Mengingat Kembali Karya Frater Bunda Hati Kudus (BHK)

Oleh Devi Ronata*

Terakota.idKota Malang dikenal sebagai kota pendidikan tidak terlepas dari sejarah masa lalu. Biara dan kompleks Celaket 21 merupakan salah satu  sekolah yang dibangun pada masa kolonial yang eksis hingga saat ini. Sekolah ini merupakan hasil karya dari Frater Bunda Hati Kudus. Sekolah didirikan sekitar abad ke 20 sebagai bentuk rasa prihatin terhadap pendidikan di Hindia Belanda.

Pendidikan di Hindia pada 1920-an hanya diperuntukkan bagi kaum Belanda dan Eropa sehingga kaum pribumi masih sedikit sekali yang mengenyam pendidikan. Pada tahun 1928 para Frater mulai datang ke Kota Malang. Kedatangan Frater BHK untuk memenuhi undangan para pater Karmelit di Malang.

Pater-pater itu meminta dewan pusat mengutus frater-frater guru ke Malang awalnya untuk mendidik pemuda Katolik. Diutus dua frater ke Kota Malang yakni Fr.M.Gregorius dan Fr.M.Wilfridus. Setelah meninjau beberapa lokasi akhirnya dipilih sebidang tanah di Celaket yang berdekatan dengan sungai berantas.

Pada September 1928 dimulai peletakan batu pertama dan pondasi pembangunan biara Frater. Frater Crisostomus menjadi pengawas pembangunan gedung baru, sedangkan arsiteknya Tuan Smith seorang arsitek Belanda. Gedyng dikerjakan selama hampir 10 bulan, pada Juni 1929 bangunan rumah Frater selesai.

Bangunan biara didesain mirip dengan biara Frater di Uttrect Belanda. Berdasarkan laporan dari Vught (2000) berikut ini adalah daftar yang Frater yang diutus di Hindia Belanda-Indonesia mulai dari tahun 1928-1969.

 

PeriodeJumlah Frater
1928-193424
1935-193925
1940-19441
1945-194921
1950-19547
1955-1959
1960-19641
1965-1969
Total79

Jumlah Frater Belanda yang diutus ke HindiaBelanda/Indonesia, 1928-1969, periode 5 tahun.

Para Frater memiliki sikap terbuka dan toleran. Meskipun mereka mendirikan sekolah Katholik tetapi tidak mewajibkan muridnya untuk menganut agama Katholik.  Mengutip pernyataan dari Vugt (2000) di Indonesia para frater tidak hanya mengajar pemuda Katholik melainkan juga siswa bukan Katholik.

Maka secara sadar dan sengaja sekolah-sekolah frater Indonesia lebih terarah ‘keluar’ dari pada ‘kedalam’. Mereka bermaksud mendobrak isolasi kalangan Katholik dan tidak memperkuatnya, seperti di negeri Belanda.

Sehingga pelayanan pendidikan di Nusantara waktu itu lebih mengarah pada kemajuan dan kesejahteraan siswa. Para Frater tidak melakukan pemisahan antara anak-anak Katholik dengan anak-anak non Katholik.

Pada masa kolonial sekolah dan asrama berkembang pesat, bahkan didirikan sekolah pendidikan guru (1931-1935) dan sekolah untuk pendidikan dasar lanjutan (ULO,1933) di Kota Malang.

Berbanding terbalik dengan masa Kolonial, Pada masa pendudukan Jepang (1942) karya Frater sempat terhenti. Lantaran Frater Belanda dan Frater Jawa banyak yang ditawan oleh Jepang. Pada masa ini kehidupan mereka sangat menderita karena kekurangan makanan dan terserang wabah disentri.

Setelah Indonesia merdeka, konggregasi Frater BHK mengalami kondisi tak menentu, karena pemerintah mengeluarkan kebijakan Nasionalisasi. Kebijakan ini berdampak pada dunia pendidikan . Frater Belanda banyak yang dipulangkan, tetapi ada juga yang memilih untuk tetap bertahan.

Situasi politik yang tak menentu tidak mengghentikan semangat Frater untuk tetap berkarya. Hingga saat ini Karya para Frater masih bisa dirasakan dalam dunia pendidikan. Biara dan Sekolah dikompleks Celaket 21 merupakan bukti karya Frater Bunda Hati Kudus.

Semangat dan ketulusan para Frater patut kita contoh, meskipun mereka berasal dari Belanda mereka mau mendidik anak-anak pribumi. Mereka lebih mengedepankan cinta dariapada perbedaan ras dan agama.

 

*Mahasiswa Pasca Sarjana Prodi Pendidikan Sejarah Universitas Negeri Malang

Pembaca Terakota.id bisa mengirim tulisan reportase, artikel, foto atau video tentang seni, budaya, sejarah dan perjalanan ke email : redaksi@terakota.id. Tulisan yang menarik akan diterbitkan di kanal terasiana.

Tinggalkan Balasan