Terakota.id–Memperingati hari Hak Asasi Manusia (HAM) sedunia dan empat tahun museum HAM Omah Munir menggendeng pegiat seni untuk mengingatkan perjuangan pejuang HAM Munir Said Thalib. Omah Munir menggandeng anak muda, pegiat seni, dengan membuat pameran, workshop dan membuat karya bersama di Omah Munir selama Desember 2017.

Sebanyak 50 karya telah diseleksi berupa poster, lukisan, film, musik, cukil sablon, dan grafiti.  Karena keterbatasan ruang pamer, hanya 20 karya yang bisa dipamerkan. Tim seleksi yang terdiri dari Ivana Kurniawati, Alit Ambara, Haris Azhar dan Subi mengkurasi relevansi tema, isi, bentuk dan orisinalitas karya sebagai dasar penilaian.

“Mengingat Munir Menyalakan Kemanusiaan menjadi tema kegiatan. Merespon situasi terkini, menyalakan kemanusiaan bermakna membumikan kembali prinsip-prinsip perjuangan Munir,” kata Ivana Kurniawati, mewakili tim seleksi dalam siaran pers yang diterima Terakota.id.  Munir memperjuangkan prinsip toleransi, pernghormatan martabat kemanusiaan, perjuangan untuk keadilan dan semangat anti kekerasan.

Karya seni menjadi medium melawan lupa dan mendesakkan kasus-kasus pelanggaran HAM yang selama ini mandek. Pembukaan pameran diselenggarakan di Omah Munir, Jumat 8 Desember 2017. Diisi dengan diskusi bersama Yati Andriani (koordinator Kontras), Alit Ambara (seniman), Ivana Kurniawati (tim seleksi karya), dan Haris Azhar (Lokataru). Dilanjutkan presentasi karya Gilang Aditya Nugroho, Ardi Firmansyah dan Arga Bastart, yang telah terseleksi karyanya.

Juga menghadirkan Musik Sisir Tanah yang kerap menyuarakan tema kemanusiaan dan pelestarian lingkungan dalam setiap lagunya.  Karya tim seleksi Alit Ambara mendesak pemerintah untuk “Berani” bertindak tegas menuntaskan kasus Munir.

“Tidak adanya keberanian, menghindar dari segala tangungjawab penyelesaian, seperti membuka dokumen Tim Pencari Fakta Kasus Munir adalah salah satu bentuknya,” ujar Suciwati memaparkan. Kunci perkara pelanggaran kemanusiaan, katanya, adalah keberanian membongkar motif politik di balik pembunuhannya.

Gilang Aditya Nugroho menyoroti Aksi Kamisan yang sudah lebih dari 500 kali dilakukan di depan Istana. Aksi tiap Kamis yang awalnya dilakukan oleh para korban pelanggaran HAM kini berkembang menjadi gerakan bersama di berbagai kota. “Berlipat ganda dari aksi ke aksi, kasus ke kasus, generasi ke genarasi, hati ke hati. Aksi Kamisan tidak akan berhenti, sampai impunitas mati”. Marsetio Hariadi selaku kurator pameran.

Karya-karya seni yang bakal dipamerkan meliputi karya: Yab Saporte, Gilang Aditya Nugroho, Arga Bastart, Senartogok, Ardhi Firmansyah, Okse Bayu, Tomi Febrianto, Tendi Munte, Hairembulan, Rizki Febian, Gesboy, Imam Sukrin Nawawi, Hary Fahrizal, Dharma Setyawan, Moch. Rexy Qolbi, Efi Sri Handayani, Rudi Nofiandri, Algie Saputra, Happy Wahyu F, dan Yanuar Andi.

2 KOMENTAR

Tinggalkan Komentar

Silakan tulis komentar anda
Silakan tulis nama anda di sini