Menilik Perkembangan Berbahasa Manusia

menilik-perkembangan-berbahasa-manusia

Terakota.idMenilik perkembangan berbahasa manusia, sama dengan menilik alam pikir manusia. Bahasa merupakan representasi dari pikiran. Sastra, cerita, dongeng, dan karya fiksi merupakan wujud perkembangan kemampuan berbahasa manusia. Pembeda manusia dengan spesies lain adalah kemampuanya dalam mengolah kata. Ketika mengamati perkembangan bahasa, alangkah lebih baik apabila kita mundur pada jutaan tahun ke belakang ketika manusia ada pada era pemburu pengumpul atau manusia purba.

Dinamakan pemburu pengumpul karena saat itu kemampuan utama manusia purba untuk bertahan hidup adalah mengumpulkan dan memburu. Manusia purba memulung makanan sisa reptil karena keterbatasannya untuk mengalahkan hewan yang ukurannya lebih besar. Pada era ini, manusia purba menggunakan bahasa verbal untuk menyampaikan pesan.

Seiring berjalanya waktu, manusia purba mulai menemukan api. Api membuat manusia purba memiliki banyak waktu selain makan. Sebelum ditemukanya api, manusia purba membutuhkan waktu berjam-jam untuk sekedar mengunyah makanan. Namun, setelah ditemukannya api, mereka mampu memanggang makanan sehingga lebih lunak untuk dikunyah. Waktu yang tersisah digunakan untuk saling bercengkerama. Di sinilah bahasa verbal manusia mulai berkembang.

Perkembangan bahasa verbal ini diikuti dengan narasi-narasi baru yang diciptakan oleh setiap kelompok manusia purba. Narasi-narasi ini kemudian mampu memperkenalkan bahkan mengikat satu kelompok kecil manusia purba dengan kelompok yang lain. Banyak narasi, banyak ide yang muncul akibat proses komunikasi ini.

Ide-ide tersebut menghasilkan penemuan bahwa manusia mampu menemukan sumber makanan yang bisa didaur ulang. Muncullah ide untuk melakukan kegiatan pertanian. Revolusi pertanian (agriculture) mulai terjadi para era ini. Ryu Hasan mengatakan bahwa revolusi pertanian terjadi karena manusia didomestikasi (dirumahkan) oleh gandum. Manusia membutuhkan gandum dan berbagai tanaman lain untuk hidup sehingga kebiasaan untuk berburu dan berpindah tempat mulai berkurang. Manusia sudah mulai mengenal pentingnya wilayah.

Agar wilayah tersebut tetap aman baik dari ancaman alam atau dari kelompok manusia lain dan seiring dengan perkembangan kemampuan manusia dalam berbahasa, maka diciptakanlah fiksi. Fiksi mampu memberi ikatan kelompok yang kuat pada manusia. Kemampuan menyampaikan fiksi didukung dengan kekuatan fisik membuat manusia menjadi penguasa dalam wilayah yang telah dipetakkan oleh manusia-manusia di sekelilingnya. Diciptakanya beragam mitos untuk menyakralkan suatu tempat atau tumbuhan, juga dimulai saat revolusi pertanian. Inilah awal dari masa feodalisme.

Masyarakat pertanian pada masa feodalisme sudah tidak lagi egaliter seperti saat pemburu pengumpul karena telah mengalami diverensiasi tugas. Ada yang bertugas mengawasi, mencangkul, menyiram, memanen, dan mendistribusikan. Kondisi masyarakat yang seperti ini ternyata mampu memunculkan hirarki dalam masyarakat yang sebelumnya egaliter.

Hirarki dan kekuasaan tentu nikmat bagi kaum penguasa. Oleh sebab itu, variabel fiksi semakin bertambah. Jika pada mulanya fiksi digunakan untuk menyatukan masyarakat agar kerja bersama dan memertahankan kekuasaan, maka pada era ini fiksi digunakan mempertahankan kekuasaan.

Fakta ini dapat dilihat dari keterlibatan penasihat raja yang juga merupakan rohaniawan atau dukun kerajaan untuk membantu raja membuat keputusan. Selain menasehati, mereka juga bertugas untuk menyebar cerita tentang superioritas raja. Tidak jarang yang membuat fiksi-fiksi untuk meghibur atau mengalihkan petani penggarap dari  rasa sakitnya.

