Menguak Asal-Usul Nama Candi Badut Malang

Siapa yang tidak mengenal Candi Badut di Malang. Candi Badut adalah candi tertua di Jawa Timur peninggalan Kerajaan Kanjuruhan sekitar abad ke VIII Masehi. Pada artikel kali ini kita tidak akan membicarakan kesejarahan Candi Badut, namun di sini kita akan menguak kenapa candi tertua di Jawa Timur ini dinamakan “Badut”. Apakah dahulu tempat itu banyak badutnya? Atau ada sesuatu yang lain? Berikut ulasannya.

menguak-asal-usul-candi-badut-malang
Seni tari barongan jaranan turut dipentaskan dalam gelaran seni budaya Bahana Badhut di kompleks Candi Badut, Malang, Jawa Timur, 8 September 2017. Kolaborasi seni tradisional dan modern untuk mengedukasi pentingnya melestarikan peninggalan situs budaya.(Terakota.id/Aris Hidayat)

Terakota.idSejarawan Malang, Suwardono, dalam diktat kecil karangannya yang tersedia di pos penjagaan Juru Pelihara (Jupel) candi tersebut, berjudul “Candi Badut”, 2008, pada halaman 1-2, menerangkan tiga teori mengenai asal-usul penamaan Candi Badut. “Ada beberapa dasar anggapan yang menarik untuk dikaji berkenaan dengan nama Candi Badut. Candi ini dinamakan ‘Badut’ karena letaknya yang berada di Dukuh Badut. Sedangkan asal-usul nama ‘Badut’ sendiri terdapat berbagai anggapan yaitu sebagai berikut:

Menurut penduduk setempat nama ‘Badut’ diambil dari nama sejenis pohon yang dahulu banyak tumbuh di situ. Orang sekarang menamakan pohon ‘Badutan’. Pohon ini sekarang masih tersisa satu berada di sebelah tenggara halaman candi, di luar pagar. Karena di sekitarnya banyak tumbuh pohon ‘Badut’, maka daerah tersebut dinamakan Desa (Dusun atau Dukuh, red) Badut. Sehingga candinya pun akhirnya dinamakan Candi Badut, karena letaknya di Desa (Dusun atau Dukuh, red) Badut.

Menurut Poerbatjaraka bahwa nama ‘Badut’ berasal dari nama ‘Garbopati’ (yaitu nama kecil) Raja Gajayana sebelum menjadi raja di Kerajaan Kanjuruhan. Nama ‘garbopati’ sang raja adalah ‘LIÇWA’. Menurut Poerbatjaraka, ‘Liçwa’ merupakan bahasa Jawa Kuno/Kawi yang artinya adalah anak komedi, pelawak, atau badut.

menguak-asal-usul-candi-badut-malang
Anak-anak belajar menari di pelataran Candi Badut dalam kegiatan ajar pusaka budaya spesial anak. (Terakota/Eko Widianto).

Menurut Van der Meulen, nama ‘Badut’ diambil dari nama Resi Agastya, yaitu seorang resi yang diagung-agungkan oleh Raja Gajayana. Kata badut berasal dari kata ‘Ba’ dan ‘Dyut’. Ba = bintang resi Agastya (Chopus), sedangkan kata Dyut = sinar/cahaya. Jadi, Badyut = sonar atau cahaya resi Agastya. Van der Meulen membuat perbandingan dengan nama candi ‘Mendut’, yang menurutnya berasal dari kata Men = sorot, dan Dyut = cahaya.”, tulis Suwardono.

“Dari tiga pendapat dan anggapan di atas mana yang benar silakan dicari bukti-bukti kebenarannya. Hanya di sini perlu untuk diingat bahwa kebanyakan nama bangunan candi di Jawa pada umumnya mengikuti nama tempat atau daerah di mana candi berada, maka kemungkinan sekali nama Badut itu adalah nama desa atau daerah yang diambil dari nama tumbuhan. Di Jawa sangat banyak nama daerah yang mengambil nama tumbuhan, seperti cantohnya nama Pakis, Blimbing, Lowokwaru, Karang Lo, Karang Asem, Kayu Tangan, Celaket, Pandanwangi, dan masih banyak lagi. Atau pula diambil dari suatu peristiwa seperti contohnya Desa Klojen (ada loji Belanda), Kauman (tempat kaum muslimin), Kidul Dalem (di selatan ada rumah Adipati/raja), Tumenggungan (tempat tumenggung), dan sebagainya,” tulis Suwardono dalam tulisan itu.

Diantara tiga pendapat tersebut menarik untuk dikuak yang mendekati kebenaran. Di akhir kalimat Suwardono cenderung pada pendapat pendapat penduduk setempat. Pada 2014, penulis sempat mewawancarainya terkait nama Badut tersebut. “Pendapat bahwa Badut berasal dari kata Liçwa kurang tepat, hal ini dikarenakan para ahli merevisi pembacaan kata Liçwa dalam prasasti Dinoyo tersebut menjadi “Limwa (Limo)”, hal ini cukuplah masuk akal mengingat garbopatinama (nama kecil) raja di Nusantara mestilah nama asli “Indonesia” yang diambil dari unsur nama tumbuhan dan hewan. Tidaklah mungkin ketika baru lahir dan berstatus pangeran namanya sudah berbahasa Sanskerta (India, red). Nama berbahasa Sanskerta digunakan pada saat ia dinobatkan menjadi raja. Baru saat itu nama abhiseka (nama nobatan)-nya berbahasa Sanskerta. Liçwa adalah bahasa Sanskerta sementara Limwa (Limo) adalah bahasa lokal yang artinya Jeruk Limaum” tulisnya.

