Menghadirkan Pendidikan Dialogis Oleh : Wahyu Kris*

Ilustrasi pendidikan (sekolahdasar.net)

Terakota.id–Teknologi terus menyeret dunia tunggang langgang, sementara virus covid-19 masih memaksa kita di rumah saja. Pendidikan terancam menjadi pelanduk di antara dua gajah: teknologi dan covidologi. Lantas, masih relevankah menghadirkan pendidikan dialogis sebagai proses kebudayaan?

Tantangan utama membangun pendidikan berkebudayaan adalah masih ramainya masturbasi informasi di tengah masyarakat yang sedang terlanda tsunami informasi. Benar bahwa semua sudah bisa membaca, tetapi baru pada tahap membunyikan kata, bukan menemukan gagasan di balik serangkaian kata. Benar semua bisa mengakses data, tetapi baru pada tahap melahap data, bukan mengkonstruksi pengetahuan dengan limpahan data.

Masyarakat kita lebih menyukai hingar-bingar media sosial ketimbang menangkap pesan baik di balik semua yang viral. Pasca pertandingan Dewa Kipas melawan GMW Irene Sukandar, permainan catur  sedikit terangkat. Para selebritas, youtuber, dan komedian berbondong-bondong  main catur. Catur tetiba menyesaki ruang bincang, tetapi tak satupun membahas AlphaZero. Siapakah AlphaZero?

Di penghujung 1985, korporasi komputer IBM mulai mengembangkan program bermain catur Deep Blue. IBM perlu waktu 10 tahun sebelum bertanding melawan juara dunia Garry Kasparov. Catur pertama mesin melawan manusia itu berakhir dengan skor 2,5 – 3,5 untuk keunggulan Kasparov. Juara catur komputer kemudian beralih ke Stockfish pada 2016.

Masa kejayaan Stockfish hanya bertahan dua tahun sebelum akhirnya Google melahirkan AlphaZero dari rahim digitalnya. Stockfish yang mampu menganalisa 70 juta posisi per detik takluk di bawah bidak AlphaZero yang hanya mampu menganalisa 80 ribu posisi per detik. AlphaZero tak sekalipun kalah dalam 100 pertandingan. Semua berakhir menang atau seri.

Perlu di ketahui, AphaZero bukanlah progam komputer yang sudah jadi. AlphaZero adalah kecerdasan buatan yang dirancang untuk belajar sendiri. AlphaZero  bahkan tak tahu bagaimana cara bermain catur pada hari pertandingan melawan Stockfish. Sembilan jam adalah waktu yang dibutuhkan AlphaZero untuk bertransformasi dari tak tahu aturan catur menjadi juara dunia catur komputer.

AlphaZero pun melompat ke papan catur khas Jepang, Shogi.  Perangkat lunak Shogi terkemuka waktu itu adalah Elmo dengan kemampuan analisa 35 juta posisi per detik. AlphaZero yang hanya memiliki kemampuan 40 langkah per detik menjungkirbalikkan Elmo dengan 90 kemenangan dari 100 pertandingan!

Senjata utama AlphaZero adalah kecerdasan buatan yang dirancang untuk belajar. Pada awalnya, AlphaZero tak bisa main catur, lalu belajar bermain catur dan bertanding melawan dirinya sendiri sebelum bertarung hingga menjadi kampiun permainan kognitif.

Sebagai kecerdasan-buatan produk kecerdasan manusia, AlphaZero tentu saja tak paham bahwa ia dirancang untuk belajar. Namun, ia belajar dan terus belajar agar lebih baik dari sebelumnya, sesederhana itu. AlphaZero saja belajar, apalagi manusia yang diperlengkapi dengan perangkat cipta-rasa-karsa untuk belajar.

Belajar adalah kata kerja yang sanggup membedakan apakah manusia sudah menemukan hakikat dirinya atau belum. Mereka yang sudah menemu-jumpai hakikat dirinya niscaya belajar karena hakikat kemanusiaan ada pada proses sepanjang hayat bernama belajar.

Belajar memiliki beragam bentuk kata kerja, mulai dari bertukar gagasan, bertanya jawab, berdialog, hingga berdialektika. Semua kata kerja belajar itu membutuhkan manusia lain sebagai kawan belajar. Latar kontekstual juga dibutuhkan sebagai bahan diskusi. Itu sebabnya, belajar mesti dibangun di atas lambaran niat tumbuh bersama.

Dalam momentum Hari Pendidikan Nasional ini, mari renungkan bagaimana kelas-kelas di sekolah kita menghelat pembelajaran. Apabila guru masih memasak pengetahuan sendiri lalu menuangkannya ke mulut murid, maka yang belajar hanya guru sedangkan murid tidak belajar apapun. Guru bercerita ini itu sebagai yang maha tahu, murid mendengarkan sebagai yang serba tak tahu. Kesempatan bertanya jawab tidak ada, apalagi bertukar gagasan. Model kelas seperti itu menyisakan jurang menganga antara guru dan murid. Keduanya belajar di ruang yang berbeda, tersekat oleh kegagalpahaman akan hakikat belajar.

