Menuju Kampus Merdeka yang Berkarakter 

Terakota.id–Hari Rabu-Kamis (29-30 Januari 2020) saya mengikuti Rapat Kerja Bidang Kemasiswaan kampus Universitas Muhammadiyah Malang (UMM) di Kota Batu. Raker dengan tema “Rekognisi dan Internasionalisasi” untuk menetapkan standar, pedoman dan Standar Operasional Prosedur (SOP kemahasiswaan yang harus ditinjau ulang. Tentu saja untuk disesuaikan dengan perkembangan zaman. Ini sebuah keniscayaan yang tak bisa dihindari.

Seperti biasanya, pada pagi hari saya menyempatkan jalan sejauh saya mampu. Pokoknya jalan saja. Bersama teman dosen yang juga mengikuti Raker tentu saja terjadi perbincangan menarik; dari soal kampus, hidup, kehidupan mahasiswa kekinian, politik sampai soal keluarga.

Berkaitan dengan tema Raker kami memperbincangkan soal perkembangan teknologi komunikasi yang membuat semua berubah bahkan dipaksa ikut berubah. Saya tidak memperbincangan soal tema Raker tetapi tentang teknologi beserta dampaknya.

Saat  jalan pagi, saya melihat kota Batu kelihatan lengang. Maklum karena bukan hari ibu atau weekend.  Dua hari itu membuat kota Batu macet. Malang dan kota Batu termasuk kota macet ke-3 se Indonesia. Ada banyak hotel di kota Batu. Yang menarik bagi saya banyaknya aplikasi online untuk pesan hotel. Bahkan transportasi online baju “warna hijau” pun berseliweran di jalan-jalan.

Apa yang kita tangkap dari pesan itu? Aplikasi teknologi, termasuk online, telah mempermudah kehidupan manusia. Untuk pergi ke kota Batu Anda tidak perlu bersusah payah. Cukup mempunyai aplikasi online. Pesan transportasi,  hotel, dan pembayaran lain lewat online. Mau pergi kemana semua bisa dituruti dan diurus oleh teknologi. Hebat bukan?

Super Highway

Saya jadi ingat pendapat John V. Pavlik. Ia menyebut saat ini dunia sedang berada dalam masyaraka super highway. Apa itu? Super highway itu jaringan elektronik yang dihasilkan oleh teknologi yang canggih. Apa yang dimungkinkan dari masyarakat model ini?  Dengan super highway memungkinkan informasi;  (1) diakses oleh siapa saja, (2) dikirim oleh siapa saja, (3) mengecilkan dominasi perolehan informasi, dan (4) masuk ke semua kelas sosial dalam masyarakat (Nurudin, 2017).

Yang menarik bukan pada peran teknologi itu, tetapi masyarakat super highway telah mencerabut sisi kemanusiaan individu. Lihat misalnya, segala sesuatunya diputuskan dengan teknologi. Semua serba teknologi.

Kita tidak bermaksud semata-mata menyalahkan teknologi. Tidak usah pula menyalahkan orang lain. Informasi teknologi masuk ke semua kelas sosial di masyarakat. Semua orang hampir mengalaminya, kecuali yang memang tidak menggunakan gadget.

Kita memang sudah diperbudak oleh teknologi. Semua mengandalkan teknologi. Semua diputuskan melalui perantaraan teknologi. Teknologi seolah sudah menjadi satu-satunya penentu setiap aktivitas manusia.

Ini tentu saja tidak bermaksud menuhankan tenologi. Tetapi, jangan-jangan manusia telah menjadikan teknologi sebagai tuhan (tuhan dengan t kecil)  karena ketergantungannya yang tinggi. Bukankah tuhan itu tempat bergantung manusia?

Kita tentu tak harus menyalahkan teknologi beserta pernak-perniknya. Karena itu sesuatu yang sudah terjadi dan kejadian itu tidak bisa kita hindari. Menyalahkan orang lain tentu tidak akan menyelesaikan masalah, mencari informasi untuk mengantisipasinya menjadi tindakan cerdas. Yang penting apa yang harus kita lakukan.

