Meningkat, Perempuan Terlibat Aksi Terorisme

Bupati Malang M Sanusi menyerahkan sertifikat memasak kepada napi Lapas Perempuan Tini Susanti Kaduku. (Terakota/Eko Widianto).

Terakota.id—Keterlibatan perempuan dalam aksi terorisme di Indonesia meningkat. Sampai 2019 sebanyak 10 orang perempuan sebagai pelaku aksi terorisme. Terbaru, istri pelaku bom Polrestabes Medan terlibat jaringan terorisme dan bakal merencanakan bom bunuh diri di Bali.

Asian Muslim Action Network (AMAN) Indonesia mencatat 2018 tercatat aksi bom bunuh diri di Sidoarjo dan Surabaya melibatkan tiga perempuan dan 11 anak-anak. Pada 2017, sebanyak 1.500 anak-anak menjalani latihan militer di camp pelatihan militer Negara Islam Irak dan Suriah (ISIS).

Sedangkan 2015, sebanyak 3.500 anak-anak muda di negara barat direkrut ISIS melalui Media Sosial. Sebanyak 1/6 diantaranya merupakan perempuan. Direktur AMAN Indonesia Ruby Kholifah, menjelaskan keterlibatan perempuan dalam aksi bom bunuh diri menandakan perubahan tren terorisme.

Semula perempuan tak dilibatkan aksi bunuh diri. Perempuan berjihad untuk menjaga keluarga, dan menjaga komitmen suami jihad. “Dulu, laki-laki jihad di medan perang. Lalu, perempuan mendukung secara ekonomi. Kini berubah,” kata Ruby.

Densus 88 Antiteror menggeledah rumah terduga teroris di Malang, 20 Februari 2016. (Terakota/Eko Widianto).

Banyak faktor yang menyebabkan perempuan terlibat dalam aksi ekstremisme. Mulai faktor kemiskinan, terpapar radikalisme di media sosial, keyakinan akan kebenaran tunggal, perasaan kurang diakui keluarga, kurangnya komunikasi dengan orangtua.

Untuk mengurai masalah ekstrimisme dan menyiapkan gerakan perdamaian, AMAN Indonesia menggelar Indonesia Peacebuilder Forum 2019. Forum bertema “Can Gender Approaches Improve Responses to Violent Extremism?” 26-28 November 2019 dilangsungkan di Universitas Brawiaya 26 – 28 November 2019.  Menghadirkan lebih dari 15 pakar di bidang berdamaian dan ekstremisme se-Asia Pasifik. Antara lain Azyumardi Azra , Amalina Abdul Nasir (Singapore) dan Melisa Johnson (Australia).

Serta akan dihadiri 300 orang peserta dari kawanan Asia Pasifik.  Mengupas dan saling berbagi pengetahuan mengenai pengalaman dan pengetahuan pencegahan dan penanganan kekerasan ekstremisme. Dengan pendekatan gender serta ulasan tentang pendekatan gender.

Dilanjutkan menyusun strategi kebijakan dan intervensi di masa depan pada pencegahan dan penanganan kekerasan ekstremisme.  Indonesia Peacebuilders Forum 2019 merupakan kolaborasi para praktisi, akademisi, pembuat kebijakan, dan sektor swasta untuk mencegah ekstrimisme.

Densus 88 Antiteror menggeledah rumah terduga teroris di Malang, 20 Februari 2016. (Terakota/Eko Widianto).

Dunia Internasional juga menilai Indonesia selama ini berhasil menyelesaikan konflik dengan cara perdamaian. Konflik Ambon menjadi laboratorium penyelesaian konflik ditiru Myanmar. “Myanmar meniru pola penyelesaian konflik di Indonesia,” kata Ruby Kholifah.

Konflik Myanmar diakuinya sulit untuk mengatasinya, Indonesia berusaha masuk turut terlibat menyelesaikan namun gagal. Di tingkat dunia Indonesia membuktikan diri bisa memimpin isu perdamaian. Indonesia sebagai Dewan Keamanan PBB.

Untuk menyusun strategi perdamaian di muka bumi, AMAN Indonesia turut mengajak peserta mengunjungi makam Kiai Haji Abdurrachman Wahid di Pondok Pesantren Tubeireng, Jombang, 28 November 2019. Peserta dan pembicara diajak menyaksikan praktik perdamaian secara langsung di Indonesia.

“Ada contoh pemberdayaan ekonomi di sekitar pesantren. Diskusi, kerja bareng, dalam konteks gender sangat penting,” kata

Juga akan mendengar para penyintas kekerasan Abu Sayyaf, penyintas bom di Indonesia dan Myanmar. Serta mengajak suara anak muda, untuk menangkal paparan radikalisme dan terorisme. Mengungkap fenomena di media sosial dengan praktik hijrah, praktik agama menjadi eksklusif.

Profesor Azyumardi Azra dari AMAN Internasional menjadi keynote speech. Dihadiri 300 peserta perwakilan dari wilayah Asia Pasifik dengan beragam latar belakang mulai dari pembuat kebijakan, organisasi non-pemerintah, Perguruan Tinggi, media, sektor swasta, Badan PBB, lembaga ASEAN hingga pemimpin agama. Indonesia Peacebuilder Forum diselenggarakan untuk memperingati hari perdamaian internasional 2019.

 

 

 

Tinggalkan Komentar

Silakan tulis komentar anda
Silakan tulis nama anda di sini