Perlu dicermati bahwa nama resmi sebuah candi mestilah “tertulis” dalam sumber naskah maupun prasasti. Kita ambil contoh penamaan candi-candi raja-raja dari Kerajaan Singhasari, Hadi Sidomulyo menerangkan dalam bukunya yang berjudul “Napak Tilas Perjalanan Mpu Prapañca”, tahun 2007, pada halaman 157, ia menerangkan: “Dalam prasasti Mula-Malurung, lempeng IIb baris ke 2-3, disebutkan bahwa nama resmi candi pendharmaan Ken Angrok di Kagenengan (kini menjadi Dusun Genengan, Desa Parangargo, Kecamatan Wagir, Kabupaten Malang) adalah Narasinghanagara. Sedangkan nama resmi candi untuk pendharmaan Anusapati di Kidal adalah Narasinghasana,” tulis Hadi dalam bukunya.

Sehingga jelas bahwa teori Poerbatjaraka dan Van der Meulen tidak dapat dipertahankan karena nama “Badut” tidak disebutkan di dalam Prasasti Dinoyo I. dengan demikian maka nama Badut jelas diambil dari nama “Dukuh atau Dusun” dimana candi tersebut berdiri. Berdasarkan catatan dari buku yang berjudul “Nama-Nama Dusun dalam Desa di Jawa Timur”, yang ditulis/disusun oleh Biro Pemerintahan Desa Sekretariat Wilayah / Daerah (SEKWILDA) Tingkat I Jawa Timur, pada halaman 285, ditulis bahwa Kelurahan Karang Besuki, kecamatan Sukun, Kota Malang. Pada saat masih berstatus sebagai desa, membawahi empat buah dusun yaitu Dusun Klaseman, Dusun Sidomulyo, Dusun Gasek dan juga Dusun Badut.

Sehingga jelas nama “Badut” diambil dari nama dusun di mana candi berada. Di awal dijelaskan bahwa nama dusun itu berasal dari nama “Pohon Badutan” yang dahulu banyak sekali tumbuh di wilayah tersebut. Lantas bagaimana bentuk dan deskripsi dari pohon badutan itu? Berikut ulasan, ahli botani bernama Iman Budhi Santosa, dalam bukunya yang berjudul “Suta Naya Dhadap Waru (Manusia Jawa dan Tumbuhan)”, 2017, halaman 209:

“Nama kedu sekarang hampir tidak dikenal lagi. Di masa Belanda, Kedu adalah nama sebuah karesidenan di Jawa Tengah dengan ibukotanya Magelang. Begitu wilayah karesidenan dihapus, yang tertinggal hanya nomor plat kendaraan saja, yaitu: AA. Nama Kedu pun bergeser jadi Magelang. Kedu pada mulanya adalah nama pohon, yaitu pohon kedu (Planchonella nitida). Menurut penelitian K. Heyne dalam buku Tumbuhan Berguna Indonesia IV (Badan Penelitian dan Pengembangan Kehutanan Departemen Kehutanan, 1987), pohon kedu memiliki nama daerah bermacam-macam.

Di Jawa pernah ada yang menyebut kedubadutkemit, atau komadu. Di Sunda: karet anjing, di Madura: kedhu, di Sumba: katang, di Makassar: nato bulu. Pohon kedu dikenal pada masa lalu sebagai raksasa rimba dengan ketinggian mencapai 50 meter dan gemangnya 4 meter. di Jawa tumbuh hingga dataran tinggi sekitar 1.200 meter di atas permukaan laut (m.dpl). Batangnya lurus, kayunya berwarna putih, cukup keras dan relatif kuat.

Namun di Jawa jarang digunakan karena kalah dengan kayu-kayu lain yang sudah populer di masyarakat. Dikabarkan, pada masa Belanda, kayu kedu pernah dicoba untuk gagang korek api di Kediri, tetapi dinilai tidak bagus sehingga ditinggalkan. Kini pohon kedu sudah menjadi pohon langka kendati namanya sempat diwariskan menjadi nama karesidenan, kecamatan dan desa. Desa di Jawa Timur/Jawa Tengah/DIY yang menggunakan nama kedu sebagai nama desa adalah Desa Kedu, Kecamatan Kedu, Kabupaten Temanggung,” tulis Iman dalam bukunya.

Sementara dalam laman online www.plantsofasia.com (diakses 05/09/2018:18:07 WIB), dijelaskan bahwa pohon ini bernama ilmiah Planchonella duclitan (Plaehonella) adalah keluarga dari Sapotaceae Sapotaceae, dalam Bahasa Indonesia pohon ini disebut: Badut, Kadut, Karet Anjing, Kedu, Kemadu, Kemit (Jawa), Kedhu (Madura), Balam Timah, Longgang (Sumatra), Beluan Batu Of Kedel, Nat Oblu, Sambiring, Taler (Sulawesi), Katang (Maluku).

Sedangkan di Filipina disebut dengan nama Duklitan. Memiliki sinonim nama Beccariella balitbitan, Beccariella celebica, Beccariella duclitan, Chrysophyllum rhodoneurum, Chrysophyllum sundaicum, Planchonella celebica, Planchonella nitida, Planchonella sundaica, Pouteria duclitan, Pouteria nitida, Sideroxylon balitbitan, Sideroxylon celebicum, Sideroxylon duclitan, Sideroxylon nitidum, Sideroxylon ramiflorum, Sideroxylon sundaicum, Xantolis nitida. Asal pohon ini ialah dari pulau-pulau di Kepulauan Melayu. Saat ini pohon ini menjadi koleksi Kebun Raya Eka Karya (Candikuning, Baturiti, Tabanan, Bali – Indonesia).

 

 

 

 

 

 

Tinggalkan Komentar

Silakan tulis komentar anda
Silakan tulis nama anda di sini