Menilik Kampung Gandum di Lereng Bromo

Sejumlah buruh tani melintas di areal perkebunan gandum di Desa Ngadiwono, Kec. Tosari, Kabupaten Pasuruan, Jawa Timur. Kecamatan tosari mempunyai lahan gandum seluas 25 hektar dan menjadi satu-satunya daerah di Indonesia yang mampu menanam gandum di atas lahan lebih dari 10 hektare. (Terakota/Aris Hidayat).

Terakota.id–Tengah hari, matahari tepat berada di atas kepala. Hawa dingin pegunungan kawasan Gunung Bromo semilir menusuk kulit. Para petani Desa Ngadiwono Kecamatan Tosari Kabupaten Pasuruan sibuk menebar pupuk, dan menyiram aneka jenis tanaman sayuran. Petani bekerja di ladang mengenakan jaket, atau kain sarung sarung dililitkan di leher untuk mengusir hawa dingin.

Tanaman kentang, bawang merah, bawang prei, kubis dan wortel tumbuh subur. Di sela tanaman sayuran, terhampar tanaman gandum (Triticum spp.) membentang seluas 10 hektare. Bulir gandum tampak hijau menghiasi panorama pegunungan Bromo.  “Sebulan lagi panen,” kata penyuluh petani Kecamatan Tosari Kabupaten Pasuruan, Yuli Sungkowo.

Tanaman gandum mulai dibudidayakan pada 2007 seluas 150 hektare, namun kini hanya tersisa 25 hektare, 10 hektare diantaranya budidaya dilakukan Pemerintah Kabupaten Pasuruan. Luas lahan gandum terus menyusut karena produktifitas dan nilai ekonomis lebih rendah dibandingkan tanaman sayuran. Sehingga, petani memilih menanam sayuran seperti kentang.

Tanaman kentang, setiap hektare membutuhkan biaya produksi Rp 50 juta namun keuntungannya mencapai Rp 20 juta. Sedangkan tanaman gandum bermodal Rp 12 juta hanya menghasilkan keuntungan antara Rp 3 juta-Rp 8 juta. Biaya produksi tersebut meliputi pengolahan lahan, membeli bibit, upah buruh, pupuk dan pestisida. “Harga gandum tak kompetitif petani tak tertarik,” katanya.

Apalagi, tanaman gandum juga membutuhkan perlakuan paska panen. Mulai mengeringkan , dan perontokan sampai pengolahan menjadi tepung. Sedangkan tanaman sayuran, mereka tak membutuhkan pengolahan. Usai panen, tanaman sayur bisa langsung dipasarkan.

Meski, banyak petani kembali beralih menanam sayuran, Dinas Pertanian Kabupaten Pasuruan tetap mempertahankan tanaman gandum. Minimal, katanya, gandum yang produksi untuk bibit gandum. Tiga varietas gandum ditanam di Pasuruan yakni selayar, nias dan dewata.

Baca juga :  Sultan Mahmud Badaruddin II Sang Harimau yang Tak Pernah Jinak

“Benih dari Balai Penelitian Tanaman Serealia, Maros, Sulawesi Selatan,” katanya. Tanaman gandum, katanya, juga ampuh memutus siklus hama penyakit fusarium yang menyerang kentang. Terutama, cocok ditanam setahun sekali saat musim kemarau. Apalagi, saat kemarau produksi kentang rendah karena pasokan air rendah. Sedangkan jika panen saat musim penghujan kualitas gandum rendah, bulir berkecambah tak layak konsumsi. Sehingga, biji gandum hanya diolah menjadi pakan ternak.

Selain itu, jika pengeringan tak optimal tepung gandum menjadi kusam dan tak menarik.  Hasil produksi gandum dipasarkan untuk kebutuhan lokal, serta secara rutin memasok tepung gandum ke Bali. Rata-rata sebulan dibutuhkan sebanyak 200 kilogram untuk makanan olahan vegetarian bagi wisatawan mancanegara.  Selebihnya dalam jumlah besar dipasok ke PT Bogasari.

Uji coba menanam tanaman sub tropis ini dilakukan di kawasan Tosari, Puspo, Purwosari dan Tutur. Awal budidaya bibit didatangkan dari Kementerian Pertanian sebanyak 50 kilogram. Hasilnya, tanaman gandum tumbuh subur dan produksi maksimal hanya di kawasan Tosari yang memiliki ketinggian di atas 1.000 meter di atas permukaan laut. Sedangkan di daerah lain
kurang optimal.

Tanaman Gandum Subur

Total produksi gandum sebanyak 312 ton, dengan rata-rata produksi gandum mencapai 2,5 ton per hektare. Selain itu, budidaya gandum juga dibantu tenaga ahli dari India Dr Hangsinal. Hangsinal, katanya, memuji lahan pertanian di Tosari yang subur.

Tanaman gandum di salah satu titik perkebunan gandum di Desa Ngadiwono, Kecamatan Tosari, Kabupaten Pasuruan, Jawa Timur. Kecamatan tosari mempunyai lahan gandum seluas 25 hektare dan menjadi satu-satunya daerah di Indonesia yang mampu menanam gandum di atas lahan lebih dari 10 hektar. Produksi gandum di dataran tinggi tosari mencapai 4 ton per hektare, lebih besar dari India yang dikenal pusat produksi gandum yang masih 2 ton per hektare. (Terakota/Aris Hidayat).

