Menikmati Keindahan Pulau Rote

Sedikit jumawa, inilah sekelumit keindahan dari bagian selatan Indonesia. Sabar, ini baru bagian pertama. 

Keindahan Samudra Hindia dari Bukit Mando'o, Rote. (Sumber: Ferderikus Ama Bili).

Terakota.id– Pagi menyapa. Matahari yang mulai menunjukan rupanya seolah berteriak kepada saya untuk bergegas menuju pelabuhan Tenau agar tak ketinggalan Ferry. Di sana, beberapa teman telah menunggu. Sesuai jadwal, Kapal Motor Penyebrangan (KMP) tujuan Rote Ndao, Nusa Tenggara Timur (NTT), akan berangkat pukul 06:00 WITA. Jadwal ini biasanya berubah mengikuti kondisi cuaca.

Menuju Rote dari Kupang bisa menggunakan jalur udara maupun laut. Rote memang bukan pulau yang terlalu besar. Namun aktivitas KMP menuju Kupang dan sebaliknya selalu ramai dan padat tiap harinya. Sehingga anda tidak perlu takut mau berangkat kapanpun. Kapal selalu ada. Tugas anda cuma datang tepat waktu. Biasanya, kapal hanya terlambat berangkat karena alasan cuaca. Dengan biaya penyebrangan berkisar Rp. 125.000, anda sudah bisa sampai di Rote dengan menempuh perjalanan selama kurang lebih 3-4 jam.

Sekitar pukul 10.00 kapal yang kami tumpangi berlabuh di Pelabuhan Pante Baru, Rote Ndao. Penumpang pun mulai terjaga dari buaian perjalanan. Perasaan ingin segera turun tersirat dari wajah-wajah mereka. Meski begitu, mereka tak lupa memerhatikan barang bawaan dan anak-anak agar tidak tertinggal di kapal.

Selepas turun. Kami tak sabar untuk segera memacu kendaraan menuju destinasi-destinasi yang telah lama dikhayalkan. Oh ya, sebelum keluar dari area pelabuhan sebaiknya periksa tekanan ban. Karena cukup sulit mencari tempat memompa atau tambal ban setelah keluar dari area ini.

Rote yang Cantik

Pelesir kami kali ini dimulai dengan mengunjungi Batu Termanu yang terletak di Desa Onetali, Kecamatan Rote Tengah. Ia menjadi destinasi pertama yang kami kunjungi karena alasan akses. Selain lebih mudah, jaraknya juga tidak terlalu jauh dari Pelabuhan. Di Batu Termanu dan juga semua destinasi yang akan kami kunjungi ini tidak ada karcis masuk. Dan tentu saja, tidak akan ada seorang pun yang bermodal rompi dan peluit yang bakal memaksa kalian mengeluarkan receh atau selembar uang dua ribuan. Dengan kata lain, tak ada biaya parkir.

Keindahan Batu Termanu (Sumber: https://travelingyuk.com/).

Batu Termanu sebenarnya merupakan dua batu besar yang berada di sebuah tanjung dan lepas pantai. Dua bongkahan batu ini diyakini berjenis kelamin laki-laki dan perempuan. Yang laki-laki bernama batu Suelai. Dan batu Bau Hun untuk yang perempuan. Dua batu ini diyakini merupakan pasangan yang sulit bersatu. Kaduanya berasal dari perairan Maluku. Setelah berpindah-pindah layaknya manusia, keduanya pun menetap di Rote. Selain memanggul mitos yang seperti itu, kedua batu ini juga dianggap mampu menurunkan hujan melalui ritual adat yang dilakukan oleh Manleo (Tokoh Adat).

Setelahnya kami memilih beristirahat di rumah keluarga di Bokai. Untuk anda yang terbiasa begadang, tentu akan sulit mempertahankan kebiasaan anda di sini. Karena semua orang sudah mulai terlelap pada pukul 19:00 WITA. Sumber energi listrik sulit.  Apalagi signal. Dengan begitu, begadang sama menjemukannya dengan menunggu Jokowi mengeluarkan Perppu KPK. Nasehat Bang Rhoma Irama: “Begadang jangan Begadang” sudah tidak berlaku di sini. Mereka hanya akan begadang jika terjadi kedukaan. Karena jenazah harus disemayamkan selama ± 3 hari sebelum akhirnya dikubur.

Keesokannya kami berangkat menuju Bukit Mando’o. Atau masyarakat sekitar sering menyebutnya Tangga 300. Walaupun sebenarnya anak tangga yang ada lebih dari 400. Karena awalnya hanya ada anak tangga sejumlah 300-an saja, sehingga masyarakat lebih akrab menyebutnya tangga 300. Sama dengan di Batu Termanu, di sini juga tidak ada petugas yang menagih uang masuk. Dan tentu saja tidak pernah terdengar kasus berebut lahan parkir sebagaimana orang-orang kota pertontonkan.

Siapkan energi dan perbekalan untuk menempuh tangga sampai puncak (Sumber: Ferderikus Ama Bili).

Di atas bukit Mando’o terdapat beberapa Lopo atau Pos peristirahatan yang bisa anda gunakan untuk menyimpan barang bawaan, bersantai, dan beristirahat sejenak setelah menaiki anak tangga. Lopo yang kami kunjungi tampak belum lama dibuat. Meski begitu sudah mulai banyak nama-nama orang yang ditulis dengan tinta atau cat di berbagai sisinya. Sungguh bisa jadi inilah budaya nasional kita. Karena di mana-mana kebiasaan ini mudah ditemukan. Mungkin saja karena ucapan adalah harapan dan nama adalah doa, lantas mereka menulis di sembarang tempat agar banyak orang yang membacanya.

Abaikan coretan-coretan itu. Karena dari bukit ini ada sesuatu yang jauh lebih patut diperhatikan. Pemandangan yang memanjakan. Ke manapun kita menyapukan pandang, di hadapan kita adalah hamparan keindahan yang lebih dari layak untuk dipamerkan kepada para pengrusak alam.

Di sebelah utara, kita akan melihat perbukitan Lole yang berbaris rapi. Di sebelah selatan, birunya Samudra Hindia berlipat keelokanya karena berpadu dengan langit yang cerah dan biru. Begitu pula di sebelah timur, kita bakal menyaksikan perpaduan pemandangan Perbukitan Keka dengan teluk birunya. Lalu, di arah barat, pemandangan Desa Kuli dengan persawahannya yang terhampar indah tak kalah melenakan. Jika anda Beruntung anda bisa menyaksikan kelucuan sekawanan kera yang tengah bermain dan mencari makan.

Memanjakan mata di atas bukit Mando’o (Sumber: https://www.indonesiakaya.com/).

Bisa dibilang ini “vitamin sea” yang sesungguhnya. Jika anda adalah pemburu senja sejati, maka bukit ini merupakan daftar lokasi yang wajib dikunjungi. Dari atas bukit ini, momen matahari tenggelam dapat dinikmati perlahan-lahan hingga tak rela malam buru-buru jatuh. Karenanya, tak heran, jika bukit ini terlihat selalu ramai dikunjungi para wisatawan. Terlebih lagi jika hari libur, banyak keluarga yang membawa serta anaknya untuk piknik bersama di atas bukit ini.

Sedikit jumawa, inilah sekelumit keindahan dari bagian selatan Indonesia. Sabar, ini baru bagian pertama.

Tinggalkan Komentar

Silakan tulis komentar anda
Silakan tulis nama anda di sini