Menuai Mimpi di Gunung Bromo   Oleh: Hafiz Aqmal Djibran*

Eksotika matahari terbit dan lanskap pegunung Bromo Tengger Semeru memikat hati siapapun yang melancong. (Foto: Hafiz Aqmal Djibran).
Iklan terakota

Terakota.id–Tengah malam, udara dingin Kota Malang menusuk tulang. Namun tak menyurutkan niat kami untuk bertandang ke Gunung Bromo. Tepat pukul 24.00 WIB, menyiapkan segala perbekalan. Untuk perjalanan selama dua jam lebih dari Kota Malang, melintasi kawasan perkebunan apel dan sayuran di Nongkojajar, Tutur, Kabupaten Pasuruan.

Gunung Bromo, merupakan Gunung Api aktif yang berada di kawasan Taman Nasional Bromo Tengger Semeru. Gunung dengan ketinggian 2.329 meter di atas permukaan laut (m.dpl) ini secara adminstratif berada di Kabupaten Probolinggo, Pasuruan, Lumajang dan Malang, Jawa Timur.

Sepanjang perjalanan kami disuguhi lembah pegunungan di pedesaan yang asri, dikelilingi rimbun aneka pepohonan. Melintasi pintu masuk kawasan TNBTS, kita harus menempuh selama 60 menit menuju objek wisata Gunung Api Gunung Bromo.

Kabut pegunungan terlihat, udara mulai terasa dingin menusuk tulang. Suhu udara mencapai 6 derajat celcius. Dibutuhkan berlapis jaket tebal untuk mengusir udara dingin Gunung Bromo.  Suhu yang dingin membuat kami menggunakan sarung tangan dan penutup kepala untuk menghangatkan tubuh.

Suhu udara bukan hambatan berarti, namun jalan curam dan berkelok menguji nyali. Membuat jantung berdegup kencang, tidak seperti biasanya. Kami sempat beristirahat di pintu masuk, sembari mendinginkan mesin motor yang sudah cukup panas.

Sementara, masyarakat adat Tengger tetap semangat dalam bekerja. Mulai mengatur lalu lintas wisatawan maupun berjualan perlengkapan gunung. Jarum jam menunjukkan pukul 03.00 WIB, namun tak menyurutkan masyarakat setempat menjalankan aktifitas ekonomi di objek wisata unggulan Jawa Timur.

Mengabadikan Matahari Terbit di Penanjakan

Setelah cukup beristirahat, kami pun melanjutkan perjalanan. Makin tebal kabut di perjalanan menandakan puncak penanjakan Bromo makin dekat. Hingga memantik kami semakin bersemangat untuk bisa melihat sunrise atau matahari terbit di Gunung Bromo.

Setelah melewati perjalanan hampir dua jam lebih, akhirnya kami tiba di Penanjakan. Salah satu spot atau titik paling favorit di kawasan Gunung Bromo untuk menikmati momen sunrise dengan latar Gunung Bromo dan Gunung Semeru.

Pengunjung antusias melihat matahari terbit, yang diabadikan melalui foto bersama. Berswaforo bersama teman, pasangan, sanak saudara mengabadikan momen langka ini.

Menikmati matahari terbit di Penanjakan, Bromo menjadi spot terfavorit wisatawan. (Foto: Hafiz Aqmal Djibran).

Ada geliat ekonomi di lokasi dengan ketinggian 2.329 m.dpl ini. Warga setempat menawarkan aneka makanan, kopi, teh. Kopi susu jahe menjadi minuman favorit wisatawan untuk menghangatkan tubuh saat udara dingin. Kami pun duduk bersila sembari ditemani segelas kopi susu jahe.

Bagi Anda yang ingin membeli oleh-oleh ada bunga edelweis (Anaphalis javanica) atau bunga keabadian dengan harga yang relatif terjangkau. Masyarakat adat Tengger menawarkannya kepada para wisatawan yang berkunjung. Bunga edelweis berstatus langka dan dilindungi berdasarkan Peraturan Menteri Lingkungan Hidup dan Kehutanan Nomor P.20/MENLHK/SETJEN/KUM.1/6/2018.

Eksotisme Bromo tidak pernah ada habisnya. Apalagi saat matahari terbit. Mata tak pernah berhenti menatap, mulut seketika berhenti berkata-kata, dan embun nafas seperti berada di musim salju. Momentum inilah yang menjadi favorit wisatawan.

