Menghadirkan Pram di Perpustakaan “Liar” Pataba

Bagi pengunjung yang hendak bermalam disediakan kamar khusus. Sebuah kamar yang digunakan masa kecil Pram. Dinding kamar terpampang gambar Pram. Termasuk disediakan beragam buku karya Pram. Pataba didedikasikan untuk Pram, sekaligus untuk mengenang buku koleksinya. Buku bumi manusia, katanya, di Amerika telah 40 kali cetak.

Terakota.id–Soesilo Toer, 83 tahun, adik ke enam sastrawan Pramoedya Ananta Toer tengah berusaha menghidupkan kembali rumah masa kecil Pram di Blora, Jawa Tengah.  Rumah keluarga yang menjadi rumah tinggal masa kecil Pram disulap menjadi perpustakaan. Beragam koleksi buku ditata rapi di rak buku yang mengelilingi rumah tinggal itu. Rumah masa kecil Pram disulap menjadi Perpustakaan Semua Anak Bangsa (Pataba).

“Pataba didirikan 21 April 2006, bersamaan dengan Pram meninggal,” ujar Soesilo dalam diskusi mengelola perpustakaan dan arsip dalam rangkaian Pameran Malang Sejuta Buku “Ketemu Buku#2”, di Taman Krida Budaya Jawa Timur, Ahad sore 22 Oktober 2017.

Awalnya perpustakaan bernama Pramoedya Ananta Toer Anak Blora kemudian berubah menjadi anak semua bangsa. Kini sudah 11 tahun perpustakaan yang dimulai dengan 500 eksemplar buku koleksi pribadi berkembang menjadi 10 ribu eksemplar.

“Buku berasal dari membeli sendiri dan sumbangan. Pram mengajarkan jangan meminta-minta,” katanya. Separuh gajinya sebagai dosen di Universitas Tujuh Belas Agustus dibelikan buku. Setelah itu semua buku diboyong ke Blora.

“Ada juga buku hadiah dari Pram,” ujarnya. Selain itu, dia juga menerima sumbangan buku dari peneliti dan akademisi dari Jepang dan Amerika.  Pataba dikunjungi mahasiswa, dan peneliti dari sejumlah perguruan tinggi di nusantara. Bahkan juga banyak peneliti dan penulis yang berasal dari seluruh penjuru dunia.

“Kecuali Afrika, pengunjung datang dari empat benua,” katanya. Namun, sejak berdiri 11 tahun lalu sampai saat ini belum ada satupun tetangganya yang berkunjung dan membaca buku. Padahal, sekitar 10 keluarga di sekitar Pataba merupakan keluarga guru.

“Keluarga guru tetapi miskin membaca,” katanya. Dulu, katanya, rumah itu disebut sebagai rumah hantu, rumah PKI. Bahkan akan dibakar saat pergolakan 1965 silam. Soesilo menciptakan Pataba dengan suasana keakraban. Berharap pengunjung menempatkan Pataba seperti rumah sendiri.

Self service. Selalu disediakan minum untuk pengunjung. Jika membaca lama diajak makan,” katanya. Perpustakaan ini, katanya, juga dikelola tanpa katalog. Pengunjung bisa mencari dan membaca buku yang diinginkan. Dinding perpustakaan dipasang papan bertulis “Perpustakaan Liar.”

“Itu papan hadiah dari Pemerintah Blora. Bukan penghinaan tetapi penghargaan,” katanya.  Sampai saat ini, papan itu menghiasi ruangan perpustakaan. Bagi pengunjung yang hendak bermalam disediakan kamar khusus. Sebuah kamar yang digunakan masa kecil Pram. Dinding kamar terpampang gambar Pram.

Termasuk disediakan beragam buku karya Pram. Pataba didedikasikan untuk Pram, sekaligus untuk mengenang buku koleksinya. Buku bumi manusia, katanya, di Amerika telah 40 kali cetak. “Sementara saya pameran di Blora, tak ada satupun yang membeli,” ujarnya.