Fiksi yang diciptakan semakin lama semakin berkembang hingga mulailah manusia membagi peran bukan hanya sekedar bertani melainkan menjaga kelangsungan hidup suatu wilayah. Salah satunya adalah berperan sebagai pasukan. Pasukan-pasukan ini disiapkan untuk perang. Baik perang menghadapi invasi dari kelompok manusia lain ataupun perang untuk mengembangkan wilayahnya.

Narasi-narasi pun lebih dikuatkan. Sistem religiositas digunakan untuk mendampingi sistem hirarki. Pasukan yang dibentuk dibekali dengan seata religiositas agar mereka tidak takut tapi berani menjaga daerah atau wilayahnya secara sukarela. Religiositas merupakan konsep pahala dan dosa. Narasi religiositas mampu membuat manusia menikmati kesengsaraan. Agen-agen religiositas beserta beragam simbol yang mengikutinya menjadi vital dalam hal ini.

Era revolusi pertanian juga mendegradasi kemampuan manusia. Secara kognitif kemampuan manusia tentu berkembang karena konektifitas dalam broncha dan wernic area semakin kompleks. Namun, secara motorik justru semakin berkurang. Kekebalan manusia saat bertani tidak sekebal manusia yang hidup pada era berburu. Kemampuan navigasi, kekuatan bertarung, hingga keberanian turun drastis sehingga mudah terkena penyakit.

Wabah penyakit paling menyeramkan adalah black death, yaitu wabah yang diakbatkan oleh bakteri. Munculnya beragam penyakit mendorong manusia untuk semakin berinovasi. Bahasa sudah tidak lagi digunakan untuk menyampaikan fiksi dan mitos melainkan mulai masuk pada dunia medis. Kemampuan medis inilah yang lambat laun membawa manusia untuk mulai menarasikan segala hal yang bersifat ilmiah. Bahasa dan sains pun mulai dikembangkan.

Wujud dari perkembangan bahasa dan sains adalah munculnya revolusi industri.Revolusi industri ditandai dengan munculnya mesin uap oleh Jamess Watt. Kemunculan revolusi industri menyebabkan produk pertanian semakin banyak sehingga dianggap semakin menguntungkan. Keinginan untuk mencari sumber energi atau bahan makanan dari wilayah lain pun muncul.

Revolusi industri meruntuhkan sistem feodalisme sehingga muncullah sistem negara bangsa. Bahasa yang dulunya dinarasikan teologis menjadi bergeser ke arah humanis. Muncullah para filusuf yang mulai berhenti mengonsumsi teologi melainkan memunculkan ideologi-ideologi baru. Setidaknya ada tiga ideologi besar yang muncul yaitu Fasisme, Liberalisme, dan Komunisme.

Bahasa kembali mengikat manusia, mempersatukan kecerdasan kolektif manusia. Seiring dengan majunya pengetahuan maka semakin besarlah narasi yang digunakan untuk menyatukan manusia. Tiga ideologi besar tadi semakin lama semakin berbenturan sehingga muncullah perang dunia. Perang dunia yang semakin lama semakin membabi buta diikuti dengan semakin canggihnya persenjataan mengikuti perkembangan sains, membuat manusia sadar bahwa humanisme perlu ditegakkan, meskipun belum sepenuhnya sempurna.

Teknologi industri yang semakin lama semakin berkembang dan seturut dengan meredanya perang dunia membuat manusia punya banyak waktu untuk berpikir dan berkembang. Bahasa manusia kembali bervariasi sehingga manusia menemukan teknologi informasi dan komunikasi.

Kemajuan teknologi informasi dan komunikasi membuat manusia belajar dan memahami berbagai macam bahasa dari berbagai wilayah. Di sisi lain, kemajuan teknologi komunikasi dan informasi juga membuat manusia menemukan bahasa baru yaitu bahasa algoritma. Bahasa ini digunakan untuk mengembangkan temuan-temuan sebelumnya sehingga menghasilkan temuan-temuan baru. Komputer, laptop, dan robot merupakan hasilnya.

Saat ini manusia mengembangkan bahasa algoritma untuk memodulasi kecerdasan buatan. Bukan tidak mungkin apabila manusia sudah mampu mengembangkan bahasa algoritma secra lebih kompleks, maka akan menemukan modulasi kesadaran dan menciptakan beragam imitasi-imitasi kesadaran baru senyampang masih panjang perjalanan manusia dalam berbahasa.

 

 

Tinggalkan Komentar

Silakan tulis komentar anda
Silakan tulis nama anda di sini