“Pemandangan Gunung Bromo tidak ada duanya. Baru kali ini saya melihat pemandangan alam seindah ini,” ujar wisatawan asal Bandung, Mohammad Ryan Husain.

Penanjakan Gunung Bromo menjadi tempat tervaforit untuk menikmati matahari terbit dengan latar belakang kawah Bromo dan Gunung Semeru. Jika beruntung, kita bisa menikmati lautan awan yang seolah menyelimuti pegunungan Bromo.

Kaldera Tengger dengan Lautan Pasir

Setelah beristirahat sebentar kami melanjutkan perjalanan ke lautan pasir bromo atau segara wedi ada pula yang menyebut pasir berbisik. Sejak 2002, laut pasir Bromo populer dengan sebutan pasir berbisik, setelah menjadi lokasi syuting film berjudul Pasir Berbisik. Ditempuh bersepeda motor sekitar 10 menit dari Penanjakan Bromo. Sebuah dataran yang dipenuhi pasir yang maha luas.

Lautan pasir terbentang mengelilingi Gunung Bromo terbentuk dari abu bekas letusan. Bak kisah-kisah cerita di padang pasir jazirah Arab tentang iring-iringan kafilah yang berjalan di lautan pasir. Lautan pasir juga menjadi salah satu spot favorit para wisatawan yang ingin melihat lebih dekat kawah Gunung Bromo.

Kaldera Tengger dengan Lautan Pasir memikat siapapun yang berkunjung. Siapa sangka lautan pasir ini bukan di Jazirah Arab. (Foto: Hafiz Aqmal Djibran).

Terdapat beberapa transportasi untuk bisa melintasi lautan pasir. Ada jeep, motor, dan kuda yang disewakan untuk wisata bisa menikmati lokasi lautan pasir seluas 10 kilometer persegi. Pasir yang sangat halus membuat kami harus berhati-hati saat mengendarai sepeda motor. Terkadang ban motor yang kami kendarai sering terpeleset akibat gesekan dengan permukaan pasir.

Keindahan Bromo memang tak ada duanya. Romantisme alam yang disajikan membuat siapa saja yang datang akan terdesak kagum akan potensi alam yang tersaji. Kawah Gunung Bromo yang mengeluarkan asap putih menambah ke eksotika di kawasan kaldera TenggerMasker dan kacamata menjadi barang yang wajib digunakan di lokasi ini. Tujuannya untuk menghindari terpaan pasir yang tertiup angin kencang.

Sebagai anak Gorontalo yang merantau di tanah Jawa, pergi ke Bromo merupakan sebuah mimpi. Mimpi yang sudah lama dirangkai jauh-jauh hari. Entah pergi bersama keluarga, sanak saudara, pasangan, teman dan sahabat. Maklum, di Gorontalo tak memiliki gunung indah seperti yang terdapat di beberapa wilayah Jawa.

Rasanya terlalu naif jika saat berada di Jawa tapi tak melihat langsung keindahan alam yang sering dilihat di televisi, dan media sosial. Dingin cuaca, sejuknya udara, romantisme tempatnya kami rangkul dalam jiwa.

bulan-bebas-kendaraan-bermotor-di-kaldera-tengger-demi-pulihkan-alam-dan-kearifan-lokal
Wisatawan berkuda di kawasan lautan pasir Gunung Bromo, Probolinggo, Jawa Timur 21 Juli 2018. Mereka menyewakan jasa menunggang kuda kepada wisatawan yang ingin menuju puncak gunung Bromo dengan tarif berkisar antara 100-150 ribu. Terakota.id/Aris Hidayat

Kami berharap keindahan Gunung Bromo selalu terjaga sampai kapanpun. Semoga suatu saat orang yang bermimpi kesini bisa terwujudkan. Orang bilang pergi ke suatu tempat itu cukup sekali saja agar kesannya tak hilang. Tapi rasanya saya ingin Kembali lagi dan lagi mengunjungi Bromo. Semoga suatu hari nanti bersama orang tersayang. Jika Tuhan menghendaki.

*Mahasiswa Ilmu Komunikasi Universitas Muhammadiyah Malang

Pembaca Terakota.id bisa mengirim tulisan reportase, artikel, foto atau video tentang seni, budaya, sejarah dan perjalanan ke email : redaksi@terakota.id. Tulisan yang menarik akan diterbitkan di kanal terasiana.

Tinggalkan Komentar

Silakan tulis komentar anda
Silakan tulis nama anda di sini