Sosok Soesilo Toer sendiri juga unik. Kini dia bergelar ‘rektor’ merupakan akronim dari tukang korek barang kotor. Dia saban hari memulung, dia menikmati dunianya itu. Dari hasil memulung dia menemukan beragam barang berharga. “Sejak kecil saya suka memulung.” ujarnya.

Bahkan halaman rumah dibangun dengan pecahan keramik hasil memulung selama delapan tahun. Dia memiliki kenangan dan sejarah yang menarik dari setiap hari memulung. Rencananya, hasil koleksi memulungnya bakal dipamerkan.

Soesilo tak mau kalah dengan Pram, jika Pram dikenal dengan tetralogi, Soesilo memiliki lima buku yang disebutnya sebagai pentalogi. Pram menikah dua kali, sementara Soesilo menikah tiga kali. “Pram harus saya kalahkan. Kalau sastra, saya kalah. 100 hari lagi usia saya sama dengan Pram,” katanya.

Pram, katanya, memiliki perbedaan yang mencolok. Pram selalu optimistis, sementara Soesilo pesismistis. Pram lahir saat keluarganya kaya dan Berjaya, sedangkan Soesilo lahir saat usaha keluarga bangkrut dan ayah ibunya meninggal. Jika Pram merupakan seorang sastrawan, Soesilo merupakan penulis.

Soesilo Toer dan anaknya juga mendirikan sebuah penerbitan. Selain menerbitkan karya  Pram, juga menerbitkan beragam buku dari para penulis. Selama lima tahun mendirikan penerbit telah menerbitkan 50 buku.

Perpustakaan Harus Berubah

DISKUSI. Pendiri Pataba Soesilo Toer menjadi pembicara diskusi dalam rangkaian Pameran Sejuta Buku, Ketemu Buku #2 di Taman Krida Budaya Jawa Timur. (Terakota.id/Eko Widianto)

Kepala Perpustakaan Universitas Negeri Malang, Profesor Djoko Saryono menuntut perpustakaan segera berbenah. Peran perpustakaan sebagai tempat belajar dan penciptaan hilang hanya menjadi tempat pelayanan, melayani buku. Padahal, katanya, perpustakaan merupakan ruang mencipta, relaksasi dan belajar.

Perpustakaan juga harus menjadi menjembatani berbagai komunitas. Ruang belajar bersama komunitas baik perupa, pelukis, musisi, dan komunitas lain. Jika dalam era digital perpustakaan hanya menjadi tempat penyimpanan buku, maka akan tertinggal dan digantikan teknologi. Apalagi teknologi digital telah menyebabkan beragam profesi mati diambil alih secara otomatis digital.

“Kita sekarang dikepung teknologi digital,” ujarnya. Jika perpustakaan hanya tempat mendokumentasi buku akan kalah dengan digital. Tak akan didatangi orang. Sehingga era digital menjadi tantangan terbesar bagi dunia pustaka. Jika perpustakaan tak dibutuhkan bakal ditinggalkan.

“Perpustakaan itu dunia kreasi. Perpustakaan jadi ruang cipta membuat buku, bukan koleksi dan dokumentasi buku,” ujarnya. Dia berharap perpustakaan menjadi ruang interaksi, rekreasi, relaksasi dan edukasi. Jika semua sudah terpenuhi, maka perpustakaan akan menjadi ruang kreasi dan inovasi. Sehingga tradisi literasi bakal bisa diteruskan.

Djoko mengkhawatirkan perpustakaan akademis di perguruan tinggi dan sekolah terancam gulung tikar. Karena tak segera berbenah dan memenuhi kebutuhan dan tuntutan zaman. Bersyukur, katanya, hadir perpustakaan pribadi dan perpusatakaan alternatif. Sebuah peradaban, katanya, akan musnah karena hancurnya kebudayaan dan literasi. Seperti yang dialami peradaban suku maya dan Alexandria.

 

Tinggalkan Pesan