Lantaran produksi gandum maksimal di India rata-rata hanya 1,5 ton per  hektare. Bandingkan dengan produksi gandum Tosari, Pasuruan yang melampaui produksi gandum di India. Tanaman gandum dipasok untuk memenuhi kebutuhan Bogasari sebanyak 90 ton, selebihnya digunakan untuk bibit bagi pengembangan budidaya gandum di seluruh nusantara. Untuk memasok gandum ke industri harus memenuhi kadar air minimal 12 persen. Gandum juga harus bersih, bebas dari kotoran.

Bibit tanaman gandum dipasok untuk 13 Kabupaten di enam Provinsi. Namun sejauh ini hanya Kabupaten Pasuruan yang menanam gandum di atas lahan lebih lebih dari 10 hektare. Bibit tersebut, katanya, telah bebas hama dan penyakit. Sedangkan jika mendatangkan bibit dari luar negeri rawan penularan hama dan penyakit.

Bibit luar dari negeri, katanya, harus menjalani pemeriksaan di Balai Karantina Tumbuhan. Namun, enam tahun berjalan tak ada kebijakan yang terintegrasi antara budidaya tanaman dengan teknologi pengolahan hasil pertanian. Sebab jika produksi skala besar harus ada alih teknologi paska panen untuk para petani.

“Belum ada kebijakan terintegrasi dari pusat. Kalau Pemerintah Kabupaten Pasuruan sendiri tak mampu,” katanya. Saat ini, katanya, sebagian petani mengolah menjadi tepung untuk memasok kebutuhan lokal. Pesanan antara lain ke Denpasar sebanyak 400 kilogram, sedangkan selebihnya untuk memenuhi pelaku industri makanan di Pasuruan. Sebagian kecil diolah untuk pakan ternak.

Baca juga :  Berkat Tangan Tuhan

Santoso, petani Dusun Ngawu Desa Podokoyo Kecamatan Tosari Kabupaten Pasuruan bergegas ke ladang. Setelah melaksanakan tugas sebagai penjaga Sekolah Dasar Negeri 3 Podokoyo, ia bercocok tanam. Aneka sayuran ditanam di lahan bekas tanaman gandum. Sudah setahun ini Santoso tak menanam gandum. “Burung menghabiskan tanaman gandum,” katanya.

Bahkan, di luas lahan seluas 250 meter persegi hanya menghasilkan biji gandum sebesar 50 kilogram. Para petani Ngawu yang tergabung dalam kelompok tani “Sumber Makmur” kapokl menanam gandum. Selain burung, tikus juga menjadi hama atau momok tanaman gandum. Tanaman gandum bisa seludes dalam tempo beberapa hari. “Apalagi pengolahannya sulit,” katanya.

Awalnya, lahan pertanian seluas 15 hektare di sekitar permukiman dipenuhi tanaman gandum. Panen sukses hingga menarik perhatian Kementerian Pertanian. Menteri datang untuk panen raya, jalan desa yang berbatu langsung diaspal mulus. “Hasilnya jalan di depan rumah ini. Kita hanya menjalankan program,” katanya.

Datangkan Bibit dari Luar Negeri

Keseriusan pemerintah dalam budidaya tanaman gandum ditunjukkan dengan membentuk konsorsium yang terdiri dari perguruan tinggi, Balai PenelitianTanaman Serealia dan pelaku usaha. Sejak 2012 dilakukan uji multi lokasi tersebar di Jawa Timur, Bogor, Jawa Tengah, Bengkulu, dan Maros.

Masing-masing daerah melakukan uji multi lokasi di dua lokasi berbeda. Di Jawa Timur, ditanam di Sumber Brantas dan Plengkung Kota Batu serta Tosari Kabupaten Pasuruan. Dipilih daerah yang memiliki suhu udara dingin di ketinggian lebih dari 1.000 meter di atas permukaan laut.

“Bibit dari galur elit asal Slovakia,” kata dosen jurusan Budidaya Pertanian Fakultas Pertanian Universitas Brawijaya, Damanhuri.

Pemerintah melakukan kerjasama antar Negara untuk budidaya tanaman gandum. Saat ini dikembangkan 17 galur diantaranya juga dikembangkan di daerah dataran rendah di Desa Jatikerto Kecamatan Kromengan Kabupaten Malang. Tujuannya, untuk analisi stabilitas produksi dan adabtasi iklim. Data dari uji lokasi akan dianalisis untuk dibandingkan dengan varietas  yang dikembangkan di Indonesia.

Baca juga :  Mengingat Munir Menyalakan Kemanusiaan

Selain itu, juga diharapkan menghasilkan tanaman gandum yang tahan di dataran rendah dengan produksi tinggi. Agar, bisa memanfaatkan lahan kering yang terbengkalai. Sedangkan jika di dataran tinggi tanaman gandum kalah bersaing secara ekonomis dengan tanaman sayuran. Sejauh ini produksi gandum 4 ton per hectare lebih rendah dibandingkan di daerah asal seperti Inggris mencapai 8-10 ton per hektare. “Mimpi kami, Tosari menjadi kampung gandum,” katanya.

Kampung gandum, selain menjadi sentra tanaman gandum juga didorong untuk pengolahan paska panen. Diantaranya dipasok bantuan peralatan untuk menghasilkan tepung. Warga setempat, katanya, juga bisa memproduksi aneka makanan seperti roti, kue dan olahan gandum lainnya. Apalagi kandungan gizi dari gandum produksi Tosari sangat bagus, megandung embrio dan kulit ari yang bagus bagi kesehatan.

“Bisa menjadi makanan suplemen, harganya mahal,” katanya. Gandum produksi petani  bisa untuk memenuhi kebutuhan lokal Pasuruan. Terutama untuk memenuhi ketahanan pangan warga setempat.

3 KOMENTAR

Tinggalkan Komentar

Silakan tulis komentar anda
Silakan tulis nama anda di sini