Menjalani Masa Ngumpet!

Terakota.id–Pada 1994, saya dan dua mahasiswa lain dari Universitas Muhammadiyah Malang, Ilham dan Wuwuk, bergerak ke Solo. Modalnya cuma nekat. Hanya untuk bisa nonton drama Pak Kanjeng dan bagaimana Emha Ainun Nadjib alias Cak Nun membacakan puisi-puisinya. Sekarang, ketika orang Indonesia, di mana-mana dianjurkan untuk berdiam di rumah, saya ingat puisi legendaris Emha yang dibacakan ketika itu: “Abacadabra, Kita Ngumpet!”

Pada 1994, kejengahan terjadi di mana-mana. Orde Baru tengah “hamil tua” sepertinya, tapi banyak yang tak menyadari. Emha hanya memotret keadaan. Puisi-puisi yang lebih “to the point” menyodok keadaan, bisa Anda simak kembali dalam buku kumpulan puisinya, Sesobek Buku Harian Indonesia. Bahkan Emha menulis puisinya begini, “Kalau negara mau kuat, maka rakyat harus dilemahkan”.

Sepintas lalu, judul pusi Emha itu mengekspresikan “kejengahan” bagaimana negara selalu mengawasi rakyatnya. Model pengawasannya konvensional, dengan memasang mata-mata di mana-mana. Semua yang berbau kritis dalam masyarakat diendus. Intel, intel, intel di mana-mana. Di kalangan mahasiswa juga lazim peringatan awas ada “Indomie telor” alias intel.

Maka, ketika Emha bertriak lantang diiringi musik gamelan Kiai Kanjeng, “Abacadara, kita ngumpet!” Itu ialah peluru tajam seorang penyair dalam menjalankan fungsinya, sebagai kritikus sosial. Dalam hal ini, tentu kita juga ingat W.S. Rendra. Ketika Rendra dan Emha manggung berdua di Stadion Kridosono pertengahan 1990-an, saya juga bersama teman mahasiswa lain, nekat naik bis ke Yogya. Ikut nonton, dan tentu dengan teknik strategis tertentu supaya kami, tidak membayar. Tidur di emperan Malioboro, dan kantor Majalah Balairung, UGM.

Tapi, untuk ukuran waktu itu, apa yang diteriakkan Emha ialah paradoks. Mau sembunyi, mau “ngumpet” ke mana lagi kita? Intel a la Jerman Timur pada era Perang Dingin ada di mana-mana. “Big Brothers” alias pengintai ajaib dalam novel Goerge Orwell, 1984, masih konvensional. Kini, pengawasan ke masyarakat atau rakyat, barangkali sudah jauh lebih efektif karena memanfaatkan peranti digital.

Di era pengawasan digital, negara sebagai entitasnya (digital surveillance), bisa merampingkan aparatus intelijennya. Namun, kini negara bukan satu-satunya lembaga yang bisa mengawasi rakyatnya, sebab ada entitas lain yang disebut “Big Others”, raksasa-raksasa perusahaan digital itu. Dan, sekarang, mau “ngumpet” di mana kita, manakala otoritarisnisme, tepatnya totalitarianisme digital mengemuka?

Tapi, saudaraku sekalian, sekarang kita harus “ngumpet”. Harus! Ini terkait dengan strategi kolektif yang harus kita dukung bersama, karantina wilayah (lockedown) dan pembatasan sosial (social distancing atau physical distancing). Kita harus “ngumpet” di rumah masing-masing, “tak boleh ke mana-mana”. Justru itulah tindakan kita yang paling tepat, untuk ambil bagian dari perang melawan Covid-19 yang sudah menjadi pandemi yang menghebohkan.

Kita “ngumpet” bukan dalam konteks “petak umpet” dengan yang lain, karena kita bisa berkomunikasi secara digital. Kita masih bisa rapat jarak jauh. Kita masih bisa belajar secara daring. Bayangkan, manakala kita menjalani ini semua ketika televisi nasional masih cuma TVRI. Kita masih ingat bagaimana orang se-Indonesia menyaksikan siara langsung gerhana matahari total (GMT) pada 1983. Segala mitos mengendap di masyarakat, kendati pemerintah telah menjelaskan bahwa itu gejala alam biasa.

Kini, yang kita hadapi bukan mitos-mitos lagi. Setidaknya, karena pemberitaan dan informasi yang gencar dan realtime, hal-hal yang berbau mitologis, tersapu. Yang dilihat publik sekarang ialah realitas empiris. Sains menjadi panduan penyusunan kebijakan strategis yang harus ditaati bersama, manakala suatu negara atau wilayah tidak mau terjerat pandemi secara parah. Otoritas keagamaan juga, tidak memaksakan diri untuk menentang sains. Tak di Makkah, tak di Vatikan, semua lockedown.

“Ngumpet!” Tak main-main kita sekarang dengan kata ini. Bukan karena kita tengah bermain “petak umpet” dengan aparat a la Orde Baru, tetapi ini benar-benar, hal yang tak terelakkan. “Ngumpet” ialah berdiam diri di rumah. Sedangkan rumah, kata Kang Mohamad Sobary, ialah tempat kita menyembunyikan diri, “ndhelik”. Dalam pengertian ini, rumah kita, tak perlu kita pamer-pamerkan. Bagaimana mungkin, tempat persembunyian, kok dipamerkan?

Tapi kini, desa kita, “rumah kita”, tengah diserbu para pemudik dari beragam kota. Ini bahaya! Kalau tak terantisipasi, ia bisa menjadi fenomena perluasan potensi penyebaran Covid-19. Disuruh “ngumpet”, kok malah “mbrojol”, ramai-ramai meninggalkan tempat, mudik dengan penuh risiko. Masalahnya prang yang kita hadapi ialah melawan “makhluk halus”, Covid-19. Fenomena mudik harus diantisipasi, oleh pemda, aparat desa, para tokoh berpengaruh di desa, dan seluruh pihak terkait, agar tidak menjadi “blunder”.

“Lockedown” lokal tampaknya semakin tak terelakkan kini. “Ngumpet” harus ditegakkan! Segala jurus disiapkan, di bawah komando otoritas yang berhak mengatakan, “Abacadadra, kita ngumpet!” **

 

 

Tinggalkan Komentar

Silakan tulis komentar anda
Silakan tulis nama anda di sini