Berkarakter, Mandiri, Berdaya Saing

Sebagai seorang dosen tentu saya tertarik untuk mengamati dunia kampus. Sebagai dosen tentu ini sebuah tamparan telak. Bahwa pendidikan selama ini ada sesuatu yang tidak “bekerja sebagaimana mestinya”. Tentu ini pendapat subjektif. Sebab, apapaun bentuk pendidikannya dampak teknologi tidak akan bisa dihindari, kecuali memang mereka yang tidak memanfaatkan teknologi modern itu.

Dampak teknologi menjadi semakin rumit jika cara mengajar dosen itu hanya sekadar transfer ilmu saja. Dosen membaca buku lalu menyalurkannya ke mahasiswa di kelas. Kalau begini saja, mahasiswa bisa membaca sendiri. Tentu jika mahasiswa mau.

Mahasiswa kita telah “hanyut” dalam dampak teknologi. Apakah dengan demikian kampus harus diam saja? Tentu saja tidak boleh. Kalau kampus diam, lalu tanggung jawab generasi di masa datang di tangan siapa?

Kampus memang bukan satu-satunya yang beranggung jawab, tetapi salah satu faktor penentu perkembangan masyarakat di masa datang. Maka, sistem pembelajaran di kampus harus disusun sedemikian rupa agar “memformat” pemikiran dan aktivitas sehari-hari, kaitannya dengan proses belajar mengajar. Mengapa sistem penting?

Saya punya analogi sederhana begini. Apa hebatnya Valentino Rossi saat balapan jika harus memakai sepeda motor honda 75? Bisa jadi dia akan kalah dengan saya saat balapan motor karena saya memakai honda Supra X.  Ini analogi sedehana yang sangat mengena, misalnya.

Maksudnya begini. Jadi, sehebat apapun mahasiswa, sekuat apapun kapasitas mahasiswa faktor sistem ikut menentukan. Ibaratkan saja bahwa pedoman, standar, SOP pendidikan itu sepeda motor. Jika mahasiswa termasuk individu yang tidak begitu pintar tetapi “diolah” dengan standar, pedoman dan SOP yang baik ia akan bisa kompetitif di masa datang.

Bagaimana standar, pedoman dan SOP disusun? Tentu ini terkait dengan kebijakan kampus yang diturunkan dari aturan dan hal-hal terkait berkaitan dengan sistem pendidikan tinggi. Pada  level pendidikan dasar dan menengah juga tak jauh berbeda. Sistem ini penting agar generasi masa datang bisa lebih terarah sesuai dengan kebutuhan ideal masa datang. Tentu saja ini sangat subjektif pada masing-masing pihak.

Ilustrasi : world. edu

Jika sistem sudah baik dan dilaksanakan, diharapkan bisa mengarahkan anak didik ke arah yang lebih baik pula. Agaknya keinginan memberikan anak didik pada titik tekan pendidikan karakter yang pernah “didemamkan”  Menteri Pendidikan dan Kebudayaan (Mendikbud) Muhadjir Effendy  menjadi relevan. Juga, ide mas menteri Nadiem Makarim tentang “kampus merdeka” layak untuk dicermati. Idenya bagus, tinggal implementasinya yang tentu tak mudah. Karena mengubah sistem pendidikan yang sudah mengakar kuat selama ini tak sebagaimana membalikkan telapak tangan. Ada tali temali yang kuat dan megajar. Bahkan ibarat mengurai benang ruwet.

Di tengah perkembangan teknologi yang berdampak tidak manusiawi, kita tentu berharap akan pelaksanaan pendidikan yang berdasar pada pendidikan karakter, mandiri, dan berdaya saing menjadi pilihan utama lembaga pendidikan. Jadi kampus merdeka itu penting, tetapi harus menghasilkan mahasiswa yang berkarakter.

 

Tinggalkan Komentar

Silakan tulis komentar anda
Silakan tulis nama anda di sini