Mengolah Biji Kopi Malang Berkualitas

Kedai dibuat agar kesan ngopi di rumah sendiri. Santai, dan nyaman. Tak ada jarak antara pembeli dan peracik kopi. (Terakota/Balqis TC).

Reporter : Balqis TC

Terakota.id–Harum kopi menguar dari balik kedai kopi Tjap Gilingan Jalan Raya Candi V Nomor 135, Karangbesuki, Kecamatan Sukun, Kota Malang.  Seorang barista atau peracik kopi fokus mengolah biji kopi menjadi kopi siap minum. Sejumlah pelanggan duduk, bercengkrama sembari menunggu menikmati kopi siap tersaji di atas meja.

Kedai kopi rumahan ini terkenal mengolah biji kopi lokal Malang. Kedai kopi menyatu dengan rumah pemilik kedai, Handoko, 37 tahun. Ia membuka kedai kopi untuk mengenalkan kopi asal Malang. “Kopi dari Malang butuh proses panjang untuk meningkatkan kualitas,” kata Handoko.

Kedai sengaja didirikan menyatu dengan rumah, untuk membuat kesan ngopi di rumah sendiri. Santai, dan nyaman. Tak ada jarak antara pembeli dan peracik kopi.

Disajikan dua jenis kopi, arabika dan robusta. Kopi arabika diambil langsung dari perkebunan kopi di kaki Gunung Arjuna. Yakni di sekitar ekowisata Bukit Budukasu, Wonosori, Lawang Kabupaten Malang. Serta kopi dari perkebunan Songgorit, Batu. Sedangkan kopi robusta berasal dari perkebunan petani kopi di Dampit dan Gunung Kawi, Kabupaten Malang.

Biji kopi dari Malang, katanya, terkenal sejak dulu. Namun budidaya, proses pemetikan dan pengolahan belum sesuai standar. Sehingga ia bersama pengusaha kedai kopi bekerjasama dengan petani. Mereka berbagi cara pengolahan kopi, mulai dari proses di perkebunanan hingga pengolahannya.

Handoko kerap mendatangi langsung ke kebun kopi, bertemu para petani. Hubungan kerjasama partnership ini dilakukan langsung dengan petani untuk memutus rantai distribusi. Kini, para petani telah belajar proses pengolahan sehingga kedai kopi bisa mendapat biji kopi berkualitas.

Sedangkan petani mendapat keuntungan, karena harga jual kopi semakin mahal. Dengan pengolahan yang sesuai standar, kopi lokal, kopi khas Malang semakin terkenal. Kualitas semakin meningkat, dan penjualan biji kopi melonjak. 

Kopi olahan Tjap Gilingan diolah dari perkebunan kopi di Malang. (Terakota/Balqis TC).

Kopi yang diterima dari petani berupa biji kopi atau biasa disebut beras kopi. Kopi disimpan di dalam karung dilapisi plastis, biji kopi tidak bersentuhan langsung dengan karung. Selama proses penyimpanan suhu udara dijaga. Proses pengolahan kopi dijaga sesuai standar sehingga kualitasnya tetap terjaga.

Lantas beras kopi, dipilah dan diproses melalui teknik roasting atau menggoreng yang terstandar. Beras kopi diolah sesuai jenis kopi, sehingga mendapatkan hasil maksimal dan memanfaatkan masa golden time. Yakni sepekan usai kopi diroasting, merupakan waktu yang tepat menikmati kopi.

Kopi hasil roasting disimpan dalam wadah toples kedap udara, sehingga tahan lama dan prima. Kopi arabika Arjuna menjadi salah satu kopi khas Malang, grade 1 dipatok harga Rp 130 ribu per kilogram. Kopi hasil olahan ini juga dijual di Kedai Kopi Tjap Giling.

Kopi yang disajikan berkualitas, namun harga kopi lokal Malang cukup bersahabat dengan kantong. Untuk mencicipi kopi di sini, cukup membayar Rp 7 ribu saampai Rp 20 ribu.

Disamping kopi lokal Malang, kedai juga mengolah kopi dari berbagai daerah di Nusantara. Meliputi kopi Aceh Gayo, Bali Kintamani, Toraja Mamasa dan sebagainya.

Cita rasa kopi Malang tak kalah dengan kopi Nusantara lainnya. Namun, dibutuhkan proses panjang untuk menghasilkan kopi berkualitas grade 1. Sehingga mampu bersaing dengan kopi Nusantara lainya.

Kopi Songgorit dan kopi Arjuna menjadi kopi favorit pembeli. Para pelanggan kebanyakan memesan kopi arabika dari kedua tempat itu. Sedangkan kopi robusta, ya kopi Dampit bintangnya.

1 KOMENTAR

Tinggalkan Komentar

Silakan tulis komentar anda
Silakan tulis nama anda di sini