Menjaga Umbulan Tetap Mengalir

Konstruksi sistem pengelolaan air minum (SPAM) di Umbulan diresmikan Wakil Presiden Jusuf Kalla, 20 Juli 2017. Proyek sumber air Umbulan direncanakan sejak 1972. Proyek kembali dirancang mulai 2010 dan terealisasi pembangunan jaringan sejak setahun lalu.

Anak-anak bermain dan berenang di kolam sumber air Umbulan, Winongan, Kabupaten Pasuruan. (Terakota/Eko Widianto).

Terakota.id–Sejumlah anak dan remaja berenang, dan berendam di sebuah kolam air seluas lapangan sepak bola. Panas terik sinar matahari tak terasa, terobati dinginnya air dari limpasan sumber Umbulan, Winongan, Kabupaten Pasuruan. Saban hari, kolam dipenuhi anak-anak yang bermain air dan berenang.

Namun, keceriaan anak-anak bakal sirna lantaran kolam bakal ditutup. Seluruh air yang keluar dari sumber Umbulan bakal dimanfaatkan untuk memasok kebutuhan air minum 1,3 juta jiwa penduduk yang tinggal di lima Kabupaten/Kota di Jawa Timur. Telah dibangun kolam penampungan air untuk warga Kabupaten Pasuruan, Kota Pasuruan, Kabupaten Sidoarjo, Kota Surabaya dan Kabupaten Gresik.

“Kabarnya kolam ini akan ditutup. Padahal warga sini saat kemarau mengambil air di sini,” kata Zainuri warga setempat.

Sebanyak 32 desa di Kabupaten Pasuruan mengalami krisis air. Badan Perencanaan dan Pembangunan Kabupaten Pasuruan mendata kekeringan tersebar di 10 kecamatan. Kekeringan terparah di Desa Kedungrejo dan Jeladri, Kecamatan Winongan dan Desa Karanglo, Kecamatan Grati.

Nurhayati tinggal di Desa Umbulan, Kecamatan Winongan, Kabupaten Pasuruan, Provinsi Jawa Timur jarak rumah sekitar 500 meter dari sumber air Umbulan. Namun jaringan air minum ke perkampungan tak mencukupi untuk dibagi ke semua warga.

Perempuan 50 tahun yang berdagang di sumber Umbulan ini mengaku sering tak kebagian air minum. Kesulitan air ini dialami sejak ia kecil, karena sumur dalam harus menggunakan sumur bor. Sedangkan tak banyak rumah yang memiliki sumur bor.

“Sering bertengkar dengan tetangga gara-gara air. Bulan puasa lalu juga ada yang bertengkar,” ujarnya. Konflik berlangsung sejak 10 tahun terakhir. Masyarakat sering bertengkar karena berebut pasokan air minum. Ia memilih mengalah dan  mengambil dari rumah tetangganya yang memiliki sumur bor. Saban hari membawa ember mengambil air di sumur tetangga.

Baca juga :  Ajar Pusaka Budaya : Dari Alun-Alun Kotak Menuju Alun-Alun Bunder

Sementara warga Desa Umbulan di kampung sebelah telah terpasang jaringan pipa air minum. Khusnul Khotimah, mengaku bersyukur sejak dua tahun lalu Pemerintah Kabupaten Pasuruan membangun sebuah tendon air raksasa di belakang rumah Khusnul. Jaringan pipa air minum dipasang sebagai bentuk kompensasi pembangunan sistem pengelolaan air minum (SPAM).

Jaringan pipa air minum membentang di kolam air sumber Umbulan, Winongan, Kabupaten Pasuruan. (Terakota/Eko Widianto).

Bersyukur kini terpasang jaringan pipa air minum dari sumber Umbulan ke seluruh rumah warga. Layanan air minum diberikan secara gratis. Dulu, saban siang ia harus menimba dan menggotong ember sejauh 200 meter. Air dimanfaatkan untuk kebutuhan memasak, mandi, mencuci dan minum sapi peliharaannya. Sumur sedalam 30 meter dimanfaatkan sebanyak 20 keluarga, secara bergantian.

“Biaya membuat sumur mahal, sementara pendapatan sebagai petani dan buruh tani tak menentu.” Lahan di sekitar sumber Umbulan tandus, sulit air, tak ada saluran irigasi. Lahan ditanami singkong, jagung atau tebu. Kemiskinan mendera warga Umbulan. Lokasinya berada di atas sumber Umbulan. Sementara di bawah air melimpah keluar dari sumber Umbulan.

Konstruksi sistem pengelolaan air minum (SPAM) di Umbulan diresmikan Wakil Presiden Jusuf Kalla, 20 Juli 2017. Proyek sumber air Umbulan direncanakan sejak 1972. Proyek kembali dirancang mulai 2010 dan terealisasi pembangunan jaringan sejak setahun lalu. Data Kementerian Perekonomian menyebutkan proyek dikerjakan bersama antara pemerintah, Badan Usaha Milik Negara (BUMN) dan swasta. Nilai investasi SPAM Umbulan sebesar Rp 4,51 triliun.

Wakil Presiden Jusuf Kalla meresmikan pemasangan tiang pancang proyek sistem pengelolaan air minum (SPAM) di Umbulan 20 Juli 2017. (Terakota/Eko Widianto).

Sumber dana sebagian besar dari swasta, APBN, APBD dan BUMN. Skema kerjasama pemerintah dengan lembaga usaha, pemerintah menyediakan dukungan dan sebagian konstruksi. Antara lain membangun sebagian jaringan pipa dan transmisi ke reservoar. Total dukungan kelayakan senilai Rp 818 miliar.

Secara statistik Kementerian Koordinator Perekonomian mencatat baru sekitar 71 persen penduduk Jawa Timur yang bisa mengakses air bersih. Sedangkan 29 persen belum memiliki akses. Sehingga proyek SPAM Umbulan dibutuhkan untuk mempermudah akses air bersih masyarakat Jawa Timur. Dibangun jaringan pipa sepanjang 93 kilometer.  Memasok 1,3 juta jiwa di Kabupaten Pasuruan, Kota Pasuruan, Kabupaten Sidoarjo, Kota Surabaya dan Kabupaten Gresik.

Baca juga :  Mbah Kardjo Seniman Yang Tak Pernah Kehabisan Ide

Debit Umbulan Terus Merosot

Sumber air Umbulan terus menyusut selama 10 tahun terakhir. Pada 2008 debit air mencapai 6 ribu liter per detik (l/dt). Lima tahun kemudian turun menjadi 5.650 l/dt, dan kini hanya sekitar 3.200 sampai 3.500 l/dt. Data debit air turun berdasarkan kajian lapangan yang dilakukan peneliti Universitas Merdeka Malang, Gunawan Wibisono.

“Debit air terus menurun karena masalah lingkungan,” kata Gunawan. Menurut Gunawan penurunan debit sumber jika dipaksakan seluruhnya digunakan SPAM bakal menimbulkan konflik. Konflik antara petani karena limpasan air selama ini digunakan untuk irigasi persawahan. Lantaran air irigasi tak mencukupi mengairi sawah.

Gunawan mengusulkan air yang didistribusikan cukup 2 ribu l/dt. Selanjutnya, dilakukan konservasi untuk pemulihan kawasan tangkapan air. Menanam kembali tanaman yang rusak di sekitar kawasan. Tujuannya untuk mengembalikan debit sumber Umbulan.

Penyebab lainnya, karena penggunaan sumur artesis yang berlebihan dan tak terkontrol. Penelitian Yayasan Social Investment Indonesia (YSII) yang fokus konservasi sumber air di Pasuruan menemukan 630 sumur bor artesis tersebar di Kecamatan Gondangwetan dan Wingongan.  Penelitian dilakukan setahun lalu. “Sumur bor mengalir 24 jam, tak ada katup pengatur air. Debit sekitar 12 liter per detik,” kata peneliti YSII, Eka Irawan.

Sehingga terjadi kelebihan aliran atau over flow yang tak ramah lingkungan. Untuk itu, sumur artesis harus dikendalikan agar tak digunakan berlebih atau terbuang percuma. “Jika ada saluran air irigasi kenapa pakai air baku sumur artesis?,” tanya Eka.

Jaringan pipa air minum dipasang di jalur utama yang menghubungkan Malang-Pasuruan-Probolingg0. (Terakota/Eko Widianto).

Masyarakat menggunakan sumur artesis untuk kebutuhan air minum dan irigasi sawah pertanian.  Sehingga tak terjaga keseimbangan air, antara air yang masuk ke tanah dan air yang dikeluarkan. “Air banyak terbuang percuma,” ujar Eka.

Baca juga :  Aku Indonesia Karya GSP

Air dari lapisan artesis, katanya, akan berdampak buruk bagi aliran sumber Umbulan. Sumur artesis tak hanya warga, sejumlah industri menggunakan bahan baku air tanah. Namun, sejauh ini eksploitasi air tak terukur. Selain itu, tak banyak perusahaan memberikan alokasi dana untuk jasa lingkungan untuk konservasi kawasan.

“Sedang disusun peta meliputi data titik koordinat, peruntukan, dan debit airnya.” Selanjutnya, akan dikendalikan penggunaannya dengan memberi katup pengatur air.

Tinggalkan Komentar

Silakan tulis komentar anda
Silakan tulis nama anda di sini