan gas elpiji, masyarakat Ngadas menggunakan kayu bakar untuk memasak di tungku. Kini berubah, tungku dipasang kompor gas elpiji untuk memasak. Selain untuk memasak, pawon juga berfungsi untuk menerima tamu.

Sedangkan untuk perapian, tak lagi menggunakan kayu bakar. Mereka menggunakan arang, bara arang menghangatkan tubuh. Sehingga para tamu diajak berkumpul di pawon untuk menikmati kudapan, minuman sembari bercengkrama. “Lebih nyaman di pawon, sambil pegenen (perapian). Mengusir hawa dingin,” kata Ketua Kelompok Sadar Wisata (Pokdarwis) Dewi Adas, Mistar Harjo.

Jangan heran, jika warga setempat tak memiliki ruang tamu. Termasuk meja kursi layaknya di rumah di luar Tengger. Pawon berfungsi ganda untuk memasak dan menerima tamu. Mereka menyambut tamu tanpa membeda-bedakan siapa saja yang bertamu.

Layaknya ruang tamu, tamu duduk menggunakan dingklik atau bangku meriung mengelilingi pawon. Kopi dan teh panas tersaji untuk menyambut para tamu. Masyarakat setempat menyebutnya pegenen menikmati kopi, ngobrol dan perapian mengusir hawa dingin.

Tamu yang istimewa, pasti disambut di pegenen.  Pawon menjadi simbol keakraban dan masyarakat Ngadas merupakan tipikal masyarakat yang terbuka. Tak ada yang ditutupi. Dapur dibuka oleh siapapun. Mereka juga menyantap makanan, yang dimasak tuan rumah.

Pangan Lokal Ngadas

Saling cerita, menimbulkan keakraban sembari minum kopi. Sehingga tak ada jarak. Jika musim panen, kentang menjadi suguhan bagi para tamu. Kentang biasa disajikan dengan cara dikukus, kadang tersaji dalam bentuk kentang goreng.

Selain kentang, masyarakat Ngadas juga memiliki bahan pangan utama berupa jagung putih. Jagung putih, dulu ditanam masyarakat sebagai makanan pokok. Mereka mengolah menjadi makanan utama menjadi nasi empok. Bersanding dengan ikan asin bersama sambel kotok yang terdiri atas bawang prei dan cabai terong khas tengger. Sambel kotok biasa dibakar langsung di atas cobek.

Jagung putih juga biasa dibuat menjadi bledus yakni jagung yang dikukus bertabur parutan kelapa. Jagung putih masa tanam selama setahun, baru bisa dipanen. Kini, masyarakat Ngadas tidak ada yang menanam jagung putih, lantaran masa tanam tarlalu panjang dan hasil panen lebih menguntungkan kentang. “Tanaman jagung putih terpinggirkan tanaman kentang,” katanya.

menyambut-tamu-di-pawon-tengger
Terhampar kebun kentang milik masyarakat Ngadas. Mendesak lahan tanaman jagung lokal Ngadas. (Terakota/Abdul Malik).

Sehingga jika merindukan makan nasi empok jagung putih warga Ngadas membeli dari petani di Pasuruan. Jagung juga biasa dibuat krosok, jagung dimasukkan ke dalam bara api hingga matang. Lantas setelah masak dinikmati selagi panas.

Saban tahun, mereka juga menggelar ritual Ki Towok sebuah upacara yang dipimpin dukun setempat. Menyajikan beragam sesaji untuk ucapan terima kasih, lantaran pawon telah memberikan kehidupan.

Dukun merapal doa untuk memanjat syukur atas karunia Tuhan. Lantaran telah dikaruniai bahan makanan yang melimpah untuk keluarga. Ritual ini diikuti seluruh masyarakat desa setempat. Ritual budaya setempat menjadi  pemersatu, meski berbeda agama.

Berderet bangunan rumah dengan arsitektur minimalis dan modern berjajar di Desa Ngadas di kaki Gunung Bromo. Sebagian besar bangunan rumah berlantai dua, lantaran hamparan tanah untuk bangunan yang terbatas. Sayang, hanya tersisa dua rumah adat Ngadas yang masih terjaga. Yakni bangunan rumah yang terbuat dari papan kayu, dengan gaya arsitektur khas Ngadas.

Banyak rumah tradisional Ngadas bersalin menjadi rumah berbahan batu bata dan beton lantaran dianggap lebih kuat. Selain itu, papan kayu sulit didapat dan mahal. Serta perawatan yang cukup mahal, sehingga sebagian merombak rumah menjadi bangunan modern.

Saat membangun rumah, warga juga masih menjaga tradisi berupa membuat sesaji dan ritual yang dipimpin doa oleh dukun desa setempat. Sesaji berupa gedung ayu diletakkan dalam wadah terdiri dua sisir pisang, sisir, kaca, jambe ayu dan suruh ayu. Serta tumpeng dan bendera merah putih.

Tak ketinggalan satu sisir pisang, gula pasir, beras dan kelapa utuh di letakkan dalam sebuah wadah. Serta jenang atau bubur merah dan putih. Sesaji diletakkan di di tengah pilar. Juga dilengkapi kembang boreh atau telon atau kembang tujuh warna. Bunga ditabur.

Namun, khusus bulan kepitu sesuai penanggalan Tengger menjadi pantangan atau dilarang mendirikan bangunan. Saat itu, dukun tengah beristirahat atau berpuasa. Serta dilarang menggelar pesta pernikahan dan khitan.

Tinggalkan Komentar

Silakan tulis komentar anda
Silakan tulis nama anda di sini