Menjajal Menjadi Gundala

menjajal-menjadi-gundala

Terakota.id-Aku membayangkan diriku Gundala, Putra Petir, jagoan yang diciptakan komikus Hasmi. Berkostum aneh, tapi lazim dalam jagoan-jagoan komik Marvel, aku duduk termenung di bawah patung Sudirman pagi itu.

Tentu, aku membayangkan diriku tak sekadar manusia berkostum Gundala. Tapi, aku ialah Gundala yang asli.

Aku baru saja bergerak, dari stasiun Gambir, tugu Monas, jalan Thamrin, Bundaran HI, dan kini nongkrong di dekat patung Sudirman, jalan Sudirman. Kau tahu, itu hari minggu. Jakarta sedang “car free day”. Rakyat tumpah di sana. Berolahraga tujuan utamanya.

Tapi, kau juga tahu, yang punya tujuan sampingan tak kalah banyak. Itulah gambaran rakyat kita. Begitu ada keramaian, banyak yang nimbrung berdagang mendadak. Yang dijual aneka. Dari BH hingga kerudung dan peniti.

Yang jadi seniman juga banyak. Dari karaoke berjalan, hingga pemain biola yang tak mau kalah penampilan dengan maestro Idris Sardi.

Yang minta sumbangan juga aneka. Dari mulai yang berkopiah berdiri di tengah jalan sambil menunjukkan tulisan, hingga peminta-minta dalam arti sebenarnya.

Yang mendadak tabib juga beberapa. Dan itulah potret kita, rakyat kita. Potret yang pernah direkam apik oleh sastrawan Hartojo Andangdjaja melalui puisinya “Rakjat ialah Kita” (1962). Sebagai superhero, aku sadar itu.

Kau tahu, sebagai jagoan sakti, aku memang diilhami antara lain oleh legenda Ki Ageng Selo, lelaki penangkap petir. Petir itu benda yang tak main-main. Kalau kesambar tubuhmu langsung gosong. Melepuh. Saking bahayanya, Benjamin Franklin perlu menciptakan penangkal petir.

Aku sendiri sebagai Gundala sering membayangkan, bahkan diskusi dengan dua sosok itu: Ki Ageng Selo dan Benjamin Franklin. Kau tahu sendiri bukan, kami sama-sama berurusan dengan petir.

Nama asliku, oleh Hasmi ialah Sancaka. Cukup keren. Dan, aku manusia ilmiah. Aku sibuk di laboratoriumku, mencoba membikin serum antipetir. Dan, ketika kucoba serum itu di tengah petir menggelegar, singkat cerita jadilah aku Gundala.

@jokoanwarpage

Di tengah pagi agak gerimis ini, aku kesepian. Duduk sendirian di dekat patung Sudirman. Memang, masih banyak orang berlalu lalang. Sesekali anak-anak kecil minta berswafoto. Juga bapak-bapak. Ibu-ibunya juga. Aku berusaha gembira hari itu, kendati sedih juga karena sepagi itu belum ada orang yang kutolong, membebaskannya dari panjahat!

Dalam kondisiku sebagai Gundala, mereka mengiraku sekedar badut. Padahal, aku membayangkan Gundala yang asli. Aku menunggu musuh-musuhku yang ampuh, tak kunjung datang. Maka itu, aku kesepian.

Aku kira, Pak Dirman di belakangku juga kesepian. Aku kira, Pak Dirman ingin menyapaku, tapi apa daya dia hanya sebuah patung. Kalau kau beri aku kebebasan berkhayal, aku bayangkan Pak Dirman menyapaku begini.

“Mas Gundala ya? Kenalkan aku Sudirman! Rasa-rasanya kita sama-sama pahlawan, hero. Aku tahu mas Gundala ini sekadar hero khayalan. Dan, aku yang telah diakui sebagai pahlawan oleh negara, bukan tokoh fiktif. Tapi tak mengapa, kita sama-sama hero. Punya keprihatinan dan tanggungjawab yang sama! Atas nasib bangsa ini!”

Aku melompat, kukira terlampau berlebihan, apabila aku dikaitkan dengan tanggungjawab bangsa ini. Aku hanya manusia khayalan, jagoan fiktif. Aku hadir dari keunikan manusia, yakni kemampuan berimajinasi.

