Menolak Lupa dengan Tutur Munir

menolak-lupa-dengan-tutur-munir
Anak muda di Tulungagung menghelat Tutur Munir memeringati 16 tahun pejuang HAM Munir Said Thalib dibunuh. (Terakota/Aris Syaiful Anwar).

Terakota.idPuluhan anak muda menonton film dokumenter Kiri Hijau Kanan Merah. Film dokumenter produksi watchdoc docummentery diputar di basecamp Tualang Buku, Tunggulsari, Tulungagung, Sabtu malam 19 September 2020. Film berkisah mendiang Munir Said Thalib. Anak-anak muda itu berusaha menolak lupa kasus pembunuhan pejuang HAM asal Kota Batu.

Pemutaran film bertajuk Tutur Munir dihelat berbagai organisasi pemuda di Tulungagung. Iwan Kurniawan dari Tualang Buku terusik dengan kasus Munir. Ia khawatir karena  dua tahun lagi memasuki masa kadaluwarsa. Sehingga kasus pembunuhan ini bisa hilang dan menguap begitu saja.

“Kami tidak ingin nyawa Munir diambil gratisan. Negara harus bertanggung jawab dengan menangkap pelaku utamanya,” tutur Iwan dengan tegas.

Munir dibunuh dengan racun arsenik saat penerbangan menuju Amsterdam, Belanda 7 September 2004. Pollycarpus Budihari Priyanto, bekas terpidana kasus pembunuhan Munir sudah bebas sejak akhir Agustus 2018 lalu. Pollycarpus telah menjalani masa hukuman 8 tahun dari 14 tahun masa hukumannya.

Para aktivis HAM terus menyuarakan dan menuntut keadilan. Meminta pemerintah dan aparat penegak hukum mengusut tuntas hingga mengungkap siapa dalang utama pembunuhan Munir.

menolak-lupa-dengan-tutur-munir
Tutur Munir dihelat para pemuda dengan memutar film, membaca puisi dan menyanyikan lagu. (Terakota/Aris Syaiful Anwar).

Iwan menambahkan sosok Munir identik dengan aktivis yang berani dan getol menyuarakan keadilan, HAM dan melindungi kaum marjinal. Meski hidupnya singkat, Munir melakukan banyak hal. Saat orde baru berkuasa, aparat mengawasi secara ketat kebebasan berpendapat. Namun Munir tak kendur melindungi nasib buruh, petani dan kelompok masyarakat kecil yang tertindas.

Terlebih, saat itu Munir mengawali advokasi di Lembaga Bantuan Hukum (LBH). Munir senantiasa berhadapan langsung dengan beragam masalah, ketimpangan, ketidakadilan dan penindasan. “Munir sebagai teladan bagi kami untuk berani menyuarakan ketidakadilan” kata Iwan.

Sementara itu, salah satu panitia Tutur Munir Kowim Sabilillah mengatakan ketika pemerintah sudah tak bisa lagi diharapkan untuk menuntaskan kasus pembunuhan Munir, maka kritik, protes, tuntutan harus disuarakan. “Agar kasus ini tak hilang seperti nyawa Munir dan aktivis kemanusiaan lainnya,” kata Kowim yang juga sebagai Pemimpin Umum Lembaga Pers Mahasiswa (LPM) Aksara, Institut Agama Islam Negeri (IAIN) Tulungagung.

Selain nonton bareng film dokumenter Kiri Hijau Kanan Merah, acara Tutur Munir juga dilanjutkan dengan diskusi, dan pembacaan puisi dari berbagai peserta yang hadir. Acara ditutup dengan menyanyikan lagu Kebenaran Akan Terus Hidup karya Fajar Merah.

 

Tinggalkan Komentar

Silakan tulis komentar anda
Silakan tulis nama anda di sini