Sepanjang masa belajar daring, jurang antara ruang-guru-belajar dan ruang-murid-belajar ternyata makin lebar. Teknologi yang mestinya digunakan untuk membongkar sekat ruang belajar itu hanya dimanfaatkan sebagai pelipat jarak dan waktu. Aplikasi belajar seperti Google Classroom tak lebih dari gudang penyimpan materi ajar dan pekerjaan murid. Zoom dan GoogleMeet hanya dimanfaatkan sebagai media untuk menagih hutang tugas para murid. Guru menyalin soal dari Google, murid pun tertawa karena dengan mudah bisa menemukan jawabannya.

Tantangan pendidikan hari ini adalah bagaimana mengoptimalkan daya dukung teknologi untuk menghadirkan pembelajaran dialogis. Namun, kita perlu sadar sesadar-sadarnya bahwa teknologi hanyalah perangkat. Teknologi hebat akan berkarat tanpa manfaat jika digenggam guru tak punya niat. Teknologi hebat semakin hebat jika digenggam guru dahsyat.

Guru dahsyat adalah guru yang melambari pembelajaran dengan niat tumbuh bersama murid. Ia setara dengan murid. Ia adalah guru yang memahami perannya sebagai guru sekaligus murid. Dengan atau tanpa perangkat teknologi, guru dahsyat menghadirkan suasana dialogis dalam pembelajaran. Kelas-kelas guru dahsyat dalam pendidikan dialogis bisa menjadi miniatur bangunan kebudayaan dengan cipta-rasa-karsa sebagai pilar utamanya.

Dalam pendidikan dialogis, guru dan murid sama-sama berangkat dari titik ketidaktahuan dan terdorong oleh keingintahuan. Guru dahsyat mengajak murid membedah fakta di meja bedah yang sama pada ruang dan waktu yang sama.  Guru dan murid menggunakan pisau bedah yang berbeda, maka perbedaan temuan keduanya adalah niscaya. Di situlah proses dialog terjadi secara alami. Perbedaan dikemukakan, gagasan dipertukarkan, dan pengetahuan baru dirangkai bersama.

Hakikat dialog dalam pendidikan dialogis bukan dialog antar gagasan semata, melainkan juga percakapan manusia dengan realitas sosial. Guru dan murid mesti keluar dari kelas, mengamat-cermati ketidakberesan sosial, lalu menawarkan solusi sebagai komiten sosial pendidikan. Dalam hal ini, pengalaman belajar para pemikir pendidikan Indonesia seperti Kartini dan Ki Hajar Dewantara layak diteladan.

“Sering juga kami disuruh ikut ayah pada malam hari bila ada kebakaran atau malapetaka di kampung-kampung misalnya angin rebut, hujan lebat atau kerusakan di tepi laut agar kami dapat turut memberi pertolongan sekedarnya. … . Kadang-kadang  kami juga disuruh menanam padi, merumput, atau mengetam padi di sawah yang sedang dikerjakan oleh rakyat umum.” (Kardinah, 1958:16)

Kartini kecil ternyata sudah menghidupi pendidikan dialogis. Ia bersama dua saudarinya diajak berdialog dengan realitas sosial di luar tembok keraton. Sedikit berbeda, Ki Hajar Dewantara lebih banyak menghidupi pendidikan dialogis dalam rupa tukar gagasan.  Ia menekuri pemikiran Pestalozzi, Froebel,  Montessori, dan Tagore, sebelum akhirnya mengkonstruksi mazhab pendidikan Nusantara: Taman Siswa.

Sebagaimana layaknya taman, pendidikan dialogis merayakan keberagaman sebagai hadiah semesta. Sisi  kemanusiaan guru dan murid dikedepankan.  Kerendahan hati adalah prasyarat utama. Kapasitas berpikir kritis dilipatgandakan dalam pembelajaran saling memanusiakan. Guru saling memanusiakan dengan sesama guru dan murid, murid saling memanusiakan dengan murid.

Di dalam proses saling memanusiakan itulah, segala daya cipta, rasa, dan karsa digali-kembangkan bersama secara utuh dan berkelanjutan. Begitulah pendidikan dialogis menggemakan pendidikan sebagai proses kebudayaan.

*Kepala SMPK Pamerdi Kabupaten Malang. Penulis buku Mendidik Generasi Z dan A dan Secangkir Kopi Inspirasi.

**Setiap artikel menjadi tanggungjawab penulis. Pembaca Terakota.id bisa mengirim tulisan reportase, artikel, foto atau video tentang seni, budaya, sejarah dan perjalanan melalui surel : redaksi@terakota.id. Subjek : Terasiana_Nama_Judul. Tulisan yang menarik akan diterbitkan di kanal terasiana.

Tinggalkan Komentar

Silakan tulis komentar anda
Silakan tulis nama anda di sini