Instrumen musik dari relief Candi Borobudur dihidupkan kembali dalam Borobudur Cultural Feast 17 Desember 2016. (Foto : Ali Gardy).
Iklan terakota

Terakota.idBeragam instrumen musik yang ada di relief Candi Borobudur akan dihadirkan dalam International Conference Sound of Borobudur, Music Over Nations, pada 24 Juni 2021. Sebuah pagelaran yang menjadi rangkaian acara Kementerian Pariwisata dan Ekonomi Kreatif (Kemenparekraf) yang akan diselenggarakan di lima lokasi mulai Juni hingga November 2021.

International Conference Sound of Borobudur, Music Over Nations menjadi ajang tampil bagi musisi dalam negeri dan puluhan musisi dari 10 negara di Asia. “Berkolaborasi membunyikan alat musik yang ada dalam relief Candi Borobudur,” kata Deputi Bidang Produk Wisata dan Penyelenggaraan Kegiatan (Event) Kemenparekraf Rizki Handayani Mustafa saat membuka Launching International Conference Sound of Borobudur, Music Over Nations, Senin 7 Juni 2021 secara daring.

Rizki menambahkan selama konferensi diselenggarakan seminar, pameran mini 10 UMKM di kawasan Borobudur yang mengusung produk unggulan lokal. Serta pemberian insentif pemenang penulisan blog yang diselenggarakan Kompas. “Ini akan mempromosikan daya tarik wisata yang ada di sekitar Kawasan Candi Borobudur,” kata Rizki dalam sambutannya.

Musisi Purwa Tjaraka menjelaskan penemuan relief instrumen musik di Candi Borobudur tidak ada yang istimewa. Sebuah temuan lama. Justru miris, katanya, selama 13 abad terakhir hanya menjadi pengetahuan pasif.  “Menghidupkan alat musik yang sebelumnya hanya pahatan dalam batu adalah ide original,” ujar Purwa Tjaraka.

Kang Purwa menyorot keunikan ratusan jenis alat musik yang ditemukan pada panel relief Candi Borobudur. Ditemukan sebanyak 226 instrumen jenis petik, tiup dan pukul. Sedangkan selama ini belum ada temuan sebagai bukti sejarah lain, yang menampilkan alat musik dengan jumlah yang  sepadan.

“Pola permainan alat musik secara berkelompok yang mempertimbangkan aransemen, tata bunyi, harmonisasi, struktur, manajemen meski masih secara tradisional. Ini menunjukkan masyarakat kala itu telah hidup sejahtera,” kata Purwa Tjaraka.

Alat musik tersebut tak hanya berasal dari Jawa, khususnya Jawa Tengah ataupun dari 34 provinsi di Indonesia. Sehingga menunjukkan ikatan persahabatan antar bangsa telah terjalin sejak abad ke-7.

Relief instrumen musik di Candi Borobudur. (Foto : Widya Nayati)

Sehingga diasumsikan Indonesia pada abad ke-7 menjadi tempat berkumpulnya bangsa-bangsa dari berbagai penjuru nusantara dan dunia. Atau sebaliknya, orang di sekitar Borobudur telah menjelajah ke berbagai penjuru dunia. Lantas mengabadikan pengalaman bermusiknya dalam pahatan relief candi.

Sound of Borobudur adalah identitas Borobudur. Sudah waktunya kita bunyikan atas nama kesenian, kebudayaan, bukti peradaban bangsa dan langgengnya warisan tersebut. Pada Abad ke-7 sampai 8 sudah terjadi interaksi antar budaya, antar bangsa,” tutur Purwa Tjaraka.

Guru besar Ilmu Sastra Universitas Indonesia yang juga Dewan Pakar Sound of Borobudur Melani Budianta menyatakan selama lima tahun tim Sound of Borobudur berproses untuk menciptakan dan membunyikan alat musik dalam relief Candi Borobudur.

Waditra berdawai hasil rekonstruksi dari relief Candi Borobudur. (Dok.Redy Eko Prastyo)

” April lalu telah berkumpul etnomusikologi, sejawaran, arkeolog mengupas temuan relief itu secara akademis,” kata  Melani Budianta.

Pada pertemuan itu, dihasilkan pula laporan ilmiah dalam bahasa Indonesia dan bahasa Inggris. Menurut Melani Budianta, alat musik hanya menjadi salah satu bidang kajian yang bisa ditelisik.  “Borobudur bukan sekadar batu atau tempat wisata berswafoto, tapi merupakan lumbung pengetahuan dan lumbung budaya,” kata Melani Budianta memungkasi penjelasan.