Menilik Arboretum Bambu di Boonpring Andeman

menilik-arboretum-bambu-di-boonpring-andeman
Sebanyak 72 an varietas bambu memenuhi kawasan ekowisata Boonpring Andeman. (Foto : Ravisha Indu).

Terakota.id–Empat penari remaja putri menggotong sebuah tandu anyaman bambu berisi sega empog atau nasi jagung lengkap dengan lauk lauk dan aneka sayuran. Bak pawai, sega empog diarak keliling desa Sanankerto, Turen Kabupaten Malang menuju sumber air Boonpring Andeman. Total sebanyak 20 porsi, sega empog untuk syukuran bagian dari puncak Gebyar Bamboo Lira Liru 2019.

Arak-arakan sega empog berakhir di Boonpring Andeman, diletakkan di atas tikar beralas daun pisang. Empat sampai lima orang duduk meriung di depan setiap porsi sega empog. Setelah berdoa, mereka bersama-sama menikmati makanan khas setempat. Disajikan khusus untuk merayakan Gebyar Bamboo. Makan sega empog sepanjang 50 meter.

menilik-arboretum-bambu-di-boonpring-andeman
Sega empog atay nasi jagung diarak dan digunakan syukuran Gebyar Bamboo Lira Liru. (Foto : Ravisha Indu).

Angin bertiup, dedaunan di hutan bambu dan pepohonan sekitar Boonpring menari-nari. Mengikuti irama angklung yang dimainkan secara masal mengiringi makan siang bersama tersebut. Kebersamaan, dan gotong royong sangat kental terasa dalam acara yang diselenggarakan Badan Usaha Milik Desa (BUMDesa) dan mahasiswa Ilmu Komunikasi Universitas Muhammadiyah Malang (UMM).

Selanjutnya, perwakilan UMM dan pemerintah desa setempat menanam bibit bambu untuk menambah koleksi hutan bambu di Boonpring. Selain itu, juga mengenalkan sebanyak 72 varietas bambu koleksi Boonpring. Serta mengenalkan cara budidaya tanaman bambu kepada masyarakat luas.

“Mengangkat isu eco-friendly. Bersama masyarakat menjaga lingkungan, mencegah pemanasan global,” kata Ketua penyelenggara Qurrotul Aini. Sebagian masyarakat Sanankerto, katanya, menggantungkan hidup dari tanaman bambu. Mereka membuat aneka kerajinan dan hiasan serta tusuk sate.

“Ada 10 perajin,” katanya. Gebyar Bamboo diharapkan mengangkat potensi desa untuk menggerakkan ekonomi demi kesejahteraan masyarakat desa. Termasuk menggali ragam kerajinan yang bisa dikembangkan warga Sanankerto. Meliputi lampu meja, miniatur kapal, tudung saji, ukiran dan pahatan patung dari bonggol bambu.

“Riset selama sebulan untuk mengangkat potensi desa,” kata mahasiswi semester 6 Ilmu Komunikasi FISIP UMM ini. Selain itu, juga mengajak masyarakat untuk merawat dan melestarikan bambu. Lantaran tanaman bambu juga berperan penting untuk menjaga sumber air di Boonpring.

menilik-arboretum-bambu-di-boonpring-andeman
Bambu ditanam di hutan bambu di kawasan ekowisata Boonpring Andeman seluas 36,8 hektare. (Foto : Ravisha Indu).

Sumber air  digunakan untuk mengairi irigasi persawahan dan memasok danau buatan yang menjadi salah satu wahana di Boonpring. Agar hutan bambu tetap terjaga. “Turut menjaga ekonomi warga dan penting untuk ekologi,” katanya

Seni tari tradisional dan dolanan tradisional juga menjadi pertunjukan Gebyar Bamboo.

Sebanyak 72 an varietas bambu memenuhi kawasan ekowisata Boonpring Andeman. Gebyar Bamboo juga memamerkan 65 jenis yang ada di arboretum Boonpring. Direktur BUMDesa Samsul Arifin mengatakan arboretum bakal dikembangkan bekerjasama dengan Lembaga Imu dan Pengetahuan Indonesia (LIPI). Melibatkan pakar taksonomi bamboo, Elisabeth Anita Widjaja.

“Meneliti dan identifikasi bambu di sini selama dua hari,” katanya. Elisabeth juga bakal menyumbang varietas bambu langka koleksinya. Pengelola Boonpring dan LIPI tengah menyusun buku mengenai ragam bambu di Arboretum Boonpring. 

Ekowisata Boonpring terus bergeliat. Kini, rata-rata pengunjung sekitar 750 orang per hari. Pada akhir pekan jumlah pengunjung membudak sampai 3 ribu. Bambu ditanam di lahan khusus, berupa hutan bambu di kawasan ekowisata seluas 36,8 hektare.

menilik-arboretum-bambu-di-boonpring-andeman
Aneka pahatan patung kerajinan dari bonggol bambu dipamerkan dalam Gebyar Bamboo Lira Liru 2019. (Foto : Ravisha Indu).

Masyarakat Sanankerto pengelola hutan bambu tergabung dalam bambu nusantara. Di Jawa Timur juga ada beberapa komunitas bambu yang tergabung antara lain Lumajang dan Surabaya.

Sesuai Peraturan Desa, sejak dua tahun lalu BUMDes mengelola Boonpring Andeman. Sekitar 30 persen penghasilan diserahkan ke desa menjadi Pendapatan Asli Desa (PADes).

Kini, juga akan dikembangkan wisata edukasi bambu. Tujuannya menggerakkan dunia pendidikan untuk ikut mengenal dan menjaga varietas bambu nusantara. Siswa bakal diajak mengenal jenis bambu dan belajar cara menanam bambu, jenis varietas bambu. Siswa akan membawa pulang bibit bambu untuk ditanam di rumah masing-masing.

Hutan bambu Boonpring Andeman awalnya digunakan sebagai perlindungan mata air. Sekarang dilestarikan, juga untuk menjaga sumber air serta dimanfaatkan masyarakat secara ekonomis meningkatkan perekonomian warga

menilik-arboretum-bambu-di-boonpring-andeman
Rata-rata setiap hari Boonpring sekitar 750 orang. Pada akhir pekan membudak sampai 3 ribu. (Foto : Ravisha Indu).

Selain itu, sumber air juga dimanfaatkan untuk menggerakkan generator. Bekerjasama dengan Fakultas Teknik UMM dibangun pembangkit listrik tenaga mikrohidro. Menggunakan debit air 0,50 meter kubik menghasilkan 20 ribu watt. “Turbin menggunakan propeller poros vertical,” kata teknisi PLTMH UMM, Suwignyo.

Listrik yang dihasilkan untuk aktivitas wisata di Boonpring dan warga sekitar. Listrik dari energi baru terbarukan ini menjadi bagian dari kampanye energi hijau. Meliputi untuk kegiatan produktif pedesaan dan pengembangan irigasi pompa kawasan agrowisata. Serta dapat dijadikan sebagai taman edukasi wisata sains-teknologi energi terbarukan. Selain itu juga untuk penerangan kawasan wisata dan lingkungan sekitar.

Tinggalkan Komentar

Silakan tulis komentar anda
Silakan tulis nama anda di sini