Patung Jenderal Sudirman di Jalan Sudirman Jakarta. Foto diambil pada 2013. (Foto : Tempo.co)

Aku tahu, banyak yang berharap bangsa ini punya banyak jagoan fiktif. Amerika saja punya banyak. Dan, barangkali sudah nasibku dihadirkan sebagai jagoan fiktif. Hero fiktif di antara hero-hero aktual, pun hero-hero nyata seperti Pak Dirman.

Tapi, hero adalah hero. Hero ialah nilai. Bukan sosok. Nilainya melampaui sosoknya. Apakah kau tak mengira bahwa hero fiktif pun tetap punya manfaat?

Sejarawan Thomas Carlyle menulis dalam bukunya yang telah menjadi klasik “On Heroes, Hero Worship and The Heroic in History”, yakni “There needs not a great soul to make a hero; there needs a god-created soul which will be true to its origin; that will be a great soul!”

Aku memang diimajinasikan sosok hebat. Tapi, kalian semua bisa lebih hebat daripadaku! Hebat itu sederhana saja, yakni melakukan hal-hal kecil yang bermanfaat bagi yang lain. Menyingkirkan duri dari tengah jalan, juga tindakan hebat. Tak usah harus menjadi Gundala, agar dibilang hebat.

Anggaplah kebangsaan, nasionalisme, terkait dengan imajinasi, sebagaimana ditawarkan Benedict Anderson. Maka, sosok fiksi sepertiku, seperti rekan-rekanku yang lain, apakah Sri Asih, Godam, atau yang pernah terselip di majalah anak-anak Ananda, Mario Halley, diperlukan untuk memupuk imajinasi bahwa kita bangsa yang ampuh.

Ini urusan bener-benar serius. Suatu bangsa, bagi Ben Anderson, akan kuat manakala rakyatnya yang punya macam-macam latar belakang memiliki kemampuan imajiner yang tinggi. Bahwa satu sama lain punya nasib dan tanggung jawab yang sama sebagai warga bangsa. Dari situ, satu sama lain saling bisa merasa. Kalau yang satu tertimpa musibah, yang lain turut merasakan, dan saling membantu. Berempati. Bersolidaritas.

Dan aku, Gundala, memang kesepian, tapi aku tetap merasa punya manfaat. Dikatakan kesepian, karena banyak temanku yang hilang tak tentu rimbanya. Kalah populer dengan jagoan asing!

Baca saja kajian Paul Heru Wibowo, “Masa Depan Kemanusiaan Superhero dalam Pop Culture” (Jakarta: LP3ES, 2012). Ketika superhero Amerika terus menanjak di dunia, superhero Indonesia banyak ditanyakan apa kabarnya. Kabarnya, banyak tenggelam dalam kenang-kenangan lama, sebagaimana direkam Marcel Boneff.

Dalam bukunya, “Komik Indonesia” (Jakarta: KPG, 2008) Marcel Boneff, peneliti komik Indonesia itu menggambarkan masa keemasan komik kita. Tahun 1950-an, 1960-an, 1970-an kukenang sebagai masa jaya komik-komik kita. Dan, aku sendiri sebagai Gundala menyembul sebagai jagoan, menjelang 1970.

Rintik hujan semakin kerap menjelang siang. Orang-orang makin sedikit. Dan, aku pun terpaksa juga harus jalan dari situ, dari dekat patung Sudirman. Tanpa gegap gempita dan tanpa lari secepat kilat, aku berjalan gontai. Sesekali lari-lari kecil, ke arah jembatan Semanggi.

Aku ingin melompat-lompat di sana. Melompat seperti Muhammad Ali. Aku memang manusia imajiner. Seperti Ali, aku setuju pendapatnya. “The man who has no imagination has no wings”, kata Ali.

Tapi manusia nyata, bukan imajiner sepertiku sayangnya banyak yang tak menyadari itu. Dan, sekarang, aku akan tambahkan logika kelanjutannya. Bangsa yang terbatas imajinasinya, tidak akan berkembang!

Dan kini, tanpa satu pun orang yang tahu, melesatlah kini aku, ke angkasa. Supaya hujan rintik-rintik saja! Sebab hendak aku pandangi Indonesia dari angkasa.

 

 

 

 

 

Tinggalkan Komentar

Silakan tulis komentar anda
Silakan tulis nama anda di sini