Menjadi Serigala Ngepet (Mengenang Erich Fromm)

Terakota.id–“Manusia: serigala ataukah domba?” Pertanyaan itu dilontarkan oleh Erich Fromm dalam mengawali lembaran bukunya The Heart of Man (1964). Pertanyaan Fromm menjadi pertanyaan banyak orang. Sekalipun Fromm percaya bahwa manusia adalah domba dan sekaligus juga serigala, namun ia mengatakan bahwa sifat alami manusia dilekati dengan kecenderungan yang menghancurkan, bahwa kebutuhan akan penggunaan kekuatan dan kekerasan mengakar di dalamnya.

Karena pada hakikatnya seluruh manusia itu adalah serigala, maka pertanyaan Fromm selanjutnya adalah: “Kenapa harus melawan serigala jika kita semua adalah serigala – meskipun beberapa orang lebih serigala daripada yang lain?” Jawaban atas pertanyaan Fromm ini tidak hanya didapati dalam buku yang saya sebut di awal, namun juga mewarnai buku-bukunya yang lain, karena sepanjang hidupnya Fromm adalah orang yang mencintai kehidupan.

Manusia yang sepenuhnya memiliki sifat serigala, atau sepenuhnya bersifat domba justru akan kehilangan esensi kemanusiaannya, sebab kedua sifat itu saling melengkapi. Di satu sisi manusia itu harus memiliki daya tahan yang tinggi dan bersedia memertahankan hidup dari segala ancaman di sekitarnya, di sini lain manusia harus mengembangkan sifat welas asih dan menebarkan kasih sayang.

Dalam Revolution of Hope (1968), Fromm menyatakan bahwa manusia semakin kuat ketika ia semakin banyak bersentuhan dengan kenyataan. Semakin ia hanya domba dan kenyataannya secara esensial tidak lain kecuali fungsi yang dibangun oleh masyarakat untuk memanipulasi kenyamanan atas manusia atau benda-benda, maka sebagai manusia, ia lemah.

Dalam kehidupan sehari-hari, sifat serigala dan domba sangat mudah kita amati. Ketika permohonan kasasi yang saya ajukan akhirnya dikabulkan, banyak pihak yang mendorong saya untuk melaporkan balik mereka yang membuat konspirasi untuk mengriminalisasi saya. Setelah diskusi panjang saya berada pada keputusan bahwa memafkan lebih mulia daripada balas dendam.

Menurut Fromm orang-orang yang matang dan produktif, kurang termotivasi oleh hasrat membalas dendam dibandingkan dengan orang gelisah yang punya kesulitan dalam hidup mandiri, dan yang seringnya cenderung mempertaruhkan seluruh keberadaan dirinya demi keinginan untuk membalas dendam. Tulisan-tulisan Fromm-lah yang memotivasi saya untuk selalu berpikir positif, dan mengalihkan kegelisahan menjadi lebih produktif. Mengubah musibah menjadi berkah.

Di samping saya memegang teguh moto “Love for All, Hatred for None,”  saya juga tidak ingin membangkitkan serigala dalam diri saya. Bila balas dendam yang saya lakukan, lalu apa bedanya antara saya dengan orang-orang itu, sekali pun saya memiliki potensi untuk menjadi lebih serigala daripada mereka.

Melakukan tindakan sebagaimana yang mereka lakukan secara otomatis akan menutup kenyataan tentang siapa yang memiliki kecenderungan serigala dan  siapa yang domba, siapa yang masuk dalam golongan raksasa dan siapa yang berasal dari golongan ksatria, atau jika dikotomi itu akan diperpanjang sampai pada siapa yang disebut dengan genderuwo, banaspati, thethe’an, dan siapa manusia sejati. Belajar untuk menjadi manusia sejati, dan mengambil nasihat dari orangtua: sing waras ngalah.

Ilustrasi : Bobo

Saat saya meluapkan kegembiraan atas kemenangan itu di media sosial, beragam tanggapan pun muncul. Nyaris selama tiga tahun waktu menghadapi perkara ini, saya tidak tahu siapa kawan dan siapa lawan. Banyak kawan yang tiba-tiba menjadi domba yang sangat takut terhadap serigala, namun juga tidak sedikit mereka yang mendadak menjadi serigala, setidaknya menjadi serigala ngepet. Setelah perkara selesai saya makin paham dan bisa menyikapi siapa yang lebih serigala dan siapa yang lebih domba.

Erich Fromm menyebutkan ada tiga fenomena yang membentuk dasar bagi orientasi jahat dan ganasnya manusia, yakni cinta pada kematian, narsisme yang ganas, dan fiksasi insestis simbiotis. Jika ketiganya digabungkan akan membentuk sindrom peluruhan. Lawan dari sindrom peluruhan adalah sindrom pertumbuhan, yakni cinta kehidupan, cinta pada manusia, dan independensi. Fenomena cinta kematian erat kaitannya dengan kekerasan.

Kekerasan menurut Fromm dibagi dalam tiga katagori besar, yakni permainan kekerasan, kekerasan reaktif, dan kekerasan pengganti. Dalam kategori terakhir akarnya adalah dari ketunadayaan. Ketidakmampuan seseorang dalam memenuhi harapannya, bisa diekspresikan dalam wujud kekerasan untuk mengimbangi kelemahannya.

Contoh yang baik dari kekerasan pengganti ini bisa kita dapatkan dalam cerpen Budi Darma, Pistol. Cerpen yang terbit kali pertama di Horison, Juni 1971 ini diterbitkan kembali dalam kumpulan cerpen Hotel Tua (Kompas, 2017). Tokoh dalam cerpen ini adalah seorang laki-laki pekerja hotel dan seorang janda. Janda tersebut adalah orang yang mula-mula mengetahui rahasia siapa laki-laki itu sebenarnya. Dari janda itulah akhirnya perempuan-perempuan lain mengetahui bahwa laki-laki pekerja hotel itu ternyata impoten.

Ketika laki-laki pekerja hotel datang ke rumah janda itu, ia membawa sebuah pistol milik seorang jaksa pelupa yang menyewa kamar hotel dalam jangka waktu yang lama. Jaksa itu seringkali lupa membawa tas, berkas dan pistolnya ketika pergi meninggalkan hotel.

Laki-laki pekerja hotel memaksa janda itu untuk menanggalkan semua pakaiannya dan berbaring di tempat tidur. Laki-laki itu mengacungkan pistolnya ke arah janda itu. Janda itu menggoda laki-laki itu dengan kata-kata ejeken: “Pistol kamu tidak main. Cih!” Laki-laki itu menjawab: “Pistol saya sendiri tidak main, sebagaimana kata kamu, tapi pistol ini akan menggantikan pistol saya.” Laki-laki itu menodongkan pistolnya ke vagina janda itu dan berusaha untuk memasukkannya. Karena tangan laki-laki itu gemetar, maka pistolnya terjatuh.

Setelah membaca cerpen Pistol justru makin meneguhkan keputusan saya. Tidak ada gunanya untuk melakukan balas dendam terhadap serigala-serigala yang impoten itu. Toh pada akhirnya yang bisa ia lakukan hanyalah permainan dengan meminjam pistol jaksa pelupa, karena “pistolnya” sendiri tidak berfungsi.

Hari ini adalah peringatan 41 tahun Erich Fromm menghadap dan menyatu kembali dengan Sang Gembala Domba dan Serigala, tepat 5 hari sebelum ulang tahunnya yang ke-80. Psikoanalis Amerika ini lahir dari keluarga Yahudi Ortodoks di Frankfurt am Main, Jerman pada 23 Maret 1900, dan wafat pada 18 Maret 1980 di Swiss.

Esok harinya, dalam berita kematian yang ditulis oleh The Washington Post disebutkan bahwa ketika berusia 26 tahun, meskipun Fromm merupakan keturunan dari garis panjang rabi dan merupakan produk dari pendidikan Yahudi yang taat, namun ia meninggalkan Yudaisme.  Kata Fromm dalam kenangan di koran itu: “Saya melepaskan keyakinan dan praktik agama saya karena saya hanya tidak ingin berpartisipasi dalam divisi mana pun dari umat manusia, baik agama atau politik.”

Erich Fromm menulis sampai menjelang tiba akhir hayatnya. Fromm tercatat sebagai pakar sosial paling produktif, yang menghasilkan pemikiran tentang cinta dan kemanusiaan, hubungan manusia dengan masyarakat modern. Karya-karya Fromm antara lain adalah  Escape from Freedom (1941), Man for Himself (1947), Psychoanalysis and Religion (1950), The Art of Loving (1956), Beyond the Chains of Illusion (1962), The Heart of Man (1964), The Revolution of Hope (1968), dan The Crisis of Psychoanalysis (1970).

Erich Fromm memperoleh gelar Ph.D. dari University of Heidelberg pada tahun 1922, kemudian ia mengikuti pelatian psikoanalisis pada University of Munich dan di Berlin Psychoanalytic Institute. Fromm tidak hanya dikenal sebagai psikolog sosial dan psikoanalisis, namun ia adalah juga seorang sosiolog, filsuf humanistik, dan sosial demokratis.

41 tahun lalu ia pergi, namun suaranya masih terdengar gemanya di mana-mana. Fromm tidak hanya mengingatkan manusia pada zamannya saja, namun pemikirannya justru menemukan relevansinya yang paling tinggi ketika kita memasuki abad ke-21. Pada abad ini tontonan vulgar orang-orang yang berwatak nekrofilis, baik dalam dunia bisnis, politik, sosial, dan budaya menampakkan wajahnya tanpa tedeng aling-aling.

Banyak orang, baik secara sadar atau pun tidak sadar telah memelihara anak serigala dalam rumahnya. Tidak sedikit di antara mereka yang justru terbunuh oleh serigala-serigala yang telah dipeliharanya. Jangan pernah berharap anak serigala menjadi domba, atau anak domba menjadi serigala, kecuali menjadi serigala ngepet.

Daripada membesarkan serigala, saya malah lebih memilih memelihara domba. Usai wabah korona nanti sebaiknya kita bersama-sama menyantap sate domba muda (cempe), dan membakar habis seluruh lemaknya sehingga asap dan aromanya membumbung sampai ke langit, sambil menyaksikan para serigala yang tengah beramai-ramai berebut tulang-belulang dan mendengarkan sayup-sayup lolongannya yang memecahkan malam. Selamat pagi.

 

Tinggalkan Komentar

Silakan tulis komentar anda
Silakan tulis